Esensi Pendekatan Komunikatif

12 09 2008

Para ahli bahasa berbeda pendapat tentang pengertian pendekatan komunikatif. Sebagian mereka berpendapat bahwa pendekatan komunikatif bukanlah sebuah pendekatan sempurna yang memiliki karakteristik tersendiri dan pembelajaran yang jelas, akan tetapi merupakan percampuran strategi-strategi pengajaran yang memiliki tujuan tertentu yaitu membelajarkan pembelajar untuk menggunakan bahasa dan mengkonstruknya sendiri, jadi bukan hanya terpaku pada struktur tata bahasanya.[1]

Pendekatan komunikatif merupakan pendekatan yang memandang bahasa lebih tepat dilihat sebagai sesuatu yang berkenaan dengan apa yang dapat dilakukan atau ditindakkan dengan bahasa (fungsi) atau berkenaan dengan makna apa yang dapat diungkapkan melalui bahasa (nosi), tetapi bukannya berkenaan dengan butir-butir tata bahasa. Dengan perkataan lain, kita menggunakan bahasa untuk meminta maaf, menyapa, membujuk, menasehati, memuji, atau untuk mengungkapkan makna tertentu, tetapi tidak untuk membeberkan kategori-kategori gramatikal yang ditemukan oleh para ahli bahasa.[2] Hal ini juga didukung oleh Sumardi, bahwa pendekatan ini disusun atas dasar fungsi dan kebutuhan pembelajar, dengan harapan pembelajar dapat menggunaka bahasa untuk berkomunikasi dalam situasi yang sebenarnya dan bukan komunikasi yang dibuat-buat.[3]

Sementara menurut Savignon dalam bukunya Communicative Competence: Theory and Classroom Practice, sebagaimana dikutip oleh Parera bahwa pendekatan komunikatif yaitu pemberian aktifitas penggunaan bahasa sesuai dengan kaidah-kaidah tata bahasa, atau pembelajaran bahasa dari struktur permukaan tata bahasa ke makna (from surface gramatical structure to meaning).[4]

Pendekatan komunikatif tidaklah menafikan keberadaan struktur bahasa dalam pembelajaran secara total, namun pendekatan ini memberikan peran unsur-unsur komunikatif yang lebih banyak dibanding unsur-unsur struktur dalam pembelajaran bahasa. Sesuai dengan apa yang diungkapkan Wilkins dan Widdowson bahwa fungsi dan nosi selalu dilandasi dengan ukuran gramatikal dan situasi yang ada. Struktur bahasa tidak selamanya bisa digantikan oleh pandangan fungsi, bahkan menurut Wilkins sendiri sebagai orang yang membidani pendekatan ini juga mengajak para pengikutnya agar apa yang dinamakan nosi dan fungsi hendaknya tidak mendorong suatu posisi yang ekstrim ke posisi ekstrim lainnya. Tetapi nosi dan fungsi hanya sekedar ”…to change the balance of priorities by emphasizing function and meanings through language” (…mengubah keseimbangan prioritas dengan menekankan fungsi dan makna melalui bahasa).[5] Jadi dari pelopornya sendiri bermaksud untuk memberikan penekanan yang wajar antara tata bahasa dan maknanya dalam konteks.

Untuk memperjelas pemahaman tentang pendekatan komunikatif ini, Nababan dalam bukunya Metodologi Pengajaran Bahasa, mengemukakan sejumlah ciri yang melekat pada pendekatan komunikatif antara lain: 1) adanya aktifitas komunikasi yang sebenarnya (realistis); 2) adanya aktifitas komunikasi yang penuh kebermaknaan; 3) adanya silabus komunikatif yang disiapkan telah melalui analisis kebutuhan pembelajar; 4) adanya pembelajaran berpusat kepada pembelajar; 5) adanya peran guru sebagai fasilitator, penyuluh, penganalisis kebutuhan pembelajar dan manager kelompok; 6) peran materi pengajaran adalah untuk mendukung aktifitas komunikatif pembelajar yaitu materi yang berbasis teks (text based), berbasis tugas (task based), dan berbasis bahan otentik (realia.).[6]

Komunikasi yang realistis akan terjadi dalam pergaulan sehari-hari dan bukan dibuat-buat,[7] sebagaimana yang terjadi pada pendekatan audiolingual yang menitikberatkan pembelajaran bahasa pada pembiasaan pengucapan pola-pola latihan. Dengan aktifitas komunikasi yang realistis dengan bahasa yang dipelajari baik di sekolah, rumah maupun lingkungan yang lebih luas, maka akan tercipta hubungan komunikasi yang penuh kebermaknaan yakni tidak ada pembicaraan yang kurang efektif ataupun tanpa makna. Selain itu, komunikasi yang efektif dalam pembelajaran bahasa akan tercipta dengan baik bila materi ajar dan sebagainya telah melalui analisis kebutuhan pembelajar, artinya kebutuhan komunikasi pembelajar teridentifikasi lebih awal kemudian berdasarkan identifikasi itulah seorang guru menelurkannya dalam pembelajaran bahasa.[8]

Hal ini menujukkan bahwa pembelajaran harus berpusat kepada pembelajar, yakni proporsionalitas peran antara pembelajar dan guru akan lebih banyak peran aktifitas pembelajar dalam pembelajaran bahasa, oleh karena itu, pembelajar tidak lagi menunggu, menerima apalagi hanya menghafal kaidah-kaidah bahasa yang diajarkan tanpa ekplorasi dan konstruksi dari pembelajar itu sendiri terhadap pengetahuan dan praktek berbahasa yang diajarkan.[9] Namun semua itu harus didukung oleh materi ajar yang sesuai dengan pendekatan komunikatif, baik berupa teks (dialog dan bacaan bebas), tugas (bercerita tentang kehidupan sehari-hari pembelajar, menceritakan kembali hasil perjalanan ke suatu tempat dengan redaksi bahasa sendiri dan lain-lain) maupun otentik (koran, majalah, kartu identitas, rekaman suara maupun gambar dan lain-lain).[10]

Pendekatan ini berorientasi penuh pada fungsi bahasa sebagai alat komunikasi antar sesama. Untuk mengungkapkan berbagai ungkapan dalam aktifitas komunikasi yang riil, seseorang harus mengetahui sejumlah fungsi bahasa agar ia dapat mengungkapkan tuturan bahasa sesuai dengan siapa, kapan, dan bagaimana bertutur. Lyon mengemukakan ada tiga fungsi bahasa antara lain a) fungsi deskriptif bahasa yaitu untuk menyampaikan informasi faktual. Ini merupakan tipe informasi yang dapat dinyatakan atau disangkal dalam beberapa hal bahkan dapat diuji, contoh: ”dia pasti sudah tidak tidur nyenyak di kamar”, b) fungsi ekspresif bahasa yaitu untuk menyediakan informasi mengenai sang pembicara, perasaannya, pilihannya, prasangkanya, dan pengalaman masa lalunya, contoh ucapan: ”saya tidak akan mengundang mereka lagi”. c) fungsi sosial bahasa yaitu melayani, memantapkan serta memelihara hubungan-hubungan sosial antara orang-orang., contoh: ”cukup, Tuan?” digunakan oleh seorang pelayan suatu restoran untuk menandai hubungan sosial tertentu antara sang pelayan dan tamu. Sang pelayan menempatkan sang tamu dalam hubungan peran yang lebih tinggi.[11]

Sementara Halliday mengungkapkan fungsi-fungsi bahasa seperti a) fungsi instrumental; menyatakan keperluan atau pelayanan. Contoh: “Saya mau….”, “Beri saya……”, b) fungsi regulasi; menyatakan perintah atau permintaaan untuk mengawasi perilaku atau tindak tanduk orang lain. Contoh: ”kerjakan itu!”, ”mari kita pergi”. c) fungsi interaksional; bahasa digunakan untuk berinteraksi, untuk bergaul: menyapa, memanggil nama, memberi reaksi atau responsi terhadap orang lain. Contoh: “Lihat sini….”, “Ini buat kamu….”, d) fungsi personal; bahasa digunakan untuk mengekspresikan kekhasan, keunikan dan kesadaran diri sendiri seperti perasaan pribadi, minat, kebencian, keluhan, rasa heran dan gembira, contoh: “Saya akan pergi….”, “saya sangat…”, e) fungsi heuristik; bahasa yang digunakan untuk bertanya dan menjawab pertanyaan. Contoh: “Katakan kepada saya mengapa…?”, “Apa ini?”, “Siapa itu?”. f) fungsi imajinatif; bahasa yang digunakan seseorang untuk menciptakan lingkungan sendiri, membuat cerita, beramain. g) fungsi informatif; bahasa yang digunakan untuk memberikan informasi yang belum diketahui oleh orang lain. Contoh: “Ada yang akan saya ceritakan kepadamu”. “Saya punya….baru.”[12]

Fungsi-fungsi bahasa yang dimaksudkan dalam pendekatan komunikatif tidak lain tujuan pembelajarannya adalah untuk mengembangkan kompetensi komunikatif (القدرة الإتصالية) pembelajar. Konsep kemampuan komunikatif pertama kali dimunculkan sekitar 30-an tahun yang lalu oleh Dell Hymes (1972) seorang pakar sosiolinguistik, sebagai respon terhadap keterbatasan konsep kompetensi dan performansi model bahasa Chomsky[13]. Konsep Hymes ini juga kemudian lebih jauh dikembangkan oleh  Canale dan Swain ditahun 1980-an. Menurut Canale, kompetensi komunikatif ialah seperangkat pengetahuan dan kemampuan yang dibutuhkan untuk tujuan komunikasi. Ada empat komponen kompetensi komunikatif yaitu: 1) kompetensi gramatikal 2) kompetensi sosial-kultural, 3) kompetensi wacana, dan 4) kompetensi strategis.[14]

Menurut Candlin dan Widdowson dan diikuti oleh beberapa ahli bahasa di Eropa melihat bahwa menjadi sebuah kebutuhan untuk lebih memfokuskan pembelajaran bahasa kepada kecakapan atau keahlian berkomunikasi dari pada pembelajaran bahasa yang berkutat pada penguasaan struktur belaka,[15] pembelajaran bahasa dengan pendekatan komunikatif dianggap lebih relevan dengan fungsi bahasa itu sendiri yakni untuk komunikasi antar sesama, dengan kata lain bahwa pengembangan pembelajaran bahasa baik bahasa Inggris ataupun bahasa Arab dewasa ini seyogyanya diarahkan untuk kemampuan berbahasa peserta didik secara aktif.

Kegiatan komunikasi bahasa asing termasuk bahasa Arab memiliki kategori tertentu dalam kerangka pendekatan komunikatif. Littlewood dalam bukunya Communicative Language Teaching, mengkategorikan prosedur metodologis pembelajaran bahasa dalam dua kategori dan masing-masing dua sub kategori sebagaimana dikutip Parera yaitu: 1) kegiatan prakomunikasi: (i) kegiatan struktural, (ii) kegiatan kuasikomunikasi, 2) kegiatan komunikasi: (i) komunikasi fungsional, (ii) interaksi sosial.[16]

Penjenjangan komunikasi seperti dikemukakan Littlewood di atas, menempatkan pembelajaran yang bermakna dan mengaitkan pembelajaran kebahasaan atau kegiatan struktural dan kegiatan komunikasi dalam kelas antar sesama peserta atau sesuai dengan buku. Inilah yang dikatakan sebagai kegiatan prakomunikasi. Sedangkan penjenjangan komunikasi sudah mulai beranjak dari kegiatan dalam kelas ke kegiatan komunikasi yang real dan makin lama makin mendekati masyarakat pemakai bahasa. Kemudian lahirlah kegiatan interaksi sosial.[17] Kegiatan komunikasi yang terjadi secara natural dalam interaksi sosial semacam itu dapat dikatakan sebagai gambaran aplikasi pendekatan komunikatif yang berhasil dan realistis karena penggunaan bahasa sesuai fungsinya yakni komunikasi yang sebenarnya.

Aktifitas berbahasa seseorang yang terjadi saat Interaksi sosialnya dengan orang lain merupakan bentuk komunikatif yang nyata dan sebenarnya, Thua’imah mengungkapkan bahwa pendekatan komunikatif terbangun dari komunikasi yang terjadi dalam kehidupan yang nyata atau dengan kata lain seseorang memperoleh kemampuan bahasanya dengan alamiah dan bukan melalui pola-pola pembiasaan dan penguatan atau pengulang-ulangan ungkapan.[18]

Dari paparan di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa hakekat pendekatan komunikatif baik dalam pembelajaran bahasa Arab ataupun bahasa Inggris yaitu pendekatan yang memandang bahasa sebagai sebuah gejala sosial yang berfungsi sebagai alat komunikasi antar individu dalam masyarakat dengan berbagai konteks yang melingkupinya. Pendekatan ini lebih menekankan pada fungsi dan makna sekaligus dalam berbahasa, dan bukan terfokus pada tata bahasa yang seringkali tidak terkait dengan makna yang mau diungkapkan. Pendekatan ini mengajarkan bagaimana seseorang memiliki kompetensi komunikatif agar bisa menggunakan bahasa sesuai dengan fungsinya sebagai alat komunikasi sesama. Untuk lebih memahami tentang kompetensi komunikatif ini, sub bab berikut akan menguaraikan hal tersebut secara mendetail.



[1] Rusydi Ahmad Thu‘aimah dalam Ta‘lîm al-Lughah, h. 118

[2] Bambang Kaswanti Purwo mengatakan: ahli pengajaran bahasa seperti Roberts (1982), Finochiaro dan Brumfit (1983) dan Littlewood (1985) beranggapan bahwa gerakan ’baru’ ini lebih berurusan dengan penyusunan silabus dan bahan pengajaran dari pada dengan metode pengajaran.  Bambang Kaswanti Purwo, Pragmatik dan Pengajaran Bahasa, (Yogyakarta: Kanisius, 1990), h. 50

[3] Mulyanto Sumardi, Berbagai Pendekatan dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1996), cet. II, h. 12-13

[4] Jose Daniel Parera, Linguistik Edukasional, (Jakarta: Penerbit Airlangga, 1997) h. 76.   

[5] Katharina E. Sukamto (Peny.), Rampai Bahasa Pendidikan, dan Budaya: Kumpulan Esai Soenjono Dardjowidjojo (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2003), h. 7.

[6] Lihat Sri Utari Subyakto Nababan, Metodologi Pengajaran, h. 70-71, bandingkan dengan Mary Finochiaro dan Cristopher Brumfit, Functional Notional Approach: From Theory to Practice, (Oxford: Oxford University Press, 1983), h. 14 bahwa pendekatan ini: 1) mengembangkan keterampilan komunikasi pembelajar, 2) menekankan pada makna secara utuh dan fungsional, penyajian bahan tidak terpotong-potong dalam satuan-satuan lepas, 3) berorientasi pada konteks, 4) mempertajam kepekaan sosial, 5) belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi, 6) komunikasi yang efektif merupakan tuntutan, 7) latihan komunikasi dimulai sejak permulaan belajar bahasa, 8) kompetensi komunikatif merupakan tujuan utama, 9) urutan pembelajaran tidak selalu linear, didasarkan atas kebutuhan, 10) pembelajar sebagai pusat belajar, 11) kesalahan berbahasa merupakan hal yang wajar, 12) materi senantiasa melibatkan aspek ahli bahasa, makna fungsional, dan makna sosial. Lihat juga Jack C Richard dan Theodore S. Rodgers, Approaches and Methods In Language Teaching, (New York: Cambridge University Press, 1992), h. 73-80.

[7] Lihat Rusydi Ahmad Thu‘aimah dalam Ta‘lîm al-Lughah, h. 133.

[8] Henry Guntur Tarigan, Pengajaran Kompetensi Komunikatif, (Bandung: Angkasa, 1990), h. 100. Lihat juga Jack C Richards dan Theodore S. Rodgers, Approaches and Methods, h. 78

[9] Jack C Richards dan Theodore S. Rodgers, Approaches and Methods, h. 76-77

[10] Lihat Ahmad Fuad Effendy, Metodologi Pengajaran, h. 69-70

[11] Henry Guntur Tarigan, Pengajaran Kompetensi Komunikatif, (Bandung: Angkasa, 1990), h. 66-67.

[12] Henry Guntur Tarigan, Pengajaran Kompetensi Komunikatif, h. 69-70

[13] Chomsky berpandangan bahwa kemampuan berbahasa ada dua, kompetensi dan performansi; Kompetensi (الكفاية/القدرة) adalah kemampuan ideal yang dimiliki oleh seorang penutur, menggambarkan pengetahuan tentang system bahasa yang sempurna (sistem kalimat, sistem kata, bunyi, dan makna) sedangkan performansi (الآداء) adalah ujaran-ujaran yang bisa didengar dan dibaca, merupakan tuturan seseorang apa adanya, tanpa dibuat-buat. Performansi bisa saja tidak sempurna, maka tata bahasa hendaknya memberikan kompetensi dan bukan performansi. Chomsky lebih melihat bahasa sebagai gejala psikoliguistik sedangkan Hymes melihat bahasa tidak hanya gejala psikolinguistik namun juga sosiolinguistik. Lihat Jack C. Richards dan Theodore S. Rodgers, Approaches and Methods, h. 69. Lihat juga Ahmad Fuad Effendy, Metodologi Pengajaran, h. 56 

[14] Jason Beale, Is Communicative Language Teaching A Thing Of The Past?, diakses dari http://www.jasonbeale.com/essaypages/clt_essay.html. Tanggal 23 Februari 2007 jam 19.00 WIB. Bandingkan denga Nuril Huda, Language  Learning and Teaching: Issues and Trends (Malang: IKIP Malang, 199), h. 32-33. Lihat juga Rusydi Ahmad Thu‘aimah dalam Ta‘lîm al-Lughah, h. 120. (penjelasan lebih mendalam tentang empat komponen komunikatif ada pada poin 3 bab ini tentang kompetensi dan performansi).

[15] Jack C Richards dan Theodore S. Rodgers, Approaches and Methods, h. 64.

[16] Jose Daniel Parera, Linguistik Edukasional, h. 78. Menurut Nababan, Aktifitas-aktifitas prakomunikatif ialah aktifitas-aktifitas yang belum dapat dinamakan komunikatif benar-benar, karena belum ada unsur yang diperlukan agar suatu komunikasi itu disebut wajar dan alamiah, yakni tidak adanya kekosongan informasi “information gap“. Aktififitas-aktifitas prakomunikatif bisa berupa: a) Teknik dialog, b) Dialog dengan gambar, c) Dialog terpimpin, d) Dramatisasi suatu tindakan, e) Penggunaan gambar orang yang mencerminkan profesinya, f) Teknik tanya jawab, g) Menyelesaikan kalimat, paragraf atau cerita pendek. Sedangkan aktifitas komunikatif dapat berupa a) Penyajian percakapan seperti dalam CLL (Community Language Learning: Belajar bahasa secara berkelompok/bersama), b) Pemberian tugas kepada para pelajar, c) Fomula-formula sosial dan dialog-dialog, d) Tugas-tugas yang berorientasi kepada masyarakat, e) Aktifitas-aktifitas yang bertujuan untuk memecahkan problem-problem yang ada. Sri Utari Subyakto Nababan, Metodologi Pengajaran, h. 175-178.

[17] Jose Daniel Parera, Linguistik Edukasional, h. 78

[18] Lihat Rusydi Ahmad Thu‘aimah dalam Ta‘lîm al-Lughah, h. 121.

About these ads

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: