POLIGAMI DALAM PERSPEKTIF ISLAM

12 09 2008

POLIGAMI DALAM SOROTAN

 

A.     Pendahuluan

Ketika mengutus Muhammad Saw. Sebagai penutup pintu kenabian, Allah mengharamkan zina dan ragam hubungan seksual lain yang sejenis. Syariat islam juga menghapus peraturan serta dapat yang memperlakukan perempuan seperti barang dagangan, hewan, atau budak. Sedangkan poligami tidak diharamkan secara mutlak namun islam tidak membiarkan laki-laki bebas melakukan poligami dengan jumlah istri tak terbatas. Islam juga tidak membiarkan perbuatan-perbuatan zalim yang dilakukan laki-laki. Islam membatasi jumlah istri yang boleh dinikahi sesuai dengan kemaslahatan keturuan, kondisi masyarakat, serta kemampuan maksimal laki-laki dalam melakukan tugasnya yaitu empat. Itupun dengan syarat mempunyai kesanggupan untuk memberi nafkah serta bersikap adil diantara mereka. Syarat ini diberikan untuk mencegah kezaliman laki-laki sebisa mungkin. Syarat tersebut terkadang seseorang memilih monogamy dari pada poligami karena poligami dilakukan kalau memang benar-benar terdesak.

Sebelum membahas poligami dengan berbagai kontroversinya, penulis akan memulai pembahasan dengan mengangkat masalah perkawinan baik menyangkut makna, tujuan dan prinsip-prinsip yang harus ada dalam perkawinan. Kemudian baru beranjak pada pembahasan poligami baik yang menyangkut Makna, fakta sejarah, Landasan Teologis dan Hukum Poligami Dalam Islam serta realitas sosial.    

 

B.     Makna Perkawinan dan Tujuannya

1.      Makna Perkawinan

Perkawinan merupakan suatu ketentuan dari ketentuan-ketentuan Allah di dalam menjadikan dan menjadikan alam ini, perkawinan bersifat umum, menyeluruh, berlaku tanpa kecuali baik bagi manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Ketentuan-ketentuan ini telah Allah tuangkan didalam firman Allah SWT. antara lain :

uqèdur “Ï%©!$# £‰tB uÚö‘F{$# Ÿ@yèy_ur $pkŽÏù zÓśºuru‘ #\»pk÷Xr&ur ( `ÏBur Èe@ä. ÏNºtyJ¨V9$# Ÿ@yèy_ $pkŽÏù Èû÷üy`÷ry— Èû÷üuZøO$# ( ÓÅ´øóムŸ@øŠ©9$# u‘$pk¨]9$# 4 ¨bÎ) ’Îû y7Ï9ºsŒ ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 tbr㍩3xÿtGtƒ ÇÌÈ     

Artinya “Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan[1], Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (Q.S. Ar-Ra’da : 3)

 

Salah satu keutamaan manusia dibanding dengan makhluk Allah yang lainnya adalah pengangkatannya sebagai Khalifah Fil Ardi (Pengelola Bumi) yang diserahi tugas untuk mengelola kehidupan di planet bumi ini. Dalam rangka mensukseskan tugas luhur tersebut manusia dibolehkan bahkan dianjurkan untuk menikah antara lain agar keberlangsungan generasi manusia tetap terjamin sampai hari kiamat.[2] Keberlangsungan yang dimaksud tentunya senantiasa berada dalam bingkai ikatan yang sah, kuat dan suci (ميثاقا غليظا) disertai aturan aturan agama (Syari’at).

Perkawinan atau pernikahan secara etimologi berarti “persetubuhan“ ada pula yang mengartikan “perjanjian” (al ‘aqdu) sedangkan secara terminology pernikahan menurut para fuqaha seperti Al Malibari misalnya yaitu “akad yang mengandung kebolehan persetubuhan dengan kata nikah atau tazwij”[3] atau definisi yang dikemukakan oleh Muhammad Abu Zahrah yaitu “akad yang mengakibatkan hukum halal pergaulan antara lelaki dengan perempuan dan pertolongan serta pembatasan milik, hak dan kewajiban mereka”[4]. Sedangkan menurut Abu Hanifah “aqad yang dikukuhkan untuk memperoleh kenikmatan dari seorang wanita yang dilakukan dengan sengaja” kemudian menurut Imam Hambali “aqad yang didalamnya terdapat lafaz pernikahan secara jelas agar diperbolehkan bercampur”

Jadi dengan memperhatikan sejumlah definisi pernikahan diatas, dapat disimpulkan bahwa penikahan itu adalah “Melakukan suatu aqad atau perjanjian untuk mengikatkan diri antara seorang laki-laki dan wanita untuk menghalalkan hubungan kelamin antara kedua belah pihak dengan dasar sukarela dan keridoan kedua belah pihak untuk mewujudkan kebahagiaan hidup berkeluarga yang diliputi rasa kasih sayang dan ketenteraman dengan cara-cara yang diridhoi Allah.[5]

Pengertian perkawinan (pernikahan) yang telah kami paparkan diatas juga tidak jauh berbeda secara prinsip dengan pengertian pernikahan yang ada di pasal 1 UUP 1974 sebagai berikut”ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan mebentuk keluarga (rumah tangga) yang bahgia dan kekal berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa”[6].

Berangkat dari sejumlah definisi tentang perkawinan tersebut maka dapat dipahami bahwa akad atau transaksi yang dilakukan semestinya melibatkan dua pihak yang setara, sehingga mencapai suatu kata sepakat atau konsensus. Tidak salah jika didefinisikan bahwa perkawinan adalah sebuah akad atau kontrak yang mengikat dua pihak yang setara yaitu laki-laki dan perempuan yang masing-masing telah memenuhi persyarataan berdasarkan hukum yang berlaku atas dasar kerelaan untuk hidup bersama dalam satu keluarga. Jadi perkawinan dalam Islam itu hendaknya menjadi awal (gerbang) menuju kehidupan rumah tangga yang bahagia (mawaddah wa rahmah)tanpa ada yang merasa lebih dari yang lain apalagi sampai ada pelecehan terhadap pasangan hidup terutama yang menimpa pihak perempuan baik istri maupun anak perempuan karena mereka seringkali masih dianggap sebagai orang nomor dua (second human being) di dalam keluarga.

Hak-hak perempuan seringkali terabaikan baik yang menyangkut pendidikan, peran publik, posisi dalam hukum (baik agama maupun pemerintahan) sampai pada posisinya yang seringkali terjebak dalam kondisi yang tidak menguntungkan sebagai obyek laki-laki dalam rumah tangga kalau dalam istilah sekarang perempuan hanya berkutat “didapur, disumur dan dikasur”. Hal ini terjadi karena memang dalam masyarakat kita masuh banyak yang mengakui, kondisi struktur masyarakat patriarki tradisional yang cenderung membedakan peran dan fungsi laki-laki dan perempuan atas dasar kemapuan intelektual dan biologisnya sehingga berdampak langsung terhadap kehidupan suatu rumah tangga dalam masyarakat, tentunya tidak akan dijumpai keseimbangan peran antara suami dan istri, suami cenderung mendikte dan mau menang sendiri sementara perempuan akan merasa tertekan sehingga pada akhirnya kehidupan rumah tangga sakinah (tenteram) seperti yang digambarkan oleh Al Qur’an (Q.S. Ar-Rum, 21) hanyalah sia-sia belaka.

Sejumlah kajian mengenai ayat-ayat yang membahas soal perkawinan menyimpulkan bahwa perkawinan dalam Islam dibangun atas lima prinsip dasar seperti yang dikatakan oleh Prof. Dr. Siti Musdah Mulia, dalam bukunya “Islam Menggugat Poligami” yaitu : Pertama: Prinsip kebebasan dalam memilih jodoh bagi laki-laki dan perempuan sepanjang tidak melanggar ketentuan syari’at; Kedua: prinsip Mawaddah Wa Rahmah (cinta dan kasih sayang); Ketiga: prinsip saling melengkapi dan melindungi; Keempat: Mu’asyarah bil ma’ruf (pergaulan yang sopan dan santun); Kelima: prinsip monogamy (nikah yang hanya dengan 1 istri),[7] prinsip yang kelima ini adalah kebalikan dari prinsip poligami yang menurut sebagian pakar dianggap sebagai prinsip dasar juga dalam perkawinan.

2.      Tujuan Perkawinan

Setelah mengetahui prinsip-prinsip dasar perkawinan dalam Islam, maka kita juga perlu dan harus mengetahui arah dan tujuan perkawinan yang kita lakukan sehingga nantinya tidak tersesat dan bingung dalam mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga, ini perlu karena telah banyak bukti dan fakta yang kita temukan dalam realitas sosial kita sementara ini yang baru saja mengucapkan janji setia sehidup semati dalam ikatan pernikahan yang suci didepan wali dan saksi, kemudian tidak berapa lama jatuh talak terhadap istri, entah karena kesalahan istri ataupun suami tapi yang jelas kondisi ini menunjukkan bahwa banyak pasangan suami istri yang belum memiliki cukup bekal pengetahuan dan pemahaman tentang konsep kehidupan rumah tangga yang digambarkan dalam Al Qur’an serta interpretasi yang keliru terhadap teks-teks keagamaan yang sepertinya melebihkan posisi laki-laki daripada perempuan dalam segala hal yang kemudian diperkuat oleh penafsiran-penafsiran sebagian tokoh agama yang cenderung menjadikan posisi perempuan selalu pasif dan laki-laki selalu aktif (instability function) dan pada akhirnya perceraian menjadi jalan satu-satunya yang ditempuh walaupun hal itu dibenci oleh Allah SWT.

Adapun tujuan perkawinan yang dapat dirumuskan antara lain seperti yang dikatakan oleh Ny. Soemiyati, SH. dalam bukunya “Hukum Perkawinan Islam dan Undang-undang Perkawinan” yaitu “Untuk memenuhi tuntutan hajat manusia, berhubungan antara laki-laki dan perempuan dalam rangka mewujudkan suatu keluarga yang bahagia dengan dasar cinta dan kasih sayang, untuk memperoleh keturunan yang sah dalam masyarakat dengan mengikuti ketentuan-ketentuan yang telah diatur oleh syari’at [8].

Sejalan dengan rumusan tersebut di atas, M. Ali Hasan[9] mengatakan : sedikitnya ada 4 macam yang menjadi tujuan perkawian yaitu :

a.       Menenteramkan Jiwa

Bila sudah terjadi ‘aqad nikah, si wanita merasa jiwanya tenteram karena merasa ada yang melindungi dan ada yang bertanggung jawab dalam rumah tangga. Si suami pun merasa tenteram karena ada pendampingnya untuk mengurus rumah tangga, tempat menumpahkan perasaan suka dan duka serta menjadi teman musyawarah dalam menghadapi berbagai persoalan, Allah berfirman :

ô`ÏBur ÿ¾ÏmÏG»tƒ#uä ÷br& t,n=y{ /ä3s9 ô`ÏiB öNä3Å¡àÿRr& %[`ºurø—r& (#þqãZä3ó¡tFÏj9 $ygøŠs9Î) Ÿ@yèy_ur Nà6uZ÷t/ Zo¨Šuq¨B ºpyJômu‘ur 4 ¨bÎ) ’Îû y7Ï9ºsŒ ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 tbr㍩3xÿtGtƒ ÇËÊÈ     

Artinya “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (Q.S. Ar-rum, 21)

Apabila dalam suatu rumah tangga tidak terwujud rasa kasih sayang, tidak mau berbagi suka dan duka maka berarti tujuan rumah tangga tidak sempurna kalau tidak dapat dikatakan telah gagal sebagai akibatnya bisa saja terjadi suami istri mendambakan kasih sayang dari pihak luar.

b.      Mewujudkan (melestarikan) keturunan 

Biasanya sepasang suami istri tidak ada yang tidak mendambakan anak turunan untuk meneruskan kelangsungan hidup, anak turunan diharapkan dapat mengambil alih tugas, perjuangan dan ide-ide yang pernah tertanam dalam jiwa suami istri, fitrah yang sudah ada dalam diri manusia ini diungkapkan oleh Allah dalam firman-Nya :

ª!$#ur  Ÿ@yèy_ Nä3s9 ô`ÏiB ö/ä3Å¡àÿRr& %[`ºurø—r& Ÿ@yèy_ur Nä3s9 ô`ÏiB Nà6Å_ºurø—r& tûüÏZt/ Zoy‰xÿymur Nä3s%y—u‘ur z`ÏiB ÏM»t6Íh‹©Ü9$# 4 È@ÏÜ»t6ø9$$Î6sùr& tbqãZÏB÷sムÏMyJ÷èÏZÎ/ur «!$# öNèd tbrãàÿõ3tƒ ÇÐËÈ     

Artinya : “Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka Mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah ?” (Q.S. An-Nahl, 72).

 

Berdasarkan ayat di atas, seperti yang telah kami paparkan sebelumnya bahwa Allah menciptakan manusia ini berpasangan supaya berkembang biakmengisi bumi ini dan memakmurkannya atas kehendak Allah, naluri manusia pun menginginkan demikian. Inilah barangkali yang bisa dikatakan tujuan pokok dari sebuah perkawinan karena bagaimanapun manusia normal akan merasakan kegelisahan, apabila perkawinannya tidak menghasilkan turunan, rumah tangga terasa sepi, hidup tidak bergairah karena pada umumnya orang rela bekerja keras adalah untuk kepentingan keluarga dan anak cucunya.

c.       Memenuhi kebutuhan biologis.

Pemenuhan kebutuhan biologis itu harus diatur melalui lembaga perkawinan supaya tidak terjadi penyimpangan , tidak lepas bebas begitu saja sehingga norma-norma adat istiadat dan agama dilanggar. Kecenderungan cinta lawan jenis dana hubungan seksual sudah ada tertanam dalam diri manusia atas kehendak Allah. Kalau tidaj ada kecenderungan dan keinginan untuk itu tentu manusia tidak akan berkembang biak, sedangkan Allah menghendaki demikian sebagaimana firman-Nya :

$pkš‰r¯»tƒ â¨$¨Z9$# (#qà)®?$# ãNä3­/u‘ “Ï%©!$# /ä3s)n=s{ `ÏiB <§øÿ¯R ;oy‰Ïnºur t,n=yzur $pk÷]ÏB $ygy_÷ry— £]t/ur $uKåk÷]ÏB Zw%y`͑ #ZŽÏWx. [ä!$|¡ÎSur 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# “Ï%©!$# tbqä9uä!$|¡s? ¾ÏmÎ/ tP%tnö‘F{$#ur 4 ¨bÎ) ©!$# tb%x. öNä3ø‹n=tæ $Y6ŠÏ%u‘ ÇÊÈ  

Artinya : “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya[10] Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain[11], dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (Q.S. An-Nisa’, 1)

 

Dari ayat tersebut di atas dapat dipahami, bahwa tuntutan pengembangbiakan dan tuntutan biologis telah dapat terpenuhi sekaligus. Namun hendaknya diingat bahwa perintah “bertaqwa” kepada Allah diucapkan 2 kali dalam ayat tersebut supaya tidak terjadi penyimpangan dalam hubungan seksual dan anak turunan juga akan menjadi anak turunan yang baik-baik.

d.      Latihan Memikul Tanggung Jawab

Di dalam ajaran Islam suami adalah sebagai kepala keluarga dan mempunyai kewajiban menafkahi istri dan anak-anaknya[12], sebagaimana firman Allah :

ãA%y`Ìh9$# šcqãBº§qs% ’n?tã Ïä!$|¡ÏiY9$# $yJÎ/ Ÿ@žÒsù ª!$# óOßgŸÒ÷èt/ 4’n?tã <Ù÷èt/ !$yJÎ/ur (#qà)xÿRr& ô`ÏB öNÎgÏ9ºuqøBr& 4 àM»ysÎ=»¢Á9$$sù ìM»tGÏZ»s% ×M»sàÏÿ»ym É=ø‹tóù=Ïj9 $yJÎ/ xáÏÿym ª!$# 4 ÓÉL»©9$#ur tbqèù$sƒrB  Æèdy—qà±èS  ÆèdqÝàÏèsù £`èdrãàf÷d$#ur ’Îû ÆìÅ_$ŸÒyJø9$# £`èdqç/ΎôÑ$#ur ( ÷bÎ*sù öNà6uZ÷èsÛr& Ÿxsù (#qäóö7s? £`ÍköŽn=tã ¸x‹Î6y™ 3 ¨bÎ) ©!$# šc%x. $wŠÎ=tã #ZŽÎ6Ÿ2 ÇÌÍÈ     

Artinya : “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri[13] ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)[14]. wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya[15], Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya[16]. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.” (Q.S. An-Nisa’, 34).

 

Allah menciptakan manusia di dalam kehidupan ini, tidak hanya untuk sekedar makan, minum,, hidup kemudian mati seperti ynag dialami makhluk lainnya. Lebih jauh lagi, manusia diciptakan supaya berfikir, menentukan, mengatur, mengurus segala persoalan, mencari dan meberi manfaat untuk umat.

Sesuai dengan maksud penciptaan manusia dengan segala keistimewaannya berkarya, maka manusia itu tidak pantas bebas dari tanggung jawab. Manusia bertanggung jawab dalam keluarga, masyarakat dan negara. Latihan itu pula dimulai dari ruang lingkup yang terkecil lebih dahulu (keluarga) kemudian baru meningkat kepada yang lebih luas lagi.[17]

3.      Prinsip-Prinsip Dasar Perkawinan

Seperti yang telah kami paparkan sebelumnya bahwa perkawinan dalam Islam itu di bangun diatas 5 prinsip dasar yang mesti ada yang akan kami jelaskan satu persatu sebagai entry point untuk masuk dalam pembahasan poligami yang menjadi tema pokok tulisan kami ini, adapun Prinsip-prinsip dasar perkawinan tersebut antara lain:

a.      Prinsip kebebasan memilih jodoh bagi laki-laki dan perempuan sepanjang tidak melanggar ketentuan syari’at.

Islam menggabungkan antara hak wali dalam menikahkan gadis asuhannya dengan kebebasan perempuan menerima laki-laki yang ia inginkan, Islam melarang para wali memaksa anak serta saudara perempuannya untuk menikah. Kezaliman seperti ini merupakan peristiwa yang sering terjadi pada masa Jahiliyah, mereka acapkali memaksa anak-anak perempuan, keponakanatau perempuan-perempuan yang ada dalam tanggung jawabnya untuk menikah dengan seseorang-bahkan sekalipun orang tersebut tidak mereka sukai. Praktek nikah paksa seperti ini masih sering kita jumpai di masyarakat dewasa ini.

Isalm juga melarang perempuan menikah dengan laki-laki tanpa restu orang tua/wali, sebab hal itu akan menghasilkan hubungan tidak harmonis antara suami dan keluarga sang perempuan. Padahal idealnya, pernikahan adalah sebuah akad yang bertujuan menyambung tali kasih sayang dengan orang yang semula bukan bagian dari keluarga. Jika sang perempuan mempunyai calaon yang cocok, maka tidak ada hak para wali atau orang tua mengekang atau mencegah keinginan sang perempuan untuk menikah dengan laki-laki pilihannya.[18]

Diriwayatkan dari Abi Hurairah r.a. Rasulullah SAW. Bersabda :” Janganlah kalian menikahkan perempuan yang pernah menikah kecuali setelah meminta persetujuannya, dan jangan pula kalian menikahkan perempuan yang perawan tanpa meminta izinnya” para sahabat bertanya ” Rasulullah, apa tanda setuju seorang perempuan? Rasulullah menjawab ” Diamnya perawan saat diminta izin adalah tanda bahwa ia setuju”[19]

Kebebasan memeilih pasangan hidup ini juga berlaku bagi laki-laki selama masih berada dalam koridor syari’at Islam, Islam telah menetapkan peraturan-peraturan yang kokoh dan prinsip-prinsip yang sempurna dalam memilih pasnagn hidup, Rasulullah SAW. Bersabda ketika ditanya tentang sifat wanita yang terbaik

التى تسره اذا نظر , وتطيعه اذا امر ولا تخالفه فى نفسه وماله بما يكره  

“Menyenangkan suami jika memandangnya, menaati suami jika menyuruhnya, tidak menentang dalam dirinya maupun harta suaminya dengan sesuatu yang tidak disenangi suaminya”[20]

            Dalam hadits lain Rosulullah juga menggariskan kriteria-kriteria perempuan yang pantas dan ideal untuk dinikahi oleh pria muslim :

´تنكح المرأة للأربع لمالها ولحسبها ولجمالها ولدينها فاظفر بذات الدين تربت يداك 

“Wanita dinikahi karena 4 perkara yaitu karena kekayaannya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya, pilihlah yang kuat agamanya niscaya engkau akan memperoleh berkah (keberuntungan).[21]

Yang dimaksud dengan keberuntungan disini adalah keberuntungan karena memilih  seorang istri berdasarkan agama, jadi jelas bahwa agamalah yang merupakan criteria utama dalam memilih istri. Agama adalah kumpulan dari seluruh kebaikan serta sendi bagai kebaikan istri dan keluarga, tanpa bermaksud menapikan criteria-criteria selain agama,[22] syarat agama ini tentu harus juga dimiliki oleh calon suami sehingga nantinya mampu mengemban tugas sebagai kepala keluarga yang berjalan dan beriring bersama dengan istri sesuai dengan tuntunan ajaran agama Islam yang luhur, jadi dengan demikian baik calon suami maupun istri memiliki hak yang sama dalam memilih pasangan hidup sesuai dengan syari’at agama.

b.      Prinsip Mawaddah wa Rahmah (Cinta Dan Kasih Sayang)

Prinsip ini antara lain ditemukan pada ayat 21 surat Ar Rum :

ô`ÏBur ÿ¾ÏmÏG»tƒ#uä ÷br& t,n=y{ /ä3s9 ô`ÏiB öNä3Å¡àÿRr& %[`ºurø—r& (#þqãZä3ó¡tFÏj9 $ygøŠs9Î) Ÿ@yèy_ur Nà6uZ÷t/ Zo¨Šuq¨B ºpyJômu‘ur 4 ¨bÎ) ’Îû y7Ï9ºsŒ ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 tbr㍩3xÿtGtƒ ÇËÊÈ     

Artinya “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (Q.S. Ar-rum, 21)

Setiap pasangan suami istri pasti mendambakan kehidupan rumah tangga yang sakinah (tenteram), untuk mewujudkan ketenteraman dalam rumah tangga maka salah satu prinsip yang harus ada seperti yang digambarkan oleh ayat tersebut di atas yaitu adanya mawaddah dan rahmah yang mewarnai kehidupan rumah tangga tersebut. Mawaddah itu adalah jenis cinta yang lebih melihat kualitas pribadi pasangan, adapun rahmah adalah jenis cinta yang lembut, siap berkorban dan siap melindungi kepada yang dicintai.[23] Oleh karena itu suami istri sejak akad nikah hendaklah telah dipertautkan oleh ikatan mawaddah dan rahmah sehingga keduanya tidak mudah goyah dalam mengarungi samudra perkawinan.

Namun patut diketahui bahwa mawaddah dan rahmah hanya di miliki oleh kehidupan manusia berbeda dengan kehidupan makhluk lainnya, perkawinan makhluk lain seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan hanya bertujuan untuk menjamin kelangsungan pengembangbiakan mereka jadi penekanannya untuk berkembang biak, sedangkan perkawinan dalam kehidupan manusia tidak untuk alasan kelangsungan generasi/keturunan (baca: pemenuhan kebutuhan bilogis) semata, tetapi lebih kepada nilai dan kualitas hubungan sex yang telah diatur agama melalui akad yang suci dan kuat (ميثاقا غليظا) sehingga apa yang mereka lakukan adalah aktifitas luhur dan sarana yang agung untuk memperoleh keturunan dan melestarikan keberadaan manusia di muka bumi.[24]

c.       Prinsip saling melengkapi dan melindungi

Prinsip ini ditemukan antara lain pada ayat 187 surat al Baqarah :

 £`èd Ó¨$t6Ï9 öNä3©9 öNçFRr&ur Ó¨$t6Ï9 £`ßg©9

Artinya : “Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka.”  

Firman Allah diatas mengisyaratkan bahwa sebagai makhluk, laki maupun perempuan memiliki kelemahan dan keunggulan, tidak ada orang yang sempurna dan hebat dalam semua hal sebaliknya tidak ada pula orang yang serba kekurangan, karena itu dalam kehidupan suami istri, manusia pasti saling membutuhkan dan masing-masing harus dapat berfungsi memenuhi kebutuhan pasangannnya ibarat pakaian,[25] yang menurut Qurays Shihab kehidupan suami istri hendaklah bisa 1) menutup aurat (tubuh); 2) Melindungi diri dari panas dan dingin dan 3) sebagai perhiasan layaknya fungsi pakaian yang dikenakan.[26]

d.      Prinsip Mu’asyarah bil Ma’ruf (memperlakukan istri dengan sopan)

Prinsip ini jelas sekali dikemukakan pada ayat 19 surat an Nisa’ “

£`èdrçŽÅ°$tãur Å$rã÷èyJø9$$Î/ 4 bÎ*sù £`èdqßJçF÷d̍x. #Ó|¤yèsù br& (#qèdtõ3s? $\«ø‹x© Ÿ@yèøgs†ur ª!$# ÏmŠÏù #ZŽöyz #ZŽÏWŸ2 ÇÊÒÈ  

Artinya : “Dan bergaullah dengan mereka secara patut. kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, Padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”

 

Telah banyak tuntunan Al Qur’an dan Hadits agar memperlakukan istri dengan baik dan sopan, karena pernikahan mengandung makna luhur dalam pergaulan suami istri sehingga sedapat mungkin dihindari tindakan kekerasan dan kesewenang-wenangan terhadap istri, Rasulullah saja mencontohkan dalam hal yang kecil seperti memanggil istri beliau siti ‘Aisyah dengan panggilan “al khumaira” karena pipinya yang sedikit kemerah-merahan, hal ini menunjukkan betapa beliau sangat lembut dan sopan dalam pergaulan dengan istri beliau.

e.       Prinsip Monogami

Kalau kita melihat dengan cermat dan seksama, maka asas perkawinan dalam hukum Islam sebenanrnya monogamy (beristri satu), hal ini telah terbukti dengan praktek monogamy rasulullah dengan siti khadijah selama 25 tahun perkawinan beliau tanpa ada kehadiran perempuan lain ditengah-tengah ketenteraman rumah tangga beliau meskipun beliau hidup ditengah masyarakat yang gemar melakukan praktek poligami (beristri banyak), ketentuan monogamy dalam Islam telah ada dalam al Qur’an Ayat 3 surat an Nisa’ ” :

÷bÎ)ur ÷LäêøÿÅz žwr& (#qäÜÅ¡ø)è? ’Îû 4‘uK»tGu‹ø9$# (#qßsÅ3R$$sù $tB z>$sÛ Nä3s9 z`ÏiB Ïä!$|¡ÏiY9$# 4Óo_÷WtB y]»n=èOur yì»t/â‘ur ( ÷bÎ*sù óOçFøÿÅz žwr& (#qä9ω÷ès? ¸oy‰Ïnºuqsù ÷rr& $tB ôMs3n=tB öNä3ãY»yJ÷ƒr& 4 y7Ï9ºsŒ #’oT÷Šr& žwr& (#qä9qãès? ÇÌÈ  

Artinya : ” Dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.[27]

 

Ayat di atas memberi petunjuk bahwa kawin dengan seorang wanita, itulah yang paling dekat dengan kebenaran sehingga terhindar dari berbuat aniaya, karena banyak kenyataannya bahwa polygamy yang diprakatekkan oleh banyak suami dewasa ini membuka peluang kepada kecenderungan untuk tidak mampu berbuat adil terhadap para istrinya, konflik keluarga lebih rentan dan kecenderungan untuk akumulasi sikap negative antar para istri maupun anak-anak mereka muncul dengan mudahnya sehingga kehidupan rumah tangga seperti ini jauh dari kedamaian, ketenteraman dan kebahagian. Jadi kata “فواحدة” (satu orang istri) lebih baik dari pada banyak istri sesuai dengan ayat tersebut. Inilah tema pokok yang akan kami jelaskan pada pembahasan berikutnya ini.

C. Poligami Dalam Sorotan

1.      Makna Poligami

Salah satu bentuk perkawinan yang sering diperbincangkan dalam masyarakat adalah poligami karena mengundang pandangan yang kontoversial. Terlebih lagi dengan munculnya beberapa kasus terakhir terkait praktek poligami yang terjadi sebutlah Aa Gym (seorang Da’i kondang sekaligus tokoh agama) yang menikah lagi dengan janda beranak 3 disamping perkawinannya dengan istri pertamanya yang telah dikaruniai 7 anak, atau sebutlah kasus yang cukup mencoreng kehormatan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia atas perilaku salah seorang anggota DPR-RI yang terlibat perselingkuhan dengan seorang penyanyi dangdut ibu kota disamping istrinya yang sah.

Sikap masyarakat terhadap kedua kasus ini tentu akan beragam karena perbedaan cara pandang dan terkait dengan tingkat intelektual seseorang, ada yang menganggap apa yang dilakukan oleh Aa Gym adalah sesuatu yang cukup beralasan dan bermotif agama yaitu mencoba menjalani sunnah rasul dengan tetap memegang prinsip menghormati dan memelihara kehormatan wanita agar tidak terjerumus ke lembah maksiat, tetapi tidak sedikit yang mengecam praktek poligami itu dengan alasan bahwa poligami apapun alasannya adalah bentuk penzaliman terhadap perempuan dan hak-haknya (istri pertama) dan lebih ekstrim lagi mereka menginginkan aturan kebolehan poligami dalam UU perkawinan No 1 tahun 1974 dihapuskan, tanpa berfikir solusi terbaik terhadap prilaku dan kecenderungan laki-laki yang pada dasarnya tidak bisa hidup dengan satu istri, lalu muncul pertanyaan bagaimana kalau seandainya praktek poligami ini dihapuskan? Tentu hal ini juga akan berdampak negative terhadap tatanan sosial kita, dapat dipastikan akan banyak bermunculan kasus-kasus seperti perselingkuhan, prostitusi, anak-anak tanpa bapak, aborsi, dan lain-lain yang intinya merendahkan dan melecehkan perempuan.

Jadi perlu kiranya dicarikan solusi terbaik untuk permasalahan sosial yang tengah marak kita dengar dan saksikan di media massa baik elektronik maupun cetak, yang terkait dengan perselingkuhan oknum pejabat, poligami, perceraian artis, praktek aborsi yang meraja lela, pembunuhan mantan pacar/ istri dengan motif dendam, dan lain sebagainya. Untuk berbagai permasalahan tersebut penulis hanya mengajak pembaca agar kembali ke aturan-aturan agama (syari’at) Islam tanpa mengedepankan kepentingan, baik pribadi maupun kelompok/golongan. Tetapi kami dalam makalah ini hanya akan membahas tentang poligami yang sementara ini masih sering disalah pahami oleh sebagian orang sebagai sesuatu yang negative (kezaliman) dan cenderung melecehkan perempuan. Dan yang lebih penting dari perbedaan pandangan tentang poligami hendaklah dijadikan sebagai sesuatu yang lumrah dalam wacana ilmiah dan menuai rahmat dari perbedaan itu. Kasus-kasus yang penulis sebutkan sebagian kecil dari banyak kasus yang terjadi di masyarakat, agar apa yang kita anggap baik belum tentu baik menurut Allah dan Rasul-Nya, begitu juga sebaliknya apa yang tadinya kita anggap jelek belum tentu jelek menurut Allah dan Rasul-Nya.

Menanggapi hal tersebut, marilah kita melihat kembali apa makna dari poligami yang telah ada dalam nash Al Qur’an surat An Nisa’ 3 yang telah kami kemukakan sebelumnya, bahwa poligami adalah perkawinan dalam hal mana suami mengawini lebih dari satu istri dalam waktu yang sama, laki-laki yang melakukan bentuk perkawinan seperti itu dikatakan poligam. Selain poligami, dikenal juga poliandri yaitu istri mempunyai beberapa suami dalam waktu yang sama, akan tetapi poliandri tidak banyak diprktekkan. Kebalikan dari poligami adalah monogamy yaitu ikatan perkawinan yang terdiri dari seorang suami dan seorang istri atau istilah lainnya poligini, dalam realitas sociologis masyarakat, monogamy lebih banyak dipraktekkan karena dirasakan paling sesuai dengan tabiat manusia dan merupakan bentuk perkwianan yang paling menjanjikan kedamaian.[28]

Sebenarnya istilah poligami mengandung pengertian poligami dan poliandri, tetapi karena poligini yang banyak terdapat, terutama sekali di Indonesia dan Negara-negara yang memakai hukum Islam maka tanggapan tentang poligini adalah poligami.[29]

2.      Fakta Sejarah Poligami

Para Orientalis menuduh bahwa poligami itu merupakan produk ajaran islam, dengan tujuan menteror dan menghina ajaran Islam, mereka mengemukakan segi-segi negative dari poligami. Kalau kita mengkaji sejarah maka akan terbuka bahwa masalah poligami itu sudah ada sejak lama sebelum Islam datang, bahkan poligami itu merupakan warisan orang-orang yang Yahudi dan Nasrani, sampai pada Martin Luther seorang penganjur besar Protesten, tidak nampak adanay larangan poligami, tuduhan tersebbut dapar dijawab dengan beberapa fakta sebagai berikut :

a.       Westermak berkata : “Poligami dengan sepengetahuan Dewan Gereja itu berjalan sampai abad ke-17 M”.

b.      Pada tahun 1650 M. Majelis Tinggi Prancis mengeluarkan edaran tentang diperbolehkannya seorang laki-laki mengumpulkan dua orang istri. Surat edaran itu dikelurakan karena berkurangnya kaum laki-laki akibat perang 30 tahun terus menerus.

c.       Agama Yahudi memperbolehkan poligami dengan jumlah yang tidak terbatas. Kenyataannya Nabi Ya’kub, Nabi Daud, dan Nabi Sulaiman mempunyai banyak istri, Nabi Ibrahim juga mempunyai dua orang Istri yakni Hajr dan Sarah.

d.      Penduduk asli Australia, Amerika, Cina, Jerman dan Sisilia terkenal sebagai bangsa yang melakukan poligami sebelum datangnya agama Masehi, Poligami yang mereka lakukan tanpa adanya batas dan syarat-syarat keadilanterhadap beberapa istrinya.

e.       Ahli piker Inggris Herbert Spencer di adalam bukunya “Ilmu Kemasyarakatan” menjelaskna bahwa sebelum datangnya Islam, wanitab itu diperjualbelikan ataupun digadaikan dan dipinjamkan. Hal tersebut dilakukan sesuai dengan peraturan khusus yang dikeluarkan oleh gereja dan berjalan sampai pertengahan abad 11 M.[30]

f.        Pada tahun 1567, parlemen skotlandia mengeluarkan undang-undang yang menyatakan bahwa perempuan tidak mempunyai hak kepemilikan barang. Yang lebih mengherankan lagi adalah undang-undang yang dikeluarkan Parlemen Inggris di masa Raja Henri VIII. Undang-undang tersebut melarang perempuan membaca kitab Injil. Hal ini tentu sangat kontras dengan dengan sikap para sahabat yang mempercayai Hafsah r.a. untuk memelihara mushaf Al Qur’an yang kelak disalin,diperbanyak, dan disebarluaskan pada masa Utsman r.a.[31]

Pengertian ini jelas, bahawa poligami sudah menjadi kebudayaan pada masa sebelum Islam datang, melihat kenyataan yang jelas-jelas merendahkan martabat perempuan itu maka melalaui Nabi Muhammad SAW. Sebagai Rasul-Nya membenahi dan mengadakan penataan terhadap adapt istiadat yang benar-benar tidak mendatangkan kemaslahatan dan meneruskan adapt kebiaasaan yang mempunyai nilai-nilai untuk menjunjung tinggi martabat manusia. Dalam hal ini termasuk masalah Poligami yang tidak terbatas. Islam membolehkan poligami dengan syarat adil hal ini demi menjaga hak dan martabat manusia.[32]

3.      Landasan Teologis dan Hukum Poligami Dalam Islam

a.      Tinjauan Historis ayat poligami

Poligami merupakan salah satu tema penting yang mendapat perhatian khusus dari Allah SWT. Sehingga tidak mengherankan kalau Dia meletakkannya pada awal surat An Nisa’ dalam Al Qur’an, seperti yang kita liahat, poligami terdapat pada ayat ketiga dan merupakan satu-satunya ayat dalam al Qur’an yang membicarakan masalah ini, akan tetapi para mufassir dan para Fuqaha seringkali mengabaikan redaksi umum ayat dan mengabaikan keterkaitan yang erat yang ada diantara masalah poligami dengan para janda yang memiliki anak-anak yatim.

Di sini kita berhadapan dengan masalah anak-anak yatim yang telah kehilangan ayahnya, dimana Allah menghendaki dan berlaku adil terhadap mereka, serta menjaga dan memelihara harta mereka dan menyerahkannya kembali kepada mereka ketika mereka telah menginjak dewasa. Dalam kondisi ini, yakni kekhawatiran tidak terwujudnya keadilan pada anak-anak yatim sesuai dengan yang dimaksud sebagai mana firman Allah ” dan Jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap anak-anak yatim…”, maka ayat di atas memperbolehkan poligami, yakni dengan menikahi ibu-ibu mereka yang menjanda (Allah berfirman) “maka kawinilah perempuan-perempuan yang kamu senangi”. Khitab (perintah) dalam ayat tersebut ditujukan kepada orang-orang yang telah menikah dengan seorang wanita dan memiliki anak; karena bukanlah termasuk poligami bagi lelaki bujangan yang mengawini janda yang memiliki anak yatim, dengan dasar bahwa ayat tersebut diawali dengan dua dan diakhiri dengan empat (dua, tiga atau empat).

Sesungguhnya Allah tidak sekedar memperbolehkan poligami, akan tetapi menganjurkan poligami dengan 2 syarat yang harus dipenuhi : Pertama : Bahwa istri kedua, ketiga dan keempat adalah para janda yang memiliki anak yatim; Kedua: harus terdapat rasa khawatir tidak dapat berbuat adil kepada anak-anak yatim.sehingga perintah poligami akan menjadi gugur ketika tidak terdapat dua syarat di atas. Adapun kedua syarat yang telah kami kemukakan adalah berdasarkan pada ” kaidah struktur bahasa” dalam firman-Nya ”

÷bÎ)ur ÷LäêøÿÅz žwr& (#qäÜÅ¡ø)è? ’Îû 4‘uK»tGu‹ø9$# (#qßsÅ3R$$sù $tB z>$sÛ Nä3s9 z`ÏiB Ïä!$|¡ÏiY9$# 4Óo_÷WtB y]»n=èOur yì»t/â‘ur (

Artinya : “Dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat.”

 

Anjuran  poligami dalam ayat ini seringkali disalah pahami sehingga melahirkan antusiasme yang berlebihan dalam hal mengawini para janda pada masa itu padahal tidak mampu berlaku adil terhadap para istrinya yang lain, jika dikhawatirkan tidak mampu berlaku adil maka cukuplah dengan satu istri saja karena hal itu lebih dekat untuk tidak berlaku aniaya[33], sebagaimana lanjutan ayat tersebut ”

÷bÎ*sù óOçFøÿÅz žwr& (#qä9ω÷ès? ¸oy‰Ïnºuqsù ÷rr& $tB ôMs3n=tB öNä3ãY»yJ÷ƒr& 4 y7Ï9ºsŒ #’oT÷Šr& žwr& (#qä9qãès? ÇÌÈ  

Artinya : “Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil[34] Maka (kawinilah) seorang saja[35], atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”

Hal ini juga didukung oleh keterangan Istri Nabi, Aisyah r.a. Imam Bukhari, Muslim, Abu Daud, serta Turmuzi dan lain-lain meriwayatkan bahwa urwah bin Zubair bertannya kepada istri Nabi Aisyah r.a. tentang ayt ini beliau menjawab bahwa ini berkaitan dengan anak yatim yang berada dalam pemeliharaan seorang wali, dimana hartanya bergabung dengan harta wali dan sang wali senang akan kecantikan dan harta sang yatim, maka ia hendak mengawininya tanpa mahar yang sesuai, kemudian Aisyah ditanya tentang perempuan maka turunlah ayat firman-Nya :Dan mereka minta fatwa kepadamu tentang Para wanita. Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka, dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Al Quran] (juga memfatwakan) tentang Para wanita yatim yang kamu tidak memberikan kepada mereka apa[36] yang ditetapkan untuk mereka, sedang kamu ingin mengawini mereka[37] dan tentang anak-anak yang masih dipandang lemah. dan (Allah menyuruh kamu) supaya kamu mengurus anak-anak yatim secara adil. dan kebajikan apa saja yang kamu kerjakan, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahuinya.Aisyah kemudian melanjutkan keterangan bahwa firman-Nya “sedang kamu enggan mengewini mereka” itu adalah keengganan para wali untuk mengawini anak yatim yang sedikit harta dan kecantikannya, maka sebaliknya dalam an Nisa’ ayat 3 ini melarang mengawini anak-anak yatim yang mereka inginkan karena harta dan kecantikannya tetapi enggan berlaku adil dan terhadap mereka.[38]

Ayat ini juga turun untuk membatasi jumlah istri yang boleh untuk di poligami yaitu 4 orang, karena perlu diketahui bahwa sebelum ayat poligami ini turun, banyak sahabat yang mempunyai istri lebih dari empat orang, sesudah pembatasan paling banyak poligami itu empat, maka Rasulullah memerintahkan kepada sahabat-sahabat yang mempunyai istri lebih dari empat untuk menceraikan istri-istrinya seperti disebutkan dalam hadits yang artinya “sesungguhnya Nabi Muhammad SAW. Berkata kepada Ghilan bin Umayyah Al Tsqafi yang waktu masuk Islam mempunyai sepuluh istri, Pilihlah empat diantara mereka dan ceraikanlah yang lainnya” (HR. Nasa’I dan Daruquthny)

Dalam hadits lain disebutkan pula tentang pengakuan seorrang sahabat yang bernama Qais Bin Harits yang artinya ” Saya masuk Islam bersama-sama dengan delapan istri saya, lalu hal itu saya ceritakan kepada Nabi Muhammad SAW maka beliau bersabda : “Pilihlah empat orang dari mereka”(HR. Abu Daud)[39]   

b.      Hukum Poligami dalam Islam

Berdasarkan pemahaman terhadap ayat dan hadits yang membahas tentang poligami itu, maka timbul pertanyaan ” Asas perkawinan dalam Islam Poligamikah atau monogamy? Dalam masalah ini ada dua pendapat yaitu : 1) Bahwa asas perkawinan dalam Islam itu monogami; 2) Bahwa asas perkawinan dalam Islam itu Poligami.

Untuk menjawab kontroversi seputar asas perkawinan dalam Islam marilah kita merujuk terhadap sejumlah pendapat beberapa pakar antara lain :   

1)      Menurut Mahmud Syaltut, Mantan Syekh Al Azhar, Hukum Poligami adalah Mubah, Poligami dibolehkan selama tidak dikhawatirkan terjadinya penganiayaan terhadap para istri, jika terdapat kekhawatiran terhadap kemungkinan terjadinya penganiayaan itu, dianjurkan agar mencukupkan beristri satu saja. Jadi menurut beliau kebolehan poligami terkait dengan terjaminnya keadilan dan ketiadaan kekhawatiran akan terjadinya penganiayaan[40] yaitu penganiayaan terhadap istri.

2)      Zamakhsari dalam Kitabnya “Al Kasyaf” mengatakan, bahwa poligami menurut Syari’at Islam adalah Rukhsah (Kelonggaran ketika darurat).sama halnya dengan rukhsah bagi musafir dan orang sakit yang dibolehkan buka puasa Ramadhan ketika dalam perjalanan. Darurat yang dimaksudkan adalah berkaitan dengan tabiat laki-laki dari segi kecenderungannya untuk bergaul lebih dari seorang istri. Kecenderungan yang pada diri laki-laki itulah seandainya syari’at Islam tidak memberikan kelonggaran berpoligami, niscaya akan membawa kepada perzinahan, oleh karena itu poligami diperbolehkan dalam Islam.[41]

3)      Muhammad Abduh adalah tokoh Al Azhar yang mengingkari praktek poligami di Mesir yang banyak menimbulkan dampakn negative . menurutnya mustahil mengarahkan umat ke arah yang lebih baik disaat mereka mempraktekkan poligamidengan cara-cara yang potensial menimbulkan bahaya. Padahal bahaya harus dicegah sesuai kaidah “Jangan melakukan pekerjaan yang membahayakan diri dan orang lain” dan mencegah bahaya lebih utama dibandingkan mencari kebaikan”[42]

4)      Sementara menurut M. Rasyid Ridha : Ada tiga hal penting dalam masalah poligami ini yaitu :

a)      Islam tidak pernah mewajibkan poligami kepada kaum muslimin dan tidak menganjurkan laki-laki untuk mempraktekkannya. Dalam ayat yang membolehkan poligami ditegaskan bahwa sedikit sekali orang ynag melakukan poligami terhindar dari kezaliman yang diharamkan. Hikmah yang terkandung disini adalah anjuran untuk berfikir matang bagi orang yang hendak melakukan poligami. Mempertimbangkan kembali niatnya, mampukah ia bersikap adil diantara istri-istrinya?

b)      Islam tidak secara mutlak mengharamkan poligami, kendati juga tidak terlalu longgar membolehkannya. Sebab watak dan kebiasaan laki-laki diberbagai belahan dunia sama, mereka tidak puas memiliki satu istri terlebih lagi kalau suami menginginkan keturunan,sedangkan istrinya mandul, tua atau mengidap penyakit yang membuatnya tak mampu melahirkan. Disamping itu disejumlah tempat jumlah perempuan lebih banyak dibandingkan dengan junlah laki-laki, teruatam saat terjadi perang. Ribuan perempuan kehilangan suami yang bertugas melindungi dan menafkahi mereka. Sementara disis lain banyak laki-laki kaya yang mampu menanggung beban nafkah lebih dari seorang istri.

c)      Dengan kedua alasan di atas, Islam menerapkan bahwa hukum poligami adalah mubah. Meski demikian mubah disini tidak bersifat mutlak ada batasan jumlah istri yang diperbolehkan. Dengan berpegang kepada syarat-syarat tersebut poligami diharapkan mampu menjadi salah satu solusi permasalahan masyarakat.[43]

Menurut Qurays Shihab ayat 3 Surat An Nisa’ tersebut sebenarnya tidak memuat suatu peraturan poligami, karena poligami telah dikenal dan dilaksanakan oleh syari’at agama dan adat istadat sebelum ini, ayat ini juga tidak mewajibkan poligami atau menganjurkannya, dia hanya berbicara tentang bolehnya poligami, itupun merupakan pintu daruratia hanya dilalui saat amat diperlukan dengan syarat yang berat yaitu adil. Jika demikian halnya maka pembahasan tentang poligami dalam al Qur’an hendaknya tidak ditinjau dari segi ideal atau baik buruknya, tetapi harus dilihat dari sudut pandang pengarturan hukum dalam berbagai kondisi yang mungkin terjadi.[44]

Adalah wajar bagi suatu perundang-undangan apalagi agama yang bersifat universal dan berlaku untuk setiap waktu dan tempat, untuk mempersiapkan ketetapan hukum yang boleh jadi terjadi pada suatu ketika walaupun kejadian itu baru merupakan kemungkinan. Bukannkah kenyataan menunjukkan bahwa bukankah rata-rata usia wanita lebih panjang dari laki-laki sedang potensi untuk membuahi laki-laki lebih lama dari pada potensi wanita. Wanita mengalami haid, dan monopouse yang tidak dialami laki-laki, bukankah peperangan telah banyak menelan laki-laki dari pada perempuan sehingga perempuan meningkat secara kwantitas?bukankah penyakit parah merupakan suatu kemungkinan yang tidak aneh dan dapat terjadi dimana-mana ? adakah jalan keluar yang diusulkan bagisuami dalam mengahadapi kenyataan demikian? Bagaimanakah seharusnya ia menyalurkan hasrat biologisnya atau memperoleh dambaan keturunan? Nah poligami ketika itu adalah jalan keluar yang paling tepat. Namun sekali lagi perlu diingat bahwa ini bukan anjuran apalgi kewajiban, ayat ini hanyamemberi wadah bagi yang menginginkannya, ketika menghadapi kondisi atau kasus seperti diatas. Tentu saja masih banyak kondisi atau kasus selain yang disebutkan diatas, yang juga merupakan alasan logis untuk tidak menutup rapat atau mengunci mati poligami yang dibenarkan oleh ayat tersebut dengan yang tidak ringan.

Menarik juga di cermati apa yang dikatakan oleh Dr. M. Shahrur yaitu masalah poligami dipandang sebagai pewrintah Allah yang ditetapkan dengan persyratan-persyaratan yang ketat (sebagaimana diatas) sebagai jalan keluar bagi persoalan kemasyarakatanyang mungkin terjadi dan mungkin tidak. Kita harus melaksanakan perintah tersebut tatkala telah menjadi problem dan sebaliknya kita seharusnya meninggalkannya ketika tidak terjadi problem.[45]   

Dengan demikian menurut analisa penulis dengan merujuk kepada penafsiran beberapa pakar diatas bahwa bentuk perkawinan dalam Islam itu adalah monogamy tetapi tidak menutup rapat-rapat pintu poligami karena beberapa alasan  sebagaimana tersebut di atas seperti istri yang mandul, tua dan atau berpenyakit yang tak kunjung sembuh sementara suami menginginkan turunan; ataupun karena jumlah perempuan yang lebih banyak dari laki-laki akibat perang yang berkepanjangan sehingga banyak janda yang kehilangan tempat bergantung untuk dinafkahi; jadi Islam memboleh poligami jika terdapat kondisi-kondisi sosial seperti itu tetapi dengan syarat mampu berbuat adil.

Mengenai masalah adil ini, beberapa pihak menjadikannya sebagai alasan untuk melarang poligami karena sebagian besar pria tidak akan mampu berbuat adil terhadap para istrinya dengan merujuk pada ayat 129 surat An Nisa :

`s9ur (#þqãè‹ÏÜtFó¡n@ br& (#qä9ω÷ès? tû÷üt/ Ïä!$|¡ÏiY9$# öqs9ur öNçFô¹tym ( Ÿxsù (#qè=ŠÏJs? ¨@à2 È@øŠyJø9$# $ydrâ‘x‹tGsù Ïps)¯=yèßJø9$$x. 4 bÎ)ur (#qßsÎ=óÁè? (#qà)­Gs?ur  cÎ*sù ©!$# tb%x. #Y‘qàÿxî $VJŠÏm§‘ ÇÊËÒÈ    

Artinya : “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat Berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. dan jika kamu Mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS. An Nisa’ 129)

 

Pendapat mereka tentang maksud keadilan dalam poligami disini keliru karena tidak ada orang yang mampu berbuat adil dalam segala hal terhadap para istri, pun itu Rasullullah karena beliau juga tidak sanggup menguasai kecenderungan hatinya yang lebih mencinyai Aisyah dari pada istri-istri beliau yang lain, dengan sabda seraya berdoa setelah selesai menggilir istri-istri beliau :

عن عائشة رضى الله عنها قالت : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقسم ويعدل ويقول : اللهم هذا قسمى فيما أملك فلا تلمني فيما تملك ولا أملك (رواه الخمسة الا أخمد)    Artinya : “Dari Aisyah ra. Ia berkata : Rasulullah Saw. Menggilir (istri-istrinya) ia pun adil dan berdoa, “Ya Allah, inilah cara aku menggilir dalam hal yang aku menguasainya maka kiranya engkau tidak mencelaku dalam hal yang engkau berkuasa sedangkan aku tidak” (HR. Imam yang lima kecuali Ahmad).

Dari keterangan ayat dan hadits tersebut dapat disimpulkan bahwa keadilan yang dimaksud dalam poligami adalah memperlakukan yang sama para istri dalam masalah-masalah yang bersifat fisik dan materi seperti melakukan giliran, memberi makan, pakaian, dan perumahan, dan bukan dalam masalah immateri seperti cinta dan kasih sayang.[46]

c.       Poligami dan Realitas Sosial

Kemudian yang perlu menjadi perhatian kita selanjutnya adalah munculnya sebuah pertanyaan “Apakah kita akan tetap mengatakan bahwa asas perkawinan monogamy adalah yang paling relevan ketika banyak para pelaku monogamy tertangkap basah memiliki PIL (Perempuan Idam Lain)?”

Untuk menjawabnya tentu perlu melihat kondisi real yang ada disekitar kita apakah benar kenyataan seperti yang ditanyakan itu ada dalam masyarakat kita, jika itu memang benar maka hal yang perlu kita lakukan adalah melaihat kembali konsep poligami yang ditawarkan Islam bahwa dalam kondisi-kondisi tertentu selain yang telah disebutkan rasyid ridha ataupun qurys shihab pada pembahasan sebelumnya seperti istri yang mandul, sakit parah tak kunjung sembuh dan atau hasrar laki-laki yang hipersex dan atau perbandingan jumlah laki dan perempuan, maka ini  menurut penulis merupakan akibat dari sikap alergi kita terhadap poligami terutama sikap para pemerhati dan pejuang kesetaraan jender yang senantiasa memahami poligami dari sudut pandang perempuan yang mendapat perlakukan tidak adil dari suaminya sehingga tidak mendapatkan hak-haknya sebagai perempuan sekaligus istri, tetapi tidak melihat kondisi suaminya yang kemungkinan hipersex atau menginginkan keturunan karena istrinya mandul/sakit parah atau si istri sudah tidak bergairah dalam kehidupan sexnya, lalu apakah kita akan tetap mengatakan para suami tidak boleh berpoligami?

Kasus yang muncul akhir-akhir ini seperti yang penulis kemukakan sebelumnya adalah merupakan akumulasi emosi dari seorang suami yang tidak tersalurkan keinginannya saat bermonogami dengan istrinya, maka perlu kiranya ada keterbukaan dan diskusi dengan penuh keakraban dan kepala dingin tentang segala keluhan baik yang berasal suami maupun istri sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak dinginkan, tetapi jalan diskusi dan keterbukaan tidak bias maka hendaklah segera bercerai dengan cara yang baik, karena rumah tangga yang tidak ada ketenteraman di dalamnya akan menyiksa masing-masing pasangan baik suami maupun istri.

Jika ketidaknyamanan masing-masing psangan dipertahankan karena berbagai sebab diatas maka tidak heran akan kita jumpai dampak negative seperti prostitusi, perselingkuhan, aborsi, dll. Maka solusi yang terbaik dalam hal ini adalah poligami atau cerai dengan cara yang baik seperti firman Allah :

ß,»n=©Ü9$# Èb$s?§sD ( 88$|¡øBÎ*sù >$rá÷èoÿÏ3 ÷rr& 7xƒÎŽô£s? 9`»|¡ômÎ*Î/ 3

Artinya : “Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.”

C.     Penutup

Dari uraian diatas dapat diambil paling tidak empat kesimpulan :

1.      Ayat tentang poligami diturunkan pada akhir tahun kedelapan hijriyah untuk membatasi jumlah istri yang dibolehkan untuk dipoligami yaitu 4 orang dimana pada saat itu para sahabat banyak yang telah memiliki istri lebih dari 4 ada yang 8 ada juga yang 10 istri, maka oleh karena itu rasulullah memerintahkan para sahabat untuk memilih empat dari istri-istri mereka dan mneceraikan yang lain.

2.      Poligami dibolehkan bagi laki-laki yang merasa mampu untuk berbuat adil tetapi jika dikhawatirkan untuk tidak berlaku adil terhadap istri-istrinya maka lebih baik satu istri saja (monogamy)

3.      Ketentuan tentang kebolehan poligami selalu disertai dengan kondisi masyarakat yang melingkupinya seperti istri yang mandul, sakit parah ataupun hipersex laki-laki yang dikhawatirkan tersalurkan dengan jalan yang tidak benar (perzinahan) dan kondisi-kondisi lain yang kemungkinan muncul sesuai dengan perkembangan social maasyarakat sehingga akhirnya poligami harus menjadi jalan keluar dengan syarat ketat yaitu mampu berlaku adil   

4.      Poligami adalah jalan darurat tak ubahnya seperti pintu darurat yang ada di sebuah pesawat, yang setiap orang tidak pernah bberniat untuk menggunakannya kalau tidak pada saat-saat yang sangat mendesak dan darurat. Tetapi pintu itu bukan terkunci rapat atau terkunci mati sehingga tidak ada satu penumpangpun  yang boleh melewatinya hanya saja pintu itu tidak diperkenankan digunakan kalauu tidak dengan alasan pesawat dalam keadaan tidak stabil dan akan mengalami kecelakaan maka pada saat itulah pintu tersebut boleh dan harus dibuka.  

 

 


DAFTAR BACAAN

 

 

Ahmad Azhar Basyir, Hukum Perkawinan Islam, Bagian Penerbit Fak. Hukum UII, Yogyakarta, 1997

Ahmad Muhammad Jamal, Muftarayah ‘Ala Al Islam, Beirut, Dar Al Fikr, tt

Asy-Syaukani, Nail al-Authar, juz 26, hal. 234

DR. Mufir Az-Zahrani, Poligami dari berbagai persepsi, (terj) M. Suten Ritonga, Gema Insani Press, 1996

Drs. Sidi Ghazalba, Menghadapi soal-soal perkawinan, Jakarta Antara, 1975

H. Abdul Qadir Djaelani, Keluarga Sakinah, PT. Bina Ilmu, Surabaya, 1995

Lampiran 2, Undang-undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.

M. Ali Hasan, Masail Fiqhiyah Al Haditsah; pada masalah-masalah kontemporer hukum islam, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, cet.5, 2003

M. Rasyid Ridho, Perempuan Sebagai Kekasih ; Hakikat, Martabat Dan Partisipasinya Di Ruang Public, (Terj) Ahmad Rivai, Usman Abd. Syukur Abd. Razak, Hikmah (Klp. Mizan) Jakarta,

Muhammad Abu Zahrah, Al Ahwalusy Syahsiyyah, Dar Al Fikr Al Arabi, kairo, 1957

Muhammad Al Bahy, Al Islam wa Tijah AL Mar’ah Al Mu’ashirah, Mesir, Maktabah Wahbah, 1978

Muhammad Syata’ ad-Dimyati, I’antut Thalibin, Juz III, Daru Ihya il Kutubil Arabiyah, tt,

Ny. Soemiyati, Hukum perkawinan Islam dan Undang-undang Perkawinan, Libertim Yogyakarta, Cet.2, 1986

Prof. Dr. Huzaimah T. Yanggo, Masail Fiqhiyyah; Kajian Hukum Islam Kontemporer, Angkasa Bandung, 2005

Prof. Dr. Mahmud Syaltut, Islam ‘Aqidah wa Syari’ah, Mesir, Daru Al Qalam, 1996 Hal. 269

Prof. Dr. Said Agil Husin Al Munawar, dkk., Agenda Generasi Intelektual; Ikhtiar Membangun Masyarakat Madani, Penamadani, Jakarta, 2003

Prof.Dr. Qurays Shihab, Tafsir Al Misbah; Pesan, Kesan Dan Keserasian Al Qur’an, Lentera Hati Jakarta, 2000

Siti Musdah Mulia, Islam Menggugat Poligami, PT. Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2004



[1] Yang dimaksud berpasang-pasangan, ialah jantan dan betina, pahit dan manis, putih dan hitam, besar kecil dan sebagainya.

[2] Siti Musdah Mulia, Islam Menggugat Poligami, PT. Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2004, hal. 74

[3] Muhammad Syata’ ad-Dimyati, I’antut Thalibin, Juz III, Daru Ihya il Kutubil Arabiyah, tt, hal. 256

[4] Muhammad Abu Zahrah, Al Ahwalusy Syahsiyyah, Dar Al Fikr Al Arabi, kairo, 1957, hal. 19

[5] Ahmad Azhar Basyir, Hukum Perkawinan Islam, Bagian Penerbit Fak. Hukum UII, Yogyakarta, 1997, hal. 10.

[6] Lampiran 2, Undang-undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.

[7] Siti Musdah Mulia, Op Cit, hal. 15-16

[8] Ny. Soemiyati, Hukum perkawinan Islam dan Undang-undang Perkawinan, Libertim Yogyakarta, Cet.2, 1986, hal. 12

[9] M. Ali Hasan, Masail Fiqhiyah Al Haditsah; pada masalah-masalah kontemporer hukum islam, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, cet.5, 2003, hal 2-7 

[10] Maksud dari padanya menurut jumhur mufassirin ialah dari bagian tubuh (tulang rusuk) Adam a.s. berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim. di samping itu ada pula yang menafsirkan dari padanya ialah dari unsur yang serupa Yakni tanah yang dari padanya Adam a.s. diciptakan.

[11] Menurut kebiasaan orang Arab, apabila mereka menanyakan sesuatu atau memintanya kepada orang lain mereka mengucapkan nama Allah seperti :As aluka billah artinya saya bertanya atau meminta kepadamu dengan nama Allah.

[12] Ny. Soemiyati, Op.Cit, hal. 18

[13] Maksudnya: tidak Berlaku curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya.

[14] Maksudnya: Allah telah mewajibkan kepada suami untuk mempergauli isterinya dengan baik.

[15] Nusyuz: Yaitu meninggalkan kewajiban bersuami isteri. nusyuz dari pihak isteri seperti meninggalkan rumah tanpa izin suaminya.

[16] Maksudnya: untuk memberi peljaran kepada isteri yang dikhawatirkan pembangkangannya haruslah mula-mula diberi nasehat, bila nasehat tidak bermanfaat barulah dipisahkan dari tempat tidur mereka, bila tidak bermanfaat juga barulah dibolehkan memukul mereka dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas. bila cara pertama telah ada manfaatnya janganlah dijalankan cara yang lain dan seterusnya.

[17]M. Ali Hasan, Ibid, hal. 2-9

[18] M. Rasyid Ridho, Perempuan sebagai Kekasih ; Hakikat, Martabat dan partisipasinya di ruang public, (Terj) Ahmad Rivai, Usman Abd. Syukur Abd. Razak, Hikmah (Klp. Mizan) Jakarta, Hal. 47-48

[19] Hadits ini diriwayatkan oleh Al Bukhari, Muslim, abu Dawud, an Nasai, dari abu hurairah r.a. kemudian juga diriwayatkan oleh at Tirmizi, dan Ibnu Majah, lihat Kanzul Amal Vol. 19 Hadits No. 44657

[20] Shahih Bukhari, Jus 5 hal. 1958

[21] Asy-Syaukani, Nail al-Authar, juz 26, hal. 234

[22] DR. Mufir Az-Zahrani, Poligami dari berbagai persepsi, (terj) M. Suten Ritonga, Gema Insani Press, 1996

[23] Prof. Dr. Said Agil Husin Al Munawar, dkk., Agenda generasi Intelektual; Ikhtiar membangun masyarakat Madani, Penamadani, Jakarta, 2003, hal 63.

[24] M. Rasyid Ridho, Op Cit, hal 50-52

[25] Siti Musdah Mulia, Op Cit, hal 14-15

[26] Prof. Dr. Said Agil Husin Al Munawar, dkk., Op cit. hal 63-64

[27] M. Ali Hasan, Op Cit, hal 22

[28] Siti Musdah Mulia, Op Cit, hal. 43-44

[29] Drs. Sidi Ghazalba, Menghadapi soal-soal perkawinan, Jakarta Antara, 1975, hal. 25

[30] Ahmad Muhammad Jamal, Muftarayah ‘Ala Al Islam, Beirut, Dar Al Fikr, tt, hal 107-108

[31] M. Rasyid Ridha, Op Cit. hal. 95-96

[32] Prof. Dr. Huzaimah T. Yanggo, Masail Fiqhiyyah; Kajian Hukum Islam Kontemporer, Angkasa Bandung, 2005, hal. 148-149

[33] Dr. Muhammad Shahrur, Metodologi Fiqih Islam Kontemporer, (Terj) Sahiron Syamsudin, dan Burhanudin, Elsaq Press, Yogyakarta, 2004, hal. 425-429

[34] Berlaku adil ialah perlakuan yang adil dalam meladeni isteri seperti pakaian, tempat, giliran dan lain-lain yang bersifat lahiriyah.

[35] Islam memperbolehkan poligami dengan syarat-syarat tertentu. sebelum turun ayat ini poligami sudah ada, dan pernah pula dijalankan oleh Para Nabi sebelum Nabi Muhammad s.a.w. ayat ini membatasi poligami sampai empat orang saja.

[36] Maksudnya Ialah: pusaka dan maskawin

[37] Menurut adat Arab Jahiliyah seorang Wali berkuasa atas wanita yatim yang dalam asuhannya dan berkuasa akan hartanya. jika wanita yatim itu cantik dikawini dan diambil hartanya. jika wanita itu buruk rupanya, dihalanginya kawin dengan laki-laki yang lain supaya Dia tetap dapat menguasai hartanya. kebiasaan di atas dilarang melakukannya oleh ayat ini.

[38] Prof.Dr. Qurays Shihab, Tafsir Al Misbah; pesan, kesan dan keserasian Al Qur’an, Lentera Hati Jakarta, 2000, hal. 324

[39] Prof. Dr. Huzaimah T. Yanggo, Op Cit, hal 150-151

[40] Prof. Dr. Mahmud Syaltut, Islam ‘Aqidah wa Syari’ah, Mesir, Daru Al Qalam, 1996 Hal. 269

[41] Muhammad Al Bahy, Al Islam wa Tijah AL Mar’ah Al Mu’ashirah, Mesir, Maktabah Wahbah, 1978, hal. 42.

[42] M. Rasyid Ridha, Op cit, hal.101

[43] Ibid, hal 99-100

[44] Ibid, hal 324

[45] Dr. Muhammad Shahrur, Op Cit. hal 432.

[46] H. Abdul Qadir Djaelani, Keluarga Sakinah, PT. Bina Ilmu, Surabaya, 1995, hal 178





THE PRINCIPLES OF COMMUNICATIVE APPROACH

12 09 2008

Dalam pendekatan komunikatif terdapat beberapa prinsip yang mendasarinya, tidak kurang dari tiga prinsip pokok yang ada di dalamnya akan dijelaskan satu per satu dengan mengacu kepada apa yang dikemukakan oleh Finochiaro dan Brumfit (1983) dalam buku “Approaches and Methodes In Language Teaching : A Description and Analysis” yang ditulis oleh Jack C. Richard dan Theodore S. Rodgers. (1992) ketika mengkomparasi antara pembelajaran bahasa komunikatif dengan metode audiolingual[1]. Sejatinya ada 22 ciri atau prinsip pendekatan komunikatif, namun penulis hanya memilih tiga prinsip setelah terlebih dahulu melalui proses analisis terhadap 22 prinsip tersebut dengan mempertimbangkan aspek kesesuaian, keterpakaian dan efektifitas prinsip-prinsip tersebut proses analisis terhadap obyek kajian penulis yakni bahan ajar Tareq.

Ketiga prinsip yang penulis maksud tersebut adalah kebermaknaan dalam setiap aktifitas berbahasa; kontektualisasi pembelajaran bahasa (Arab) dan pembelajaran yang berpusat pada pembelajar. berikut ini penjelasannya masing-masing:

 

a)      Kebermaknaan dalam Setiap Aktifitas Berbahasa 

Kebermaknaan artinya penyajian dan pembelajaran sejumlah bentuk bahasa yang dikaitkan dengan situasi dan konteks berbahasa.[2] Bila dikaitkan dengan buku ajar, maka penyusunan materi buku ajar yang berpendekatan komunikatif disusun berdasarkan fungsi-fungsi komunikatif (seperti meminta maaf, menggambarkan, mengundang, dan berjanji) yang mampu mendorong pembelajar untuk mengetahui dan menggunakannya, dan pembelajaran bentuk-bentuk tata bahasa tertentu dimungkinkan untuk menunjang fungsi-fungsi komunikatif tersebut.[3] Jadi, tata bahasa tidak lebih hanya sebagai alat yang digunakan untuk dapat berkomunikasi dalam konteks berbahasa yang benar dan bermakna sesuai dengan fungsi-fungsi bahasa yang dipelajari.    

Setiap bahasa di dunia digunakan menurut sistem bahasa itu sendiri, yaitu dengan pola atau susunan yang mempunyai makna bagi penggunanya. Ucapan kata yang digunakan dalam pembicaraan selalu disusun dengan cara-cara tertentu atau dirancang untuk menyatakan arti yang sama bagi semua pemakai bahasa tersebut. Namun demikian, kebermaknaan suatu ujaran atau pembicaraan tidak tergantung pada arti kata-perkata, tetapi tergantung pada seluruh persepsi pendengar atau pembaca pada ucapan, intonasi, tata bahasa dan makna dari suatu situasi atau budaya. Dengan kata lain, kebermakanaan suatu ujaran terjadi dari kombinasi sistem ucapan, tata bahasa, kosakata dan budaya suatu bahasa yang tercermin di dalamnya. [4]

Berikut beberapa indikator yang menunjukkan kapan dan bagaimana suatu aktifitas berbahasa dikatakan bermakna, antara lain:  

1)      Adanya kegiatan yang menunjukan komunikasi yang sebenarnya (realistis), yang mendorong pembelajar belajar bahasa,[5]contoh: kalau seorang guru meminta para pelajar untuk menirukan kalimat-kalimat rangsangan, dan para pelajar memberi respons, maka aktifitas ini bukan komunikasi. Komunikasi yang sebenarnya (realistis) ialah apabila ada tanya jawab karena satu pihak tidak mengetahui jawabannya. Bandingkan dua percakapan berikut ini:

     Guru    :  اين السبورة ؟/aina al-sabbûrah?(Di mana papan tulis?)

      (sudah terang tampak oleh guru dan para pelajar)

Pelajar : السبورة امام الفصل/al-sabbûrah amâm al-fashl (papan tulis ada di

depan kelas)

     Guru    :  اين عمر ؟/aina Umar? (di mana Umar?)

      (guru tidak melihat Umar di ruang kelas)

Pelajar  : عمر لا يحضر فى الفصل، هو مريض يا أستاذ !/Umar la yahdhur fi

al-fashl, huwa marîdh ya ustâdz! (Umar tidak ada di kelas, dia sedang sakit ya ustadz!)  (guru tidak mengetahui jawabannya)

Kalau seseorang bertanya tentang sesuatu tetapi ia sudah mengetahui jawabannya (seperti contoh 1), maka ini bukan dinamakan komunikasi, sebab tidak ada ‘kekosongan informasi’ atau Hubbard menyebutnya dengan ‘information gapdalam bukunya A Training Course For TEFL sebagaimana yang dikutip oleh Nababan, dan sebaliknya kalau kita bertanya tentang sesuatu karena kita tidak atau belum mengetahui jawabannya, maka ini dinamakan ada ‘information gap’. [6] Jadi salah satu ciri pendekatan komunikatif itu ialah bahwa harus ada ‘kekosongan informasi’ dalam aktifitas komunikasi yang berlangsung antara pembicara dan pendengar.

2)      Adanya aktifitas-aktifitas bahasa yang dilakukan bertujuan untuk mengerjakan tugas-tugas yang bermakna yang dapat mendorong pembelajar untuk belajar. Kegiatan-kegiatan berbahasa yang dilakukan bersifat nyata dan penuh tujuan,[7] contoh: tugas-tugas untuk mengganti bentuk kata kerja yang satu ke bentuk kata kerja yang lain dikatakan tidak begitu bermakna, misalnya:

 يكتب خالد رسالة البحث الآن                 كتب خالد رسالة البحث أمس

Yaktub khâlid risâlat al-bahts al-ân           Kataba khâlid risâlat al-bahts al-ams

(Khalid sedang menulis tesis sekarang)          (Khalid telah menulis tesis kemarin)

Tetapi, tugas-tugas sebagai berikut sangat bermakna, yakni contoh ungkapan seorang guru ke salah seorang pembelajar di kelas dengan menggunakan bahasa target secara langsung):

1)       امسح السبورة ! / imsah al-sabbûrah ! (hapuslah papan tulis itu!)

2)      اذهب الى مكتب البريد واشتر لي الطوابع ! /idzhab ila maktab al-barîd wasytari li al-thawâbi‘! (pergilah ke kantor pos dan belikan saya beberapa perangko!)

Aktifitas yang dilakukan tentunya akan menjadikan pembelajar dapat belajar sambil berbuat, karena pembelajar akan merasakan dan mengalami langsung pembelajaran yang dijalani dengan penuh makna dan sesuai dengan dunia nyata yang dihadapi sesungguhnya, bukan diajarkan struktur bahasa yang terlepas dari makna, fungsi dan konteksnya.

3)      Adanya pembelajaran bahasa yang mengajarkan formula-formula sosial dan dialog yang diperlukan orang untuk berkomunikasi, seperti memberi hormat, memberi pujian, dan mengungkapkan perasaan sedih, marah, kecewa, gembira,[8] kagum, setuju, ataupun menjawab ungkapan terima kasih dan sebagainya, yang mana formula-formula tersebut tidak hanya dengan satu bentuk namun beragam, contoh: untuk menjawab pertanyaan كيف حالك ؟/kaifa hâluk? (bagaimana kabarmu?), bisa dengan sejumlah pola jawaban antara lain: بخير/bikhair , الحمدلله / alhamdulillah, لا بأس /la ba’s, (ketiganya berarti baik-baik saja), أفضل منك/afdhal mink (lebih baik),لست علي مايرام/lastu ala mâ yurâm (keadaanku kurang baik),[9] atau untuk mengungkapkan rasa kagum ataupun senang bisa dengan pola : ما أجمل هذه المناظر/mâ ajmal hâdzihi al-manâzhir (alangkah indahnya pemandangan ini), يالها من جوهرة ثمينة/ya lahâ min jauharah tsamînah (alangkah indahnya berlian ini), كم أنت طويل/kam anta thawîl (betapa tingginya kamu), dan كم أنا سعيد بالعودة الي البيت/kam ana sa’îd bi al-’audah ila al-bayt (betapa senangnya aku pulang ke rumah), atau untuk mengungkapkan kesetujuan bisa menggunakan pola: فعلا/ fi’lan (memang begitu), أنت علي حق/anta ala haqqin, أنت علي صواب/anta ’ala shawâb (keduanya berarti: anda benar).[10] Beragam pola dan fungsi bahasa yang digunakan dalam aktifitas komunikasi inilah yang dikatakan sebagai kebermaknaan dalam pendekatan komunikatif.

4)      Adanya pemberian tugas kepada pembelajar untuk bermain peran (القيام بالأدوار) dengan dialog-dialog yang sederhana, yang merupakan perwujudan aktifitas interaksi sosial[11] di kalangan para pembelajar. Masing-masing pembelajar bisa berperan sebagai siapa saja sesuai dengan kemampuannya. Berikut contoh dialog antara Rusydî dan Nabîl yang bisa diperankan oleh para pembelajar sambil mempelajari pola-pola ungkapan sesuai fungsi-fungsi komunikasi dalam interaksi sosial pembelajar, contohnya dialog berikut dengan judul “تعارف“:

Tabel 1.2. Contoh dialog untuk bermain peran.

 

: السلام عليكم

رشدي

: وعليكم السلام

نبيل

: اسمي رشدي ، وانت ما اسمك؟

رشدي

: أنا نبيل ، أهلا يا رشدي

نبيل

: أنا سعيد بمعرفتك

رشدي

: فرصة سعيدة ، من أين أنت؟

نبيل

: أنا من جاكرتا، ومن أين أنت؟

رشدي

: أنا من مالانج

نبيل

: ماذا تعمل من فضلك؟

رشدي

: أعمل مدرسا و أنت، ما مهنتك؟

نبيل

: أنا صحافي، شكرا والي اللقاء.

رشدي

: الي اللقاء

نبيل

Sumber: Ahmad Fuad Effendy dkk, al-Lughah al-Arabiyyah: Bahasa Arab: Bahasa Komunikasi Internasional (untuk SMA dan MA), (Malang: Misykat ), Cet. II tahun 2005.

 

5)      Adanya tugas-tugas yang berorientasi kepada masyarakat, yaitu aktifitas pembelajar dalam berkomunikasi dengan para penutur asli, seperti mencari informasi apa saja di kedutaan-kedutaan Arab, organisasi-organisasi yang beranggotakan orang-orang Arab, atau kalau hal ini tidak memungkinkan, aktifitas pembelajar bisa dengan alternatif lain yakni aktifitas di luar kelas sebagai pemandu turis-turis asing, penerjemah, studi banding ke sekolah-sekolah yang menerapkan penggunaan bahasa Arab sebagai bahasa wajib di sekolah atau asramanya dan sebagainya.

6)      Adanya aktifitas pembelajaran berbasis masalah, yaitu tugas-tugas untuk memecahkan problem-problem,[12] misalnya sebelum melakukan perjalanan atau ketika berada dalam cuaca yang tidak bersahabat di tengah hutan, guru memberikan kebebasan pembelajar untuk mengungkapkan dengan bahasanya sendiri tentang pentingnya membawa jaket atau mantel dan sebagainya, atau juga tugas untuk menceritakan kembali proses perjalanan mendaki gunung Rinjani dengan bahasa Arab yang disusun oleh pembelajar itu sendiri kemudian dipresentasikan di depan kelas dan sebagainya.    

7)      Adanya pemberian latihan komunikasi oleh guru kepada pembelajar,[13] yakni melatih pembelajar berbicara dengan pemberian contoh kalimat terlebih dahulu, kemudian meminta pembelajar untuk saling bertanya tentang keadaan sebenarnya dari mereka masing-masing. Latihan ini bisa dalam bentuk individual di mana guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada pembelajar umpamanya: ماسم أبيك؟/mâsmu abîk? (siapa nama bapakmu), ماسم أمك؟/masmu ummik? (siapa nama ibumu), هل لك أخ؟/hal laka akh? (apakah kamu memiliki saudara), كم أخا لك؟/kam akhan laka? (berapa saudaramu), كم أخت لك؟/kam ukht laka? (berapa saudarimu), كم عمر أخيك؟/kam umr akhîk? (berapa umur saudaramu) dan sebagainya. Latihan-latihan ini selanjutnya diterapkan berpasangan dan dalam kelompok-kelompok kecil, kemudian masing-masing pembelajar melaporkan hasil percakapannya kepada seluruh pembelajar dengan redaksi bahasanya masing-masing. Latihan ini tidak hanya mengajarkan pola-pola namun tidak terduganya respon yang muncul dari percakapan antar pembelajar menjadikan aktifitas komunikasi tersebut menjadi realistis dan bermakna.

8)      Adanya aktifitas berbahasa berupa debat, diskusi, forum, panel dengan menggunakan bahasa Arab dan sebagainya dengan topik-topik sederhana yang telah ditentukan oleh guru, atau juga simulasi percakapan melalui telepon yang diperagakan oleh para pembelajar guna melatih keterampilan berbicara dengan topik-topik yang telah ditentukan sebelumnya.[14] Pertama-tama guru membagi pembelajar ke dalam beberapa kelompok atau sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas jumlah pembelajar di kelas belajar, kemudian masing-masing kelompok ada yang bertindak sebagai kelompok pendukung (مؤيد) dan ada kelompok penentang (معارض) terhadap topik yang diperdebatkan, sedangkan guru langsung bertindak sebagai juri. Adapun contoh topik-topik yang bisa dijadikan bahan debat antara lain pada tabel berikut ini:

Tabel 2.2. Contoh bahan diskusi atau debat

 

Bahan Diskusi atau Debat

 تعليم مادة الحديث أصعب من تعليم مادة الفقه

1

مدرس اللغة العربية الأضيل أفضل من مدرس اللغة العربية المحلي

2

 تعلم العربية داخل البلاد أفضل من تعلم العربية خارج البلاد

3

مطالعة الدروس في الصباح أفضل من مطالعة الدروس في المساء

4

الزواج المبكر أفضل من الزاج المتأخر

5

Sumber: Bahan debat pada kuliah pembinaan bagi mahasiswa Pascasarjana non Reguler Jurusan Pendidikan Bahasa Arab angkatan 2006 UIN Syarif Hidayatulah, dalam rentang bulan Maret-Mei 2006-2007.  

Sedangkan contoh materi yang bisa dijadikan simulasi percakapan telepon bagi para pembelajar seperti pada tabel berikut ini, yakni percakapan yang dilakukan oleh tiga orang yaitu Nûr, Ishâm dan Tareq:

Tabel 3.2. Bahan simulasi percakapan telepon

 

Bahan Simulasi Percakapan Telepon

!ألو :

نور

صباح الخير يانور :

عصام

عصام !كيف حالك؟ :

نور

بخير. الحمد لله،وأنت؟ :

عصام

الحمد لله. أين أنت؟ :

نور

أنا في المدينة المنورة، في الفندوق :

عصام

ممتاز!…هاهو طارق. :

نور

بابا! :

طارق

كيف الحال يا طارق؟ :

عصام

أنا بخير. هل المدينة المنورة هي مدينة الرسول؟  :

طارق

نعم. أنت تلميذ جيد يا طارق. :

عصام

شكرا يا بابا… :     

طارق

Sumber: Bahige Mulla Huech dan Team, Tareq: Skrip Video dan Audio Bahasa Arab Berikut Petunjuk Jawabannya, (Spanyol: Didaco, SA. 2003), h. 2

Dalam materi diskusi (debat) maupun percakapan telepon di atas, nampak bahwa kebermaknaan dalam pembelajaran bahasa komunikatif bisa dilakukan dengan latihan memperagakan, namun tidak terbatas pada pola-pola yang dihafalkan saja, tetapi untuk menemukan fungsi-fungsi bahasa seperti bagaimana bertanya dan menjawab pertanyaan dengan benar tentang “mengucapkan salam, menanyakan kabar, tempat, keadaan, atau ungkapan penghargaan kepada orang lain dan sebagainya“ yang sesuai dengan konteks kebahasaan yang sesungguhnya yang bisa berguna nantinya jika terjadi pada percakapan yang sesungguhnya.

Seorang guru dalam menyusun materi pelajaran tidak hanya sistematis dan praktis bagi pembentukan suatu kebiasaan dengan latihan-latihan, tetapi juga penggunaan bahasa dengan penuh kebermaknaan dalam aktifitas berkomunikasi sebagaimana bahasa yang digunakan oleh penutur asli (الناطق الأصلي),[15] namun perlu diingat bahwa pendekatan komunikatif tidak mengajarkan tuturan bahasa persis seperti penutur asli mengucapkan, namun aktifitas komunikasi yang dijalankan jika sudah bisa dipahami bersama baik pembicara maupun pendengar dengan konteks situasi yang mengitarinya, maka hal itu juga merupakan makna ’kebermaknaan’. Jadi, dalam pendekatan komunikatif mempelajari kebermaknaan suatu ujaran atau tulisan lebih diutamakan dari pada mempelajari struktur-struktur bahasa yang tidak selalu mengandung kebermaknaan.

 

b)      Kontekstualisasi Pembelajaran Bahasa Arab

Kata kontekstual berasal dari bahasa Inggris yang alam bahasa Latinnya terdiri dari kata con = with dan textum =woven. Contextual berarti mengikuti konteks atau dalam konteks. Kata context berarti situasi dan kejadian.[16] Kontekstual merupakan konsep pembelajaran yang membantu guru untuk menghubungkan materi pelajaran dengan situasi dunia nyata dan mendorong pembelajar untuk menciptakan hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat.[17]

Pembelajaran kontekstual bermula dari pandangan ahli pendidikan klasik John Dewey yang pada tahun 1916 mengajukan kurikulum dan metodologi pengajaran yang berhubungan dengan pengalaman dan minat pembelajar. Filosofi pembelajaran kontekstual berasal dari paham progresivisme John Dewey. Intinya pembelajar akan belajar dengan baik apabila apa yang mereka pelajari berhubungan dengan apa yang telah mereka ketahui, serta proses belajar akan produktif jika pembelajar terlibat aktif dalam proses belajar di sekolah.[18] Dalam hal ini, pembelajaran bahasa yang kontekstual bercirikan pelibatan pembelajar secara aktif dan penyajian materi ajar yang sesuai dengan kehidupan sehari-hari pembelajar, sehingga diharapkan pembelajar dapat mengkonstruk sendiri pengetahuan dan keterampilan bahasanya secara mandiri.

Dalam kaitannya dengan pendekatan komunikatif, posisi kata dan kalimat atau ungkapan yang digunakan tidak terlepas dari konteks kebahasaan yang mengitarinya, entah terkait dengan konteks situasi maupun budaya di mana bahasa tersebut digunakan, karena menurut Hymes, bahasa adalah lebih dari sekedar mempersoalkan kegramatikalan, yang justru lebih penting adalah pertimbangan kecocokan penggunaan suatu tuturan pada konteks sosiokulturalnya.[19]

Konteks turut menentukan arti suatu kata, sehingga kontekstualisasi sangat diperlukan untuk menentukan dan memperjelas arti suatu kata atau kalimat. Konteks ialah keadaan atau situasi di mana suatu peristiwa terjadi. Lebih jelas lagi konteks ialah kata atau kalimat lain yang ada sebelum atau sesudah suatu kata atau kalimat, yang berfungsi membantu memperjelas arti suatu kata atau kalimat tersebut.[20] Senada dengan hal tersebut, ada yang berpendapat bahwa konteks dalam ujaran adalah bentuk-bentuk kalimat atau kata dalam ungkapan atau pembicaraan yang saling berkaitan, diawali atau diakhiri oleh kata-kata lain dan bisa membantu memberikan arti tersebut dengan jelas.[21]

Semua pemakaian bahasa mempunyai konteks. Konteks yang terdiri dari lingkungan langsung di mana teks tersebut benar-benar berfungsi disebut sebagai konteks situasi. Sementara konteks yang terdiri dari latar belakang kelembagaan dan ideologis yang memberi nilai pada teks dan mendayakan penafsirannya disebut konteks budaya.[22] Jadi, suatu kata atau kalimat dapat memperjelas makna kata atau kalimat lainnya jika kata atau kalimat tersebut digunakan dalam situasi tertentu atau menerangkan suatu situasi karena situasi tersebut dapat menentukan arti suatu bentuk kata atau kalimat tersebut.

Dalam kajian tentang makna kata, arti kata akan sangat terikat oleh konteks yang melingkupinya, menurut Wittgenstein yang dikutip oleh Matsna menegaskan bahwa makna suatu kata dipengaruhi oleh empat konteks yaitu: a) Kebahasaan, b) Emosional, c) Situasi dan kondisi, dan d) Sosio-kultural.[23]

Konteks kebahasaan berkaitan dengan struktur kata dalam kalimat yang dapat menentukan makna yang berbeda, seperti taqdîm (posisi didahulukan) dan ta’khîr (posisi diakhirkan), contoh: “أحمد أتم قراءة الكتاب” /Ahmad atamma qirâ’at al-kitâb (Ahmad telah selesai membaca kitab) berbeda dengan “قراءة الكتاب أتمها أحمد”/qirâat al-kitâb atammaha Ahmad (Membaca kitab telah diselesaikan oleh Ahmad). Contoh yang lain seperti kata حبل / habl dalam al-Qur’an 1) QS. Ali Imran ayat 103 “ وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا“ / wa‘tashimû bihablillahi jamî‘a walâ tafarraqû. 2) QS: Qaf ayat 6: وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ / wanahnu aqrabu ilaihi min habli al-warîd. 3) QS. al-Masad فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ / fî jîdihâ hablun min masad. Contoh 1 berarti perjanjian, contoh 2 berarti tali leher (tenggorokan) sedangkan contoh 3 berarti tali dari sabut.[24]

Konteks emosional dapat menentukan makna bentuk kata dan strukturnya dari segi kuat dan lemahnya muatan emosional, seperti dua kata yang berarti “membunuh”, yaitu اغتال dan قتل, yang pertama digunakan dalam pengertian membunuh orang yang mempunya kedudukan sosial yang tinggi dan dengan motif politis, sedangkan yang kedua berarti membunuh secara membabi buta dan ditujukan kepada orang yang tidak memiliki kedudukan sosial yang tinggi.

Konteks situasi ialah situasi eksternal yang membuat suatu kata berubah maknanya karena perubahan situasi yang mengitarinya. Contoh: kata ذَهَبَ memiliki arti yang beragam sesuai dengan konteks penggunaannya. ذهب خالد إلى جاكرتا (Khalid pergi ke Jakarta; konteks situasinya yakni ada kata جاكرتا yang mengikat kata  ذهب harus diartikan ‘pergi’); berbeda denganذهب الامام الشافعى إلى أن لمس المرأة مبطل الوضوء (Imam Syafi’i berpendapat bahwa bersentuhan dengan wanita bisa membatalkan wudhu; konteksnya yakni adanya kalimat أن لمس المرأة مبطل الوضوء yang mengikat kata ذهب mesti diartikan ‘berpendapat’).

Adapun konteks sosio-kultural ialah nilai-nilai sosial dan kultural yang mengitari kata yang menjadikannya mempunyai makna yang berbeda dari makna leksikalnya (kamus). Makna yang demikian dapat dijumpai dalam pribahasa: “بلغ السيل الزبا” maknanya adalah “Nasi telah menjadi bubur”, bukan “air bah telah mencapai tempat tinggi”. Selain itu, peribahasa “قبل الرماء تملأ الكنائن /qabla al-rimâ’i tumla’u al-kanâ’in (sebelum memanah, penuhi dulu tempat anak panahmu), di Indonesia, pribahasa ini sama maknanya atau diartikan dengan pribahasa “sedia payung sebelum hujan”. Latar belakang sosial budaya orang Arab dahulu adalah sering mengadakan perang, maka mereka mengatakan pribahasa seperti itu. Sedangakn bangsa kita sering mengalami musim hujan, maka kita menggunakan pribahasa itu.[25] Jadi, pengetahuan tentang konteks sosio-kultural pemilik bahasa yang dipelajari sangat penting, karena dengan pengetahuan tersebut diharapkan dapat lebih cepat memahami pengertian dari ungkapan-ungkapan, istilah-istilah dan benda-benda yang khas bagi bahasa Arab serta mampu menggunakan ungkapan-ungkapan tersebut pada situasi dan waktu yang tepat.   

Dalam analisis komunikatif, kontekslah yang menjadi pijakan utama, yang termasuk dalam kategori konteks antara lain ihwal siapa yang mengatakan, kepada siapa dikatakan, tempat dan waktu diujarkan, kemudian anggapan-anggapan mengenai yang terlibat di dalam tindakan mengutarakan kalimat tersebut. Dalam hal ini, ada dua hal yang ditangani analisis komunikatif yaitu 1) suatu satuan lingual atau kalimat dapat dipakai untuk mengungkapkan sejumlah fungsi dalam komunikasi; 2) suatu fungsi komunikatif tertentu dapat diungkapkan dengan sejumlah satuan lingual.[26]

Contoh 1): satuan lingual الساعة السابعة إلا الربع (kalimat deklaratif) dapat digunakan untuk mengungkapkan sejumlah fungsi di dalam komunikasi. Salah satunya, kalimat itu dapat berupa jawaban (yang informatif) terhadap pertanyaan كم الساعة الآن؟”. Selain itu, dengan struktur yang sama juga bisa menunjukkan fungsi komunikatif yang lain contoh jika kalimat itu, diucapkan oleh seorang ibu yang mengelola rumah pondokan mahasiswi dan diarahkan ke mahasiswa yang sedang bertamu menemuai mahasiswi yang mondok di tempat tersebut, maka kalimat itu dapat diartikan sebagai perintah pengusiran secara tidak langsung. Jadi, fungsi komunikatif tidak terbatas pada deklaratif dan informatif saja tetapi juga bisa digunakan untuk menyatakan perintah (imperatif).

Sedangkan contoh ihwal 2) yakni suatu fungsi komunikatif tertentu dapat diuraikan dengan berbagai cara, sekurang-kurangnya ada empat macam satuan lingual yang dapat digunakan untuk menyatakan perintah “إقفال الباب” antara lain:

1.      أقفل الباب !  / Aqfil al-bâb ! (Tutuplah pintu itu!)

2.      هل تفضلت باءقفال الباب ؟ /hal tafadhdhalta bi iqfâl al-bâb?(Maukah anda menutup pintu itu?)

3.      مارأيك لو تجنبنا التيار البارد؟ /mâ ra’yuk law tajannabnâ al-tayyâr al-bârid (Apa pendapat anda jikalau kita terhindar dari hawa yang dingin?)

4.      الجو بارد جدا في هذه الغرفة. / al-jawwu bârid jiddan fî hâzihi al-gurfah (Udara sangat dingin di ruangan ini).[27]

Jadi, fungsi komunikatif dapat diungkapkan dengan konstruksi imperatif (1), konstruksi introgatif (2 , 3), dan konstruksi deklaratif (4), tapi tentunya dengan memperhatikan dukungan konteks yang mengitarinya sehingga saling pengertian antara pembicara dan pendengar dapat terwujud. Pengertian dalam berkomunikasi, akan jelas jika ungkapan-ungkapan di dalamnya saling mendukung memperjelas apa yang menjadi tujuan dalam berkomunikasi (kontekstualisasi). Tujuan dalam berkomunikasi, akan lebih jelas lagi jika bahasa yang digunakan sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh bahasa tersebut (situalisasi).

 

c)      Pembelajaran yang Berpusat pada Pembelajar

Breen dan Candlin yang dikutip oleh Richards dan Rodgers mengemukakan, guru paling tidak memiliki dua peran penting dalam pembelajaran bahasa dengan pendekatan komunikatif yaitu a) Memfasilitasi proses komunikasi antara seluruh peserta yang ada di kelas, dan antara seluruh peserta dengan sejumlah aktifitas dan teks. b) Bertindak sebagai peserta independen di dalam kelompok belajar-mengajar. atau peran yang diasumsikan untuk guru yaitu analis kebutuhan, konsultan dan manajer dalam kelompok belajar-mengajar. [28]

Demikian juga dengan pembelajar, ia memiliki peranan yang cukup signifikan dalam pembelajaran bahasa Arab berpendekatan komunikatif, karena pembelajar merupakan poros pembelajaran pada pendekatan ini. Fungsi-fungsi bahasa komunikatif yang dipilih oleh seorang guru dan materi yang dipersiapkan hendaknya muncul dari aspirasi dan kebutuhan pembelajar dan diwujudkan melalui tujuan-tujuan komunikatif. Partisipasi pembelajar dalam percakapan-percakapan komunikatif di dalam kelas hendaknya bermakna dan kontekstual karena akan digunakan dalam lingkungan masyarakat umum.[29]

Pendekatan komunikatif menyajikan pembelajaran yang berpusat pada pembelajar, yaitu cara berfikir tentang proses belajar-mengajar yang menekankan pada tanggung jawab pembelajar itu sendiri terhadap sejumlah aktifitas pembelajaran seperti perencanaan, interaksi antara guru dan sesama pembelajar, penelitian dan penilaian.[30] Pembelajar menjadi sosok yang konstruktifistik terhadap pengetahuannya sendiri berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya dan bukan pengetahuan yang diberikan utuh oleh guru dengan verbalisme yang berlebihan. Pembelajar bukanlah bank (meminjam istilah Paolo Freire)[31] yang hanya menunggu dan menerima begitu saja setoran berupa pelajaran-pelajaran tanpa melalui analisis kebutuhan pembelajar terlebih dahulu.

Menjadi sebuah tanggung jawab bagi guru untuk menganalisis kebutuhan pembelajarnya dalam pembelajaran bahasa. Hal ini bisa dilakukan secara informal dan pribadi yaitu satu persatu bersama para pembelajarnya ataupun formal dengan sejumlah tes yang berisi item-item pertanyaan bagi pembelajar. Analisis ini diarahkan untuk mengetahui persepsi pembelajar tentang gaya belajarnya, pengetahuan yang dimilikinya, dan tujuan belajarnya. Dari itu, guru diharapkan membuat perencanaan pembelajaran baik secara kelompok atau individu yang bisa memberikan respon terhadap analisis kebutuhan pembelajar. Setelah itu, dapat disusun materi-materi pembelajaran bahasa Arab yang seperti apa dan bagaimana mengajarkannya kepada pembelajar agar sesuai dengan kebutuhan berbahasa pembelajar.

Dalam penyusunan bahan atau materi pelajaran dalam pendekatan audiolingual lebih berorientasi kepada semata-mata prinsip kompleksitas ahli bahasa yaitu menyajikan butir-butir tata bahasa atas dasar kesulitannya, diurut mana yang lebih sederhana, yang mana yang lebih lazim dan yang lebih mudah untuk dipelajari. Hal ini sesuai dengan teor belajar behaviorisme yang mengedepankan suatu perilaku akan menjadi kebiasaan apabila diulang-ulang dan dimulai dengan tahap yang paling sederhana lalu ke yang sukar.[32] Sedangkan dalam pendekatan komunikatif, pengurutan dalam penyajian materi atau bahan pelajaran didasarkan pada pertimbangan isi, fungsi dan minat pembelajar yang tersaji melalui analisis kebutuhan pembelajar. Jadi, untuk menentukan bahan mana yang akan diajarkan kepada pembelajar dalam penyusunan bahan pelajaran, tentu didasarkan kepada pertimbangan akan kemampuan komunikatif yang bagaimanakah yang diperlukan oleh pembelajar. Yang dilakukan adalah kemudian menentukan tujuan akhir atau tujuan sementara yang ingin dicapai oleh pembelajar, dan bukan menentukan bahan pelajaran ke dalam urutan: dasar-madya-lanjut. [33]

Pengurutan ini didasarkan pada teori belajar kognitif yakni mengedepankan keaktifan pembelajar dalam proses pembelajaran. Lingkungan bukanlah penentu awal dan akhir positif dan negatifnya hasil pembelajaran. Ketika seseorang menerima setimulus dari lingkungannya, dia melakukan pemilihan sesuai dengan minat dan keperluannya, menginterpretasikannya, menghubungkannya dengan pegalalamannya terdahulu, baru kemudian memilih alternatif respon yang paling sesuai.[34] Jadi, pengurutan materi ajar jelas bukan berdasarkan konsep dari mudah ke sulit, tapi disesuaikan dengan kebutuhan pembelajar, yakni fungsi komunikasi apa yang diinginkan untuk dikuasai oleh pembelajar, maka itu yang diajarkan.

Adapun fungsi-fungsi bahasa yang perlu diketahui oleh pembelajar antara lain seperti yang dikemukakan oleh Halliday yang dikutip oleh Tarigan yaitu a) fungsi instrumental; menyatakan keperluan atau pelayanan. Contoh: “Saya mau….”, “Beri saya……” b) Fungsi regulasi; menyatakan perintah atau permintaaan untuk mengawasi perilaku atau tindak-tanduk orang lain. Contoh: kerjakan itu! Mari kita pergi. c) Fungsi interaksional; bahasa digunakan untuk berinteraksi, untuk bergaul: menyapa, memanggil Nama, memberi reaksi atau responsi terhadap orang lain. Contoh: “Saya dan kamu…..”, “Lihat sini….”, “Ini buat kamu….”, d) fungsi personal; bahasa digunakan untuk mengekspresikan kekhasan, keunikan dan kesadaran diri sendiri seperti perasaan pribadi, minat, kebencian, keluhan, rasa heran dan gembira, contoh: “Saya akan pergi….”, “saya sangat…”, e) fungsi heuristik; bahasa yang digunakan untuk bertanya dan menjawab pertanyaan. Contoh: “Katakan kepada saya mengapa…?”, “Apa ini?”, “Siapa itu?” f) fungsi imajinatif; bahasa yang digunakan seseorang untuk menciptakan lingkungan sendiri, membuat cerita, beramain. g) Fungsi informatif; bahasa yang digunakan untuk memberikan informasi yang belum diketahui oleh orang lain. Contoh: “Ada yang akan saya ceritakan kepadamu”. “Saya punya….baru.”[35]          

Dengan mengetahui fungsi-fungsi bahasa, guru tentunya akan lebih memahami fungsi-fungsi bahasa seperti apa yang akan diajarkan kepada pembelajarnya, hal ini kemudian akan berimbas kepada penyusunan dan prosedur penyajian materi pembelajaran bahasa kepada pembelajar. Dalam pendekatan komunikatif, materi ajar disajikan dengan prosedur yang beragam, salah satunya bisa dengan pola yang ditawarkan oleh Finochiaro dan Brumfit yaitu Dialog pendek disajikan dengan didahului penjelasan tentang fungsi-fungsi ungkapan dalam dialog itu dan situasi di mana dialog itu mungkin terjadi. Setelah itu latihan mengucapkan kalimat-kalimat pokok secara perorangan, kelompok atau klasikal.

Langkah berikutnya yakni pertanyaan diajukan tentang isi dan situasi dalam dialog itu, dilanjutkan pertanyaan serupa tetapi langsung mengenai situasi masing-masing pembelajar. Di sini kegiatan komunikatif yang sebenarnya telah dimulai. Lalu kelas membahas ungkapan-ungkapan komunikatif dialog tersebut dan pembelajar diharapkan dapat menarik sendiri kesimpulan tentang aturan tata bahasa yang termuat dalam dialog. Setelah itu, guru memfasilitasi dan meluruskan apabila terjadi kesalahan dan penyimpulan kemudian pembelajar melakukan kegiatan menfasirkan dan menyatakan suatu maksud sebagai bagian dari latihan komunikasi yang lebih bebas dan sepenuhnya tidak berstruktur. Kemudian langkah terakhir yaitu guru melakukan evaluasi dengan mengambil sampel dari penampilan pembelajar dalam kegiatan komunikasi bebas.[36]

Demikian penjelasan mengenai tiga prinsip pendekatan komunikatif yang terdiri dari kebermaknaan dalam setiap aktifitas berbahasa, kontektualisasi dalam pembelajaran bahasa (Arab) dan pembelajaran yang berpusat pada pembelajar. Ketiganya digunakan sebagai parameter untuk menganalisis sejumlah materi bahan ajar Tareq dan menyimpulkan sejauhmana bahan ajar ini mengadopsi pendekatan komunikatif di dalam pembelajarannya.



[1] Jack C. Richards dan Rodgers S. Theodore, Approach and Methodes, h. 67-68

[2] Lihat Jack C Richards dan Theodore S Rodgers, Approaches and Methods, h. 72. Lihat juga Ahmad Fuad Effendy, Metodologi Pengajaran,  h. 55.

[3] Jenice Yalden, The Communicative Syllabus: Evolution, Design & Implementation, (Oxford: Pergamon Press, 1985), h. 33

[4] Mary Finochiaro dan Michael Bonomo, The Foreign Language Learner: A Guide for Teachers (New York: Regents Publishing Company, Inc. 1973), h. 3

[5] Lihat Rusydî Ahmad Thu‘aimah dalam Ta‘lîm al-Lughah Lighair al-Nâthiqîna Biha, h. 122. Lihat juga  Sri Utari Subyakto Nababan, Metodologi Pengajaran, h. 70-71.

[6] Sri Utari Subyakto Nababan, Metodologi Pengajaran, h. 70. lihat juga Rusydi Ahmad Thu‘aimah dalam Ta‘lîm al-Lughah, h. 122.

[7] Lihat Abdul Chaer dan Leoni Agustina, Sosiolinguistik: Perkenalan Awal, (Jakarta, Rineka Cipta, 2004) cet. II. 14-15. Lihat juga Sri Utari Subyakto Nababan, Metodologi Pengajaran, h. 70-71.  

[8] Sri Utari Subyakto Nababan, Metodologi Pengajaran, h. 178

[9] Rusydi Ahmad Thu‘aimah dalam Ta‘lîm al-Lughah, h. 123

[10] Bahige Mulla Huech dan Team, Tareq : Skrip Video dan Audio Bahasa Arab Berikut Petunjuk Jawabannya, (Spanyol: Didaco. S.A, 2003), h. 14

[11] Lihat Jack C Richards dan Theodore S Rodgers, Approaches and Methods, h. 76  

[12] Sri Utari Subyakto Nababan, Metodologi Pengajaran, h. 177-178

[13] Lihat Ahmad Fuad Effendy, Metodologi Pengajaran,  h. 96

[14] Lihat Jack C Richards dan Theodore S Rodgers, Approaches and Methods, h. 76. Lihat juga Sri Utari Subyakto Nababan, Metodologi Pengajaran, h. 180.

[15] Mary Finochiaro dan Michael Bonomo, The Foreign Language Learner, h. 24

[16] Diakses dari http://www.tutorcom.my/lada/tourism/edu-kontekstual/hlm. tanggal 20 juli 2008 jam 19.30 wib

[17] Alan Blanchard, Contextual Teaching and Learning. http://www.horizonshelpr.org. Diakses pada tanggal 15 Juli 2008 jam 13.00 wib.   

[18] Nurhadi, dkk. Kontekstual dan penerapannya dalam KBK, (Malang: UM Press, 2003), h. 8.

[19] Lihat Bambang Kaswanti Purwo, Pragmatik dan Pengajaran Bahasa, h. 49

[20] Hornby, A.S., Oxford Advanced Learner’s Dictionary Of Current English (Oxford: Oxford University Press, 1980), h. 184.

[21] Mary Finochiaro dan Michael Bonomo, The Foreign Language Learner, h. 24. Lihat juga S.C. Dik dan J.G. Kooij, “Ilmu Bahasa Umum, (terj.), (Jakarta: RUL, 1994), h. 24.

[22] M.A.K. Halliday dan Ruqaiya Hasan, Bahasa, Konteks dan Teks: Aspek-Aspek Bahasa dalam Pandangan Semiotik Sosial, penerjemah Asruddin Barori Tau, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1992), 62-63. Bandingkan dengan Mary Finochiaro dan Michael Bonomo., The Foreign Language Learner, h. 282, menyatakan bahwa konteks situasi adalah hubungan antara unsur-unsur, peristiwa atau benda-benda yang ada disekitarnya dengan bahasa yang digunakan untuk memaparkan unsur-unsur, peristiwa atau benda-benda tersebut.

[23] Moh. Matsna. HS, Orientasi Semantik al-Zamakhsyari: Kajian Makna Ayat-Ayat Kalam  (Jakarta: Anglo Media, 2006) h. 21-22

[24] Nadiyah Tsâbit,  Diakses dari http://www.alwhyyn.net tanggal 21 Juli 2008 jam 14.00 WIB.

[25] Chatibul Umam, ”Problematika Pengajaran Bahasa Arab”, Jurnal al-Turats, No. 8, 1999, h. 11-12

[26] Bambang Kaswanti Purwo, Pragmatik dan Pengajaran Bahasa, h. 14-15.

[27] Hasan Mardhî Hasan, al-Lughah wa al-Tafkîr, (Beirut: Dâr al-Fikr, 1994), h. 88

[28] Lihat Jack C. Richards dan Rodgers S. Theodore, Approaches and Methods, h. 77.

[29] Abd al-Azîz ibn Ibrâhîm al-`Ushailî, Asâsiyyât al-Ta’lîm al-Lughah al-‘Arabiyyah li al-Nâthiqîn bilughât Ukhra,  (Makkah al-Mukarramah: Jâmi’ah Umm al-Qurâ, 2006), h. 363

[30] Cannon R. Guide to Support the Implementation of The Learning and Teaching Plan Year 2000, (ACUE: The University of Adelaide, 2000).

[31] Lihat Greg Dimitriadis dan George Kamberelis, Theory for Education, (New York: Routledge Taylor & Francis Group, 2006), h. 122

[32] Jack C. Richards dan Rodgers S. Theodore, Approaches and Methods, h. 51

[33] Lihat Bambang Kaswanti Purwo, Pragmatik dan Pengajaran Bahasa, h. 59

[34] Ahmad Faud Effendy, Metodologi Pengajaran Bahasa Arab, h. 11

[35] Lihat Henry Guntur Tarigan, Pembelajaran Kompetensi Komunikatif, h. 69-70

[36] M. Finochiaro dan C. Brumfit, the Functional-Notional Approach: from Theory to Parctice. (New York: Oxford University Press, 1983), h. 107-108.





Esensi Pendekatan Komunikatif

12 09 2008

Para ahli bahasa berbeda pendapat tentang pengertian pendekatan komunikatif. Sebagian mereka berpendapat bahwa pendekatan komunikatif bukanlah sebuah pendekatan sempurna yang memiliki karakteristik tersendiri dan pembelajaran yang jelas, akan tetapi merupakan percampuran strategi-strategi pengajaran yang memiliki tujuan tertentu yaitu membelajarkan pembelajar untuk menggunakan bahasa dan mengkonstruknya sendiri, jadi bukan hanya terpaku pada struktur tata bahasanya.[1]

Pendekatan komunikatif merupakan pendekatan yang memandang bahasa lebih tepat dilihat sebagai sesuatu yang berkenaan dengan apa yang dapat dilakukan atau ditindakkan dengan bahasa (fungsi) atau berkenaan dengan makna apa yang dapat diungkapkan melalui bahasa (nosi), tetapi bukannya berkenaan dengan butir-butir tata bahasa. Dengan perkataan lain, kita menggunakan bahasa untuk meminta maaf, menyapa, membujuk, menasehati, memuji, atau untuk mengungkapkan makna tertentu, tetapi tidak untuk membeberkan kategori-kategori gramatikal yang ditemukan oleh para ahli bahasa.[2] Hal ini juga didukung oleh Sumardi, bahwa pendekatan ini disusun atas dasar fungsi dan kebutuhan pembelajar, dengan harapan pembelajar dapat menggunaka bahasa untuk berkomunikasi dalam situasi yang sebenarnya dan bukan komunikasi yang dibuat-buat.[3]

Sementara menurut Savignon dalam bukunya Communicative Competence: Theory and Classroom Practice, sebagaimana dikutip oleh Parera bahwa pendekatan komunikatif yaitu pemberian aktifitas penggunaan bahasa sesuai dengan kaidah-kaidah tata bahasa, atau pembelajaran bahasa dari struktur permukaan tata bahasa ke makna (from surface gramatical structure to meaning).[4]

Pendekatan komunikatif tidaklah menafikan keberadaan struktur bahasa dalam pembelajaran secara total, namun pendekatan ini memberikan peran unsur-unsur komunikatif yang lebih banyak dibanding unsur-unsur struktur dalam pembelajaran bahasa. Sesuai dengan apa yang diungkapkan Wilkins dan Widdowson bahwa fungsi dan nosi selalu dilandasi dengan ukuran gramatikal dan situasi yang ada. Struktur bahasa tidak selamanya bisa digantikan oleh pandangan fungsi, bahkan menurut Wilkins sendiri sebagai orang yang membidani pendekatan ini juga mengajak para pengikutnya agar apa yang dinamakan nosi dan fungsi hendaknya tidak mendorong suatu posisi yang ekstrim ke posisi ekstrim lainnya. Tetapi nosi dan fungsi hanya sekedar ”…to change the balance of priorities by emphasizing function and meanings through language” (…mengubah keseimbangan prioritas dengan menekankan fungsi dan makna melalui bahasa).[5] Jadi dari pelopornya sendiri bermaksud untuk memberikan penekanan yang wajar antara tata bahasa dan maknanya dalam konteks.

Untuk memperjelas pemahaman tentang pendekatan komunikatif ini, Nababan dalam bukunya Metodologi Pengajaran Bahasa, mengemukakan sejumlah ciri yang melekat pada pendekatan komunikatif antara lain: 1) adanya aktifitas komunikasi yang sebenarnya (realistis); 2) adanya aktifitas komunikasi yang penuh kebermaknaan; 3) adanya silabus komunikatif yang disiapkan telah melalui analisis kebutuhan pembelajar; 4) adanya pembelajaran berpusat kepada pembelajar; 5) adanya peran guru sebagai fasilitator, penyuluh, penganalisis kebutuhan pembelajar dan manager kelompok; 6) peran materi pengajaran adalah untuk mendukung aktifitas komunikatif pembelajar yaitu materi yang berbasis teks (text based), berbasis tugas (task based), dan berbasis bahan otentik (realia.).[6]

Komunikasi yang realistis akan terjadi dalam pergaulan sehari-hari dan bukan dibuat-buat,[7] sebagaimana yang terjadi pada pendekatan audiolingual yang menitikberatkan pembelajaran bahasa pada pembiasaan pengucapan pola-pola latihan. Dengan aktifitas komunikasi yang realistis dengan bahasa yang dipelajari baik di sekolah, rumah maupun lingkungan yang lebih luas, maka akan tercipta hubungan komunikasi yang penuh kebermaknaan yakni tidak ada pembicaraan yang kurang efektif ataupun tanpa makna. Selain itu, komunikasi yang efektif dalam pembelajaran bahasa akan tercipta dengan baik bila materi ajar dan sebagainya telah melalui analisis kebutuhan pembelajar, artinya kebutuhan komunikasi pembelajar teridentifikasi lebih awal kemudian berdasarkan identifikasi itulah seorang guru menelurkannya dalam pembelajaran bahasa.[8]

Hal ini menujukkan bahwa pembelajaran harus berpusat kepada pembelajar, yakni proporsionalitas peran antara pembelajar dan guru akan lebih banyak peran aktifitas pembelajar dalam pembelajaran bahasa, oleh karena itu, pembelajar tidak lagi menunggu, menerima apalagi hanya menghafal kaidah-kaidah bahasa yang diajarkan tanpa ekplorasi dan konstruksi dari pembelajar itu sendiri terhadap pengetahuan dan praktek berbahasa yang diajarkan.[9] Namun semua itu harus didukung oleh materi ajar yang sesuai dengan pendekatan komunikatif, baik berupa teks (dialog dan bacaan bebas), tugas (bercerita tentang kehidupan sehari-hari pembelajar, menceritakan kembali hasil perjalanan ke suatu tempat dengan redaksi bahasa sendiri dan lain-lain) maupun otentik (koran, majalah, kartu identitas, rekaman suara maupun gambar dan lain-lain).[10]

Pendekatan ini berorientasi penuh pada fungsi bahasa sebagai alat komunikasi antar sesama. Untuk mengungkapkan berbagai ungkapan dalam aktifitas komunikasi yang riil, seseorang harus mengetahui sejumlah fungsi bahasa agar ia dapat mengungkapkan tuturan bahasa sesuai dengan siapa, kapan, dan bagaimana bertutur. Lyon mengemukakan ada tiga fungsi bahasa antara lain a) fungsi deskriptif bahasa yaitu untuk menyampaikan informasi faktual. Ini merupakan tipe informasi yang dapat dinyatakan atau disangkal dalam beberapa hal bahkan dapat diuji, contoh: ”dia pasti sudah tidak tidur nyenyak di kamar”, b) fungsi ekspresif bahasa yaitu untuk menyediakan informasi mengenai sang pembicara, perasaannya, pilihannya, prasangkanya, dan pengalaman masa lalunya, contoh ucapan: ”saya tidak akan mengundang mereka lagi”. c) fungsi sosial bahasa yaitu melayani, memantapkan serta memelihara hubungan-hubungan sosial antara orang-orang., contoh: ”cukup, Tuan?” digunakan oleh seorang pelayan suatu restoran untuk menandai hubungan sosial tertentu antara sang pelayan dan tamu. Sang pelayan menempatkan sang tamu dalam hubungan peran yang lebih tinggi.[11]

Sementara Halliday mengungkapkan fungsi-fungsi bahasa seperti a) fungsi instrumental; menyatakan keperluan atau pelayanan. Contoh: “Saya mau….”, “Beri saya……”, b) fungsi regulasi; menyatakan perintah atau permintaaan untuk mengawasi perilaku atau tindak tanduk orang lain. Contoh: ”kerjakan itu!”, ”mari kita pergi”. c) fungsi interaksional; bahasa digunakan untuk berinteraksi, untuk bergaul: menyapa, memanggil nama, memberi reaksi atau responsi terhadap orang lain. Contoh: “Lihat sini….”, “Ini buat kamu….”, d) fungsi personal; bahasa digunakan untuk mengekspresikan kekhasan, keunikan dan kesadaran diri sendiri seperti perasaan pribadi, minat, kebencian, keluhan, rasa heran dan gembira, contoh: “Saya akan pergi….”, “saya sangat…”, e) fungsi heuristik; bahasa yang digunakan untuk bertanya dan menjawab pertanyaan. Contoh: “Katakan kepada saya mengapa…?”, “Apa ini?”, “Siapa itu?”. f) fungsi imajinatif; bahasa yang digunakan seseorang untuk menciptakan lingkungan sendiri, membuat cerita, beramain. g) fungsi informatif; bahasa yang digunakan untuk memberikan informasi yang belum diketahui oleh orang lain. Contoh: “Ada yang akan saya ceritakan kepadamu”. “Saya punya….baru.”[12]

Fungsi-fungsi bahasa yang dimaksudkan dalam pendekatan komunikatif tidak lain tujuan pembelajarannya adalah untuk mengembangkan kompetensi komunikatif (القدرة الإتصالية) pembelajar. Konsep kemampuan komunikatif pertama kali dimunculkan sekitar 30-an tahun yang lalu oleh Dell Hymes (1972) seorang pakar sosiolinguistik, sebagai respon terhadap keterbatasan konsep kompetensi dan performansi model bahasa Chomsky[13]. Konsep Hymes ini juga kemudian lebih jauh dikembangkan oleh  Canale dan Swain ditahun 1980-an. Menurut Canale, kompetensi komunikatif ialah seperangkat pengetahuan dan kemampuan yang dibutuhkan untuk tujuan komunikasi. Ada empat komponen kompetensi komunikatif yaitu: 1) kompetensi gramatikal 2) kompetensi sosial-kultural, 3) kompetensi wacana, dan 4) kompetensi strategis.[14]

Menurut Candlin dan Widdowson dan diikuti oleh beberapa ahli bahasa di Eropa melihat bahwa menjadi sebuah kebutuhan untuk lebih memfokuskan pembelajaran bahasa kepada kecakapan atau keahlian berkomunikasi dari pada pembelajaran bahasa yang berkutat pada penguasaan struktur belaka,[15] pembelajaran bahasa dengan pendekatan komunikatif dianggap lebih relevan dengan fungsi bahasa itu sendiri yakni untuk komunikasi antar sesama, dengan kata lain bahwa pengembangan pembelajaran bahasa baik bahasa Inggris ataupun bahasa Arab dewasa ini seyogyanya diarahkan untuk kemampuan berbahasa peserta didik secara aktif.

Kegiatan komunikasi bahasa asing termasuk bahasa Arab memiliki kategori tertentu dalam kerangka pendekatan komunikatif. Littlewood dalam bukunya Communicative Language Teaching, mengkategorikan prosedur metodologis pembelajaran bahasa dalam dua kategori dan masing-masing dua sub kategori sebagaimana dikutip Parera yaitu: 1) kegiatan prakomunikasi: (i) kegiatan struktural, (ii) kegiatan kuasikomunikasi, 2) kegiatan komunikasi: (i) komunikasi fungsional, (ii) interaksi sosial.[16]

Penjenjangan komunikasi seperti dikemukakan Littlewood di atas, menempatkan pembelajaran yang bermakna dan mengaitkan pembelajaran kebahasaan atau kegiatan struktural dan kegiatan komunikasi dalam kelas antar sesama peserta atau sesuai dengan buku. Inilah yang dikatakan sebagai kegiatan prakomunikasi. Sedangkan penjenjangan komunikasi sudah mulai beranjak dari kegiatan dalam kelas ke kegiatan komunikasi yang real dan makin lama makin mendekati masyarakat pemakai bahasa. Kemudian lahirlah kegiatan interaksi sosial.[17] Kegiatan komunikasi yang terjadi secara natural dalam interaksi sosial semacam itu dapat dikatakan sebagai gambaran aplikasi pendekatan komunikatif yang berhasil dan realistis karena penggunaan bahasa sesuai fungsinya yakni komunikasi yang sebenarnya.

Aktifitas berbahasa seseorang yang terjadi saat Interaksi sosialnya dengan orang lain merupakan bentuk komunikatif yang nyata dan sebenarnya, Thua’imah mengungkapkan bahwa pendekatan komunikatif terbangun dari komunikasi yang terjadi dalam kehidupan yang nyata atau dengan kata lain seseorang memperoleh kemampuan bahasanya dengan alamiah dan bukan melalui pola-pola pembiasaan dan penguatan atau pengulang-ulangan ungkapan.[18]

Dari paparan di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa hakekat pendekatan komunikatif baik dalam pembelajaran bahasa Arab ataupun bahasa Inggris yaitu pendekatan yang memandang bahasa sebagai sebuah gejala sosial yang berfungsi sebagai alat komunikasi antar individu dalam masyarakat dengan berbagai konteks yang melingkupinya. Pendekatan ini lebih menekankan pada fungsi dan makna sekaligus dalam berbahasa, dan bukan terfokus pada tata bahasa yang seringkali tidak terkait dengan makna yang mau diungkapkan. Pendekatan ini mengajarkan bagaimana seseorang memiliki kompetensi komunikatif agar bisa menggunakan bahasa sesuai dengan fungsinya sebagai alat komunikasi sesama. Untuk lebih memahami tentang kompetensi komunikatif ini, sub bab berikut akan menguaraikan hal tersebut secara mendetail.



[1] Rusydi Ahmad Thu‘aimah dalam Ta‘lîm al-Lughah, h. 118

[2] Bambang Kaswanti Purwo mengatakan: ahli pengajaran bahasa seperti Roberts (1982), Finochiaro dan Brumfit (1983) dan Littlewood (1985) beranggapan bahwa gerakan ’baru’ ini lebih berurusan dengan penyusunan silabus dan bahan pengajaran dari pada dengan metode pengajaran.  Bambang Kaswanti Purwo, Pragmatik dan Pengajaran Bahasa, (Yogyakarta: Kanisius, 1990), h. 50

[3] Mulyanto Sumardi, Berbagai Pendekatan dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1996), cet. II, h. 12-13

[4] Jose Daniel Parera, Linguistik Edukasional, (Jakarta: Penerbit Airlangga, 1997) h. 76.   

[5] Katharina E. Sukamto (Peny.), Rampai Bahasa Pendidikan, dan Budaya: Kumpulan Esai Soenjono Dardjowidjojo (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2003), h. 7.

[6] Lihat Sri Utari Subyakto Nababan, Metodologi Pengajaran, h. 70-71, bandingkan dengan Mary Finochiaro dan Cristopher Brumfit, Functional Notional Approach: From Theory to Practice, (Oxford: Oxford University Press, 1983), h. 14 bahwa pendekatan ini: 1) mengembangkan keterampilan komunikasi pembelajar, 2) menekankan pada makna secara utuh dan fungsional, penyajian bahan tidak terpotong-potong dalam satuan-satuan lepas, 3) berorientasi pada konteks, 4) mempertajam kepekaan sosial, 5) belajar bahasa adalah belajar berkomunikasi, 6) komunikasi yang efektif merupakan tuntutan, 7) latihan komunikasi dimulai sejak permulaan belajar bahasa, 8) kompetensi komunikatif merupakan tujuan utama, 9) urutan pembelajaran tidak selalu linear, didasarkan atas kebutuhan, 10) pembelajar sebagai pusat belajar, 11) kesalahan berbahasa merupakan hal yang wajar, 12) materi senantiasa melibatkan aspek ahli bahasa, makna fungsional, dan makna sosial. Lihat juga Jack C Richard dan Theodore S. Rodgers, Approaches and Methods In Language Teaching, (New York: Cambridge University Press, 1992), h. 73-80.

[7] Lihat Rusydi Ahmad Thu‘aimah dalam Ta‘lîm al-Lughah, h. 133.

[8] Henry Guntur Tarigan, Pengajaran Kompetensi Komunikatif, (Bandung: Angkasa, 1990), h. 100. Lihat juga Jack C Richards dan Theodore S. Rodgers, Approaches and Methods, h. 78

[9] Jack C Richards dan Theodore S. Rodgers, Approaches and Methods, h. 76-77

[10] Lihat Ahmad Fuad Effendy, Metodologi Pengajaran, h. 69-70

[11] Henry Guntur Tarigan, Pengajaran Kompetensi Komunikatif, (Bandung: Angkasa, 1990), h. 66-67.

[12] Henry Guntur Tarigan, Pengajaran Kompetensi Komunikatif, h. 69-70

[13] Chomsky berpandangan bahwa kemampuan berbahasa ada dua, kompetensi dan performansi; Kompetensi (الكفاية/القدرة) adalah kemampuan ideal yang dimiliki oleh seorang penutur, menggambarkan pengetahuan tentang system bahasa yang sempurna (sistem kalimat, sistem kata, bunyi, dan makna) sedangkan performansi (الآداء) adalah ujaran-ujaran yang bisa didengar dan dibaca, merupakan tuturan seseorang apa adanya, tanpa dibuat-buat. Performansi bisa saja tidak sempurna, maka tata bahasa hendaknya memberikan kompetensi dan bukan performansi. Chomsky lebih melihat bahasa sebagai gejala psikoliguistik sedangkan Hymes melihat bahasa tidak hanya gejala psikolinguistik namun juga sosiolinguistik. Lihat Jack C. Richards dan Theodore S. Rodgers, Approaches and Methods, h. 69. Lihat juga Ahmad Fuad Effendy, Metodologi Pengajaran, h. 56 

[14] Jason Beale, Is Communicative Language Teaching A Thing Of The Past?, diakses dari http://www.jasonbeale.com/essaypages/clt_essay.html. Tanggal 23 Februari 2007 jam 19.00 WIB. Bandingkan denga Nuril Huda, Language  Learning and Teaching: Issues and Trends (Malang: IKIP Malang, 199), h. 32-33. Lihat juga Rusydi Ahmad Thu‘aimah dalam Ta‘lîm al-Lughah, h. 120. (penjelasan lebih mendalam tentang empat komponen komunikatif ada pada poin 3 bab ini tentang kompetensi dan performansi).

[15] Jack C Richards dan Theodore S. Rodgers, Approaches and Methods, h. 64.

[16] Jose Daniel Parera, Linguistik Edukasional, h. 78. Menurut Nababan, Aktifitas-aktifitas prakomunikatif ialah aktifitas-aktifitas yang belum dapat dinamakan komunikatif benar-benar, karena belum ada unsur yang diperlukan agar suatu komunikasi itu disebut wajar dan alamiah, yakni tidak adanya kekosongan informasi “information gap“. Aktififitas-aktifitas prakomunikatif bisa berupa: a) Teknik dialog, b) Dialog dengan gambar, c) Dialog terpimpin, d) Dramatisasi suatu tindakan, e) Penggunaan gambar orang yang mencerminkan profesinya, f) Teknik tanya jawab, g) Menyelesaikan kalimat, paragraf atau cerita pendek. Sedangkan aktifitas komunikatif dapat berupa a) Penyajian percakapan seperti dalam CLL (Community Language Learning: Belajar bahasa secara berkelompok/bersama), b) Pemberian tugas kepada para pelajar, c) Fomula-formula sosial dan dialog-dialog, d) Tugas-tugas yang berorientasi kepada masyarakat, e) Aktifitas-aktifitas yang bertujuan untuk memecahkan problem-problem yang ada. Sri Utari Subyakto Nababan, Metodologi Pengajaran, h. 175-178.

[17] Jose Daniel Parera, Linguistik Edukasional, h. 78

[18] Lihat Rusydi Ahmad Thu‘aimah dalam Ta‘lîm al-Lughah, h. 121.





KOMPETENSI DAN PERFORMANSI DALAM PENDEKATAN KOMUNIKATIF

12 09 2008

Istilah kompetensi dan performansi mulai populer ketika Chomsky menerbitkan bukunya yang berjudul Aspects of the Theory of Syntax. Kompetensi mengacu pada pengetahuan dasar tentang suatu sistem, peristiwa atau kenyataan. Kompetensi ini bersifat abstrak, tidak dapat diamati, karena kompetensi terdapat dalam alam pikiran manusia. Yang dapat diamati adalah gejala-gejala kompetensi yang tampak dari perilaku (kebahasaan) manusia seperti berbicara, berjalan, menyanyi, menari dan sebagainya.[1]

Dalam pengajaran, kita memiliki asumsi bahwa pembelajar memproses kompetensi tertentu dan kompetensi ini dapat diukur dan diteliti dengan cara mengamati performansi. Cara ini umumnya disebut tes atau ujian.[2] Dalam linguistik, kompetensi mengacu pada pengetahuan sistem kebahasaan, kaidah-kaidah kebahasaan, kosakata, unsur-unsur kebahasaan, dan bagaimana unsur-unsur itu dirangkaikan, sehingga dapat menjadi kalimat yang memiliki arti. Performansi merupakan produksi secara nyata seperti berbicara, menulis dan juga komprehensi seperti menyimak dan membaca pada peristiwa-peristiwa ahli bahasa.

Kompetensi kebahasaan, merupakan istilah yang dipopulerkan oleh Chomsky (1965). Dalam hal ini kompetensi mengacu pada pengetahuan gramatika. Pembicara-pendengar yang ideal dalam suatu masyarakat yang homogen mengetahui dan menguasai kaidah-kaidah gramatika bahasanya. Gramatika suatu bahasa berisi suatu deskripsi mengenai kompetensi yang bersifat intrinsik pada diri pembicara-pendengar.

Kompetensi kebahasaan adalah pengetahuan tentang sesuatu yang bersifat abstrak, yang berisi pengetahuan tentang kaidah, parameter atau prinsip-prinsip, serta konfigurasi-konfigurasi sistem bahasa. Kompetensi kebahasaan merupakan pengetahuan gramatikal yang berada dalam struktur mental di belakang bahasa. Kompetensi kebahasaan tidak sama dengan pemakaian bahasa. Kompetensi kebahasaan bukanlah kemampuan untuk menyusun dan memakai kalimat, melainkan pengetahuan tentang kaidah-kaidah atau sistem kaidah. Dalam hal ini kita dapat memahami bahwa mengetahui pengetahuan sistem kaidah belum tentu sama atau jangan disamakan dengan kemampuan menggunakan kaidah bahasa tersebut dalam aktualisasi pemakaian bahasa pada situasi konkret. Masalah bagaimana menggunakan bahasa dalam aktualisasi konkret merupakan masalah performansi.[3]

Di samping kompetensi kebahasaan, Chomsky juga mengemukakan performansi kebahasaan. Dalam kenyataan yang aktual, performansi itu tidak sepenuhnya mencerminkan kompetensi kebahasaan. Dikemukakan oleh Chomsky bahwa dalam pemakaian bahasa secara konkret banyak ditemukan penyimpangan kaidah, kekeliruan, namun semua itu masih dapat dipahami oleh pembicara-pendengar karena mereka mempunyai kompetensi kebahasaan.

Berkaitan dengan kompetensi ini, Chomsky mengemukakan konsep ’keberterimaan’ dan konsep ’kegramatikalan’. Keberterimaan mengacu pada bentuk-bentuk tuturan yang benar-benar alamiah dan dengan cepat dapat dipahami, tidak aneh, tidak asing dan tidak janggal. Sedangkan kegramatikalan, mengacu pada bentuk-betuk tuturan yang apabila dilihat dari kaidah kebahasaan yang bersangkutan tidak menyimpang. Masalah keberterimaan berkaitan dengan performansi kebahasaan, sedangkan kegramatikalan berkaitan dengan kompetensi kebahasaan. Pengertian kedua istilah tersebut tidak boleh dicampuradukkan. Contoh pada kalimat berikut (1) dan (2) merupakan contoh kalimat yang memiliki tingkat kegramatikalan dan keberterimaan yang tinggi, sedangkan kalimat (3) dan (4) memiliki kegramatikalan yang rendah namun keberterimaannya tinggi.

1.      Bapak membaca surat kabar di ruang tamu

2.      Sopyan belajar dengan sungguh-sungguh agar bisa lulus dalam ujian

3.      ….Satu kilo gula, tiga kilo tepung dan setengah kilo mentega bu….  

4.      …Besok pagi jam delapan dari stasiun Turi, dik!

Di samping kompetensi kebahasaan, dalam linguistik juga dikenal istilah kompetensi komunikatif atau القدرة الإتصالية . Konsep kompetensi komunikatif seperti yang pernah penulis kemukakan sekilas di pembahasan sebelumnya merupakan konsep yang pertama kali dikemukakan oleh Dell Hymes dalam makalahnya yang berjudul “on communicative competence“. Kompetensi komunikatif Dell Hymes ini sebagai reaksi terhadap kompetensi kebahasaan Chomsky, yang oleh Dell Hymes dipandang terlalu sempit, hanya menyangkut aspek gramatika. Dell Hymes mengemukakan bahwa penggunaan bahasa meliputi hal-hal yang lebih dari sekedar mengetahui penyusunan kalimat yang benar secara gramatikal. Ada banyak faktor dalam komunikasi yang menentukan aktualisasi pemakaian bahasa secara umum yang disebut konteks.[4]

Kompetensi komunikatif merupakan kemampuan untuk menerapkan kaidah gramatikal suatu bahasa dalam membentuk kalimat-kalimat yang benar dan untuk mengetahui kapan, di mana, dan kepada siapa kalimat-kalimat itu diujarkan.[5] Dengan berbekal kompetensi komunikatif, seseorang dapat menyampaikan dan menginterpretasikan suatu pesan atau menegosiasikan makna secara interpersonal dalam konteks yang spesifik.[6] Krashen juga menegaskan bahwa kompetensi komunikatif lebih menekankan kepada fungsi bahasa dalam komunikasi sesungguhnya dari pada menguasai bentuk dan kaidah kebahasaan. Kaidah-kaidah kebahasaan itu hanya berfungsi untuk memonitor suatu bentuk ujaran.[7]

Menurut Tarigan, pada hakekatnya kompetensi komunikatif meliputi:

a)      Pengetahuan mengenai tata bahasa dan kosakata bahasa yang bersangkutan.

b)      Pengetahuan mengenai kaidah-kaidah berbicara (yaitu mengetahui bagaimana memulai dan mengakhiri percakapan-percakapan, mengetahui topik apa ynag mungkin dibicarakan dalam berbagai peristiwa-bicara, mengetahui bentuk-bentuk sapaaan yang seharusnya dipakai kepada orang lain dalam berbagai sistuasi).

c)      Mengetahui bagaimana cara menggunakan dan memberi respon terhadap berbagai tipe tindak tutur, seperti meminta, memohon, meminta maaf, mengucapkan terima kasih, dan mengundang orang.

d)      Mengetahui bagaimana cara menggunakan bahasa secara tepat dan memuaskan.[8]

Jadi dengan demikian, seseorang yang ingin berbicara dengan orang lain, harus mengenali latar belakang sosial, hubungannya dengan orang lain, dan tipe-tipe bahasa yang dapat dipergunakan bagi kesempatan tertentu. Di samping itu, ia juga harus mampu menafsirkan kalimat-kalimat lisan maupun tulisan di dalam keseluruhan konteks tempatnya dipakai. Contoh: النسيم أصبح ريحا و المطر لن يتأخر (…angin sepoi-sepoi telah menjadi angin ribut, dan hujan tidak akan lama lagi…)[9] ungkapan ini dapat merupakan suatu permintaan, khususnya kepada seseorang dalam hubungan peran yang setara atau lebih rendah untuk segera mencari tempat berlindung dari buruknya cuaca saat mana ungkapan itu dinyatakan, namun bisa juga ungkapan itu merupakan curahan perasaan seseorang yang sedang sedih meratapi cerita cinta atau usahanya yang akan sebentar lagi hancur dan sebagainya.

Secara teoritis, kompetensi komunikatif memiliki paling tidak empat komponen sebagaimana yang dikemukakan oleh Canale dan Swain (1980-an) sebagaimana dikutip Jason Beale:[10] Pertama: الكفاية النحوية/al-kifâyah al-nahwiyyah (kompetensi gramatikal) yaitu penguasaan kaidah kebahasaan, baik verbal maupun non verbal seperti fonology (ilmu bunyi), orthography (penulisan), vocabulary (kosakata), pembentukan kata, dan pembentukan kalimat. Inilah yang dimaksud oleh Chomsky dengan kompetensi kebahasaan yaitu pengetahuan tentang tata bahasa dan memiliki kemampuan yang cukup untuk menggunakannya dalam komunikasi,[11] namun menurut Savignon, penekanannya bukan pada pengetahuan tentang kaidah bahasa tersebut melainkan pada pemakaian kaidah tersebut,[12] dengan demikian, kompetensi komunikatif pelajar diukur dengan kemampuannya memproduk ungkapan yang benar menurut kaidah, bukan kemampuannya menghafal kaidah.

Kedua: الكفاية اللغوية الإجتماعية /al-kifâyah al-lughawiyyah al-ijtimâ`iyyah (kompetensi sosiolinguistik) yaitu penguasaan aturan penggunaan bahasa dalam konteks sosio-kultural. Untuk itu, diperlukan pemahaman terhadap faktor-faktor tertentu, misalnya peran dan status partisipan, tujuan dan fungsi interaksi, aturan dan norma interaksi dan sebagainya. [13] Jadi, ini adalah satu kompetensi antar disiplin ilmu di mana pelajar bisa menggunakan bahasa secara baik dan wajar, pragmatis dan sesuai dengan konteks sosial pemakaian bahasa.

Secara singkat dapat pula dikatakan bahwa kompetensi sosiolinguistik merupakan a) ekspresi dan pemahaman makna-makna sosial yang tepat serta memuaskan yaitu fungsi-fungsi, sikap-sikap dan topik-topik komunikatif dalam konteks-konteks sosiolinguistik yang beraneka ragam. b) ekspresi dan pemahaman bentuk-bentuk gramatikal yang tepat serta memuaskan bagi fungsi-fungsi komunikatif yang beraneka ragam dalam konteks-konteks sosiolinguistik yang berbeda-beda (yang merupakan wadah fungsi-fungsi dan konteks-konteks yang dipilih dan disaring dengan seksama berdasarkan analisis kebutuhan dan minat komunikatif para pembelajar).[14]

Ketiga: كفاية تحليل الخطاب/kifâyat tahlîl al-khithâb (kompetensi wacana) yaitu kemampuan untuk memberikan interpretasi tentang topik paragraf, bab atau buku dengan menggunakan keterpaduan struktur dan kerterkaitan makna atau dengan ungkapan lain kompetensi wacana yakni kemampuan menafsirkan rangkaian kalimat atau ungkapan dalam rangka membangun keutuhan dan makna dan keterpaduan teks sesuai dengan konteksnya. Keempat: الكفاية الإستراتيجية/al-kifâyah al-istirâtîjiyyah (kompetensi strategis) yaitu kemampuan untuk memperjelas efektifitas komunikasi dan mengimbangi kejumudan komunikasi antar sesama, atau dapat dikatakan kompetensi ini merupakan satu fungsi pelengkap dalam komunikasi jika kompetensi kebahasaan tidak cukup. Menurut Huda, kompetensi strategis ialah kemampuan menguasai strategi komunikasi verbal dan non-verbal, untuk keperluan a) mengatasi kemacetan komunikasi yang terjadi pada kondisi tertentu, misalnya keterbatasan kosakata dan gramatika, b) meningkatkan efektifitas komunikasi.[15]

Karena tujuan pengajaran dalam pendekatan komunikatif pada hakekatnya adalah untuk berkomunikasi, maka kemampuan bahasa yang dikembangkan adalah kemampuan berkomunikasi, bukan kemampuan tentang pengetahuan bahasa. Widdowson sebagaimana dikutip Thu‘aimah membedakan kemampuan berbahasa (استخدام اللغة) dan kemampuan tentang bahasa (استعمال اللغة). Kemampuan berbahasa adalah kemampuan yang dimiliki baik oleh pembicara maupun pendengar untuk memahami dan memproduksi bahasa-bahasa ucapan. Sebaliknya kemampuan tentang bahasa ialah kemampuan secara umum mempelajari dan mengenal semua ungkapan-ungkapan bahasa yang benar dan baik walaupun tidak mampu mengucapkan atau menggunakannya.[16]

Jadi, pembelajar hendaknya mampu mengembangkan kemampuan menggunakan bahasa Arab sesuai dengan perkembangan dan tingkat umurnya. Dia harus mampu memahami pesan-pesan yang diucapkan di dalam bahasa Arab dan harus mampu secara spontan mengucapkan atau menggunakan ungkapan-ungkapan untuk menjawab pesan-pesan tersebut dengan tepat dan juga harus mampu menyatakan keinginan, kebutuhan atau hasratnya tanpa harus dirangsang terus oleh guru. Dia harus mampu membuat dan menggunakan ungkapan-ungkapan tersebut dengan memadukan sistem ucapan, tata bahasa dan kosa kata di dalam situasi budaya bahasa tersebut yang digunakan secara normal sebagaimana penutur asli menggunakannya.

Kompetensi komunikatif meliputi pengetahuan penggunaan bahasa dan kemampuan menggunakannya dalam berbagai konteks atau situasi komunikasi. Savignon menyebutkan lima karakteristik kompetensi komunikatif antara lain:

 

1.      Kompetensi komunikatif bersifat dinamis, bergantung pada negosiasi makna antara dua penutur atau lebih yang sama-sama mengetahui kaidah pemakaian bahasa. Dalam pengertian ini kemampuan komunikasi dapat dikatakan bersifat interpersonal.

2.      Kompetensi komunikatif meliputi pemakaian bahasa, baik secara tertulis maupun lisan, juga sistem simbolik yang lain.

3.      Kompetensi komunikatif bersifat kontekstual. Komunikasi selalu terjadi pada variasi situasi tertentu. Keberhasilan komunikasi bergantung pada pengetahuan partisipan terhadap konteks dan pengalaman.

4.      Berkaitan dengan dikotomi kompetensi dan performansi, kompetensi mengacu pada apa yang diketahui, sedangkan performansi mengacu pada apa yang dilakukan. Hanya performansi saja yang dapat diamati. Hanya melalui performansi, kompetensi dapat dikembangkan, dipertahankan dan dievaluasi.

5.      Kompetensi komunikatif bersifat relatif, tidak absolut dan bergantung pada kerja sama atau partisipan. Hal inilah yang menyebabkan adanya tingkat-tingkat kompetensi komunikatif. [17]

Sejumlah karakteristik kompetensi komunikatif tersebut adalah untuk melihat apakah suatu bentuk tuturan bersifat komunikatif atau tidak. Hal ini mencerminkan bahwa kompetesi komunikatif tidak hanya memperhatikan masalah kegramatikalan, melainkan juga kesesuaiannya dengan faktor sosial dan kultural. Karena pada prinsipnya kompetensi komunikatif mencakup dua hal yaitu pengetahuan tentang kebahasaan (kaidah kebahasaan), dan penggunaan bahasa. Kedua hal tersebut dijabarkan menjadi empat unsur kompetensi komunikatif yaitu kompetensi gramatikal, sosiolinguistik, wacana dan strategi sebagaimana yang penulis paparkan sebelumnya.



[1] Noam Chomsky, Aspects of The Theory of Syntax (Cambridge: The M.I.T. Press, 1965), h. 4

[2] Douglas Brown, Principles of Language Learning and Teaching (New York: Prentice Hall, 1987), h. 24.

[3] Suwarna Pringga Widagda, Strategi Penguasaan Berbahasa (Yogyakarta: Adicita Karya Nusa, 2001), h. 50. Menurut Davis dalam Syafii menyatakan bahwa kompetensi kebahasaan meliputi bidang fonologi, semantik dan sintaksis. Jika seorang pembicara atau pendengar mengetahui bagaimana berbicara dan memahami bahasanya, itu berarti ada berbagai pengetahuan yang ia miliki yang menjadikannya mempunyai kompetensi kebahasaan dalam bahasanya. Sementara Canale dan Swain menyatakan kompetensi kebahasaan meliputi leksikon, morfologi fonologi dan semantik. Dan Bachmanpun menambahkan bahwa kosakata dan grafologi perlu juga dimasukkan dalam kompetensi kebahasaan. Lihat Imam Syafi’i, Kompetensi Kebahasaan dan Kompetensi Komunikatif dalam Pengajaran Bahasa (Makalah: Malang: IKIP, 1991), h. 5   

[4] Imam Syafi’i, Kompetensi Kebahasaan dan Kompetensi Komunikatif dalam Pengajaran Bahasa (Makalah: Malang: IKIP, 1991), h. 7

[5] Henry Guntur Tarigan, Pengajaran Pemerolehan Bahasa (Jakarta: Dirjen Dikti, 1988), h. 40-41

[6] Douglas Brown, Principles of Language, h. 199

[7] Stephen D. Krashen, Second Language Acquisition and Second Language Leraning (New York: Prentice Hall, 1988), h. 12

[8] Henry Guntur Tarigan, Pengajaran Kompetensi Bahasa (Bandung: Angkasa, 1990), h. 31-32

[9] Bahige Mulla Huech, Tareq : Teks Video, h. 28

[10] Jason Beale, Is Communicative Language Teaching A Thing Of The Past?, diakses dari http://www.jasonbeale.com/essaypages/clt_essay.html. Tanggal 23 Februari 2007 jam 19.00 WIB.

[11] Noam Chomsky, Aspects Of The Theory Of Syntax, h. 4

[12] Sandra Savignon, Communicative Competence: Theory and Classroom Practice (Massachusetts: Addison Wesley Publishing, 1983), h. 8-9.

[13] Selain mampu memahami konteks kemasyarakatan, juga mampu bertukar informasi antar sesama anggota masyarakat dalam hubungan bermasyarakat. Rusydi Ahmad Thu‘aimah dalam Ta‘lîmi al-Lughah, h. 120.

[14] Henry Guntur Tarigan, Pengajaran Kompetensi Bahasa, (Bandung: Angkasa, 1990), h. 40

[15] Nuril Huda, Language  Learning and Teaching: Issues and Trends (Malang: IKIP Malang, 199), h. 32-33.

[16] Lihat Rusydi Ahmad Thu‘aimah dalam Ta‘lîmi al-Lughah, h. 107.

[17] Sandra Savignon, Communicative Competence: Theory and Classroom Practice, h. 8-9.





closer with Prof. DR. M. Dawam Rahardjo

28 02 2008

 Lebih Dekat Dengan Sosok Dawam Rahardjo[1]Nama lengkapnya ialah M. Dawam Rahardjo, lahir di Solo 20 april 1942. beliau lahir dari keluarga pesantren. Ayahnya seorang yang pernah belajar di pesantren Jamsaren dan Manbaul Ulum. Pesantren yang disebut terakhir telah banyak melahirkan ulama dan cendekiawan yang piawai, semisal Prof. Munawir Sadzali, satu-satunya Menteri Agama RI yang menjabat dua periode. Menurut pengakuan tulus Dawam, ayahnyalah yang pertama kali menanamkan kecintaannya kepada al-Qur’an, sebagaimana ayahnya dianggap sebagai seorang mufassir. Meskipun sebagai ibu rumah tangga, ibu Dawam juga diakui berperan penting dalam menumbuhkan rasa cintanya terhadap al-Qur’an. Sejak kecil ia mendapatkan motivasi itu, sehingga tidak heran kalau dalam suasana keluarganya, pengaruh tradisi keagamaan terlihat cukup kuat. Kendati demikian, ia berterus terang bahwa minatnya mempelajari al-Qur’an baru mulai muncul pada tahun 1980-an, ketika usianya telah menginjak empat puluh tahun.[2] Saat itu, ia tengah menjabat direktur LP3ES (Lembaga Penelitian, pendidikan, dan penerangan ekonomi & social).Pendidikan dasar dan menengah ditempuhnya di Solo, yaitu pendidikan umum di pagi hari dan pendidikan agama (Madrasah Diniyah) di sore hari. Setelah menyelesaikan pendidikan menengahnya, ia memperoleh kesempatan mengecap pendidikan di Borah High School Amerika Serikat (1960-1961). Setelah itu ia kembali ke Indonesia menyelesaikan  pendidikannya di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (1962-1969).Setelah memperoleh gelar sarjana ekonomi di Universitas bergengsi ini dan didukung oleh potensi dan pengalaman individu yang padat sejak kecil, tidak heran kalau Dawam dapat diterima di Bank of Amerika sebagai staf Departemen Kredit. Konon ia dipromosikan pada salah satu jabatan penting di bank yang memiliki cabang di berbagai negara ini, bukannya diterima tetapi malah memilih keluar secara terhormat dari bank ini.Dawam pernah menduduki sejumlah jabatan penting, seperti Rektor Universitas “45” Bekasi, Guru Besar sekaligus Direktur Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang, Ketua ICMI Pusat, Ketua Majelis Ekonomi PP. Muhammadiyah, Direktur PT. Cides Persada Consultan, Ketua Yayasan Mitra Usaha, Komisaris Utama Pusat Pengembangan Agribisnis, Ketua Dewan Direktur Pusat Pengembangan Masyarakat Agrikarya, Ketua Redaksi Jurnal “Ulumul Qur’an ”. saat ini ia menjadi dosen di sejumlah perguruan tinggi, Ketua Yayasan Lembaga Studi Islam dan Filsafat (LSAF), Presiden Direktur The International Institute Of Islamic Thought Indonesia (IIITI), dan sejumlah jabatan lain.

  Dawam memilih profesi yang terkait langsung dengan umat. Bakatnya sebagai penulis menjadi kekhususan beliau. Ia menjadi wartawan dan kolumnis di berbagai media cetak di Indonesia serta menulis artikel pada sejumlah media cetak dalam dan luar negeri. Ia juga pernah menjadi pemimpin umum jurnal ilmiah PRISMA (1980-1986). Bahkan sejak mahasiswa, ia pernah menduduki jabatan Ketua Redaksi majalah Dewan Mahasiswa UGM, “GEMA” (1968-1969). Ia juga pernah menjadi anggota pengurus dan anggota biasa pada banyak organisasi, baik di tingkat nasional dan regional maupun internasional.

Kegemaran dan kreatifitasnya yang tinggi dalam hal tulis-menulis dibuktikan dengan banyaknya buku dan karangan hasil karyanya di sekitar persoalan ekonomi dan keislaman, di antaranya Esei-Esei Ekonomi Dan Politik (Jakarta,  LP3ES, 1983), Transformasi Pertanian, Industrialisasi Dan Kesempatan Kerja (Jakarta, UI Press, 1985), Perekonomian Indonesia; Pertumbuhan Dan Krisis (Jakarta, LP3ES, 1983), Perspektif Deklarasi Mekkah, Menuju Ekonomi Islam (Bandung, Mizan, 1993), Etika Bisnis Dan Manajemen, Kapitalisme Dulu Dan Sekarang (ed. Jakarta, LP3ES, 1986), Intelektual Intelegensia Dan Prilaku Polotik Bangsa (Bandung, Mizan, 1992). Di samping itu ia juga banyak menulis karangan tentang al-Qur’an, di antara yang diterbitkan dalam buku adalah “Bumi Manusia Dalam Al-Qur’an” Dalam Insan Kamil, Konsepsi Manusia Menurut Islam (Jakarta, Pustaka Garfiti, 1985) yang diedit oleh Dawam sendiri. [3] Mas Dawam adalah seorang Ensiklopedis, karena banyak menguasai bidang-bidang sosial keagamaan. Di antara salah satu penguasaannya adalah dalam bidang penafsiran kontemporer atas al-Qur’an seperti ditunjukkan dalam seluruh isi buku Ensiklopedi al-Qur’an (Tafsir Social Berdasarkan Konsep-Konsep Kunci) ini,[4] karena dalam buku ini, dawam tidak hanya menggunakan rujukan kitab-kitab tafsir klasik, tapi juga yang kontemporer bahkan sampai buku-buku kecil (saku) yang untuk sebagian ilmuwan kurang diminati, digunakan juga oleh dawam dalam karyanya ini, maka tidak berlebihan jika Nasaruddin Umar dalam satu ulasannya tentang buku tafsir social ini menyebut sosok Dawam sebagai seorang scholar (cendekiawan-pen)[5]


[1] Disarikan dari seklumit tentang Dawam Rahardjo oleh Nasaruddin Umar, Refleksi Social Dalam Memahami al-Qur’an : Menimbang Ensiklopedi al-Qur’an karya M. Dawam Rahardjo, dalam Jurnal Studi al-Qur’an vol. 1, No. 3, 2006 hal. 489-491 
[2] Dawam Rahardjo, Paradigma Al-Qur’an: Metodologi Tafsir dan Kritik Social, Jakarta: PSAP Muhammadiyah, 2005, cet. 1 h. 1.

[3] Rahardjo, Dawam., Ensiklopedi al-Qur’an : Tafsir Social Berdasarkan Konsep-konsep Kunci, Jakarta: Paramadina, cet. II, 2002, (sampul depan).

[4] Rahardjo, Dawam., Ensiklopedi al-Qur’an ……(sampul depan).

[5] Nasaruddin Umar, Refleksi Social Dalam Memahami al-Qur’an…….hal. 492.