KOMPETENSI DAN PERFORMANSI DALAM PENDEKATAN KOMUNIKATIF

12 09 2008

Istilah kompetensi dan performansi mulai populer ketika Chomsky menerbitkan bukunya yang berjudul Aspects of the Theory of Syntax. Kompetensi mengacu pada pengetahuan dasar tentang suatu sistem, peristiwa atau kenyataan. Kompetensi ini bersifat abstrak, tidak dapat diamati, karena kompetensi terdapat dalam alam pikiran manusia. Yang dapat diamati adalah gejala-gejala kompetensi yang tampak dari perilaku (kebahasaan) manusia seperti berbicara, berjalan, menyanyi, menari dan sebagainya.[1]

Dalam pengajaran, kita memiliki asumsi bahwa pembelajar memproses kompetensi tertentu dan kompetensi ini dapat diukur dan diteliti dengan cara mengamati performansi. Cara ini umumnya disebut tes atau ujian.[2] Dalam linguistik, kompetensi mengacu pada pengetahuan sistem kebahasaan, kaidah-kaidah kebahasaan, kosakata, unsur-unsur kebahasaan, dan bagaimana unsur-unsur itu dirangkaikan, sehingga dapat menjadi kalimat yang memiliki arti. Performansi merupakan produksi secara nyata seperti berbicara, menulis dan juga komprehensi seperti menyimak dan membaca pada peristiwa-peristiwa ahli bahasa.

Kompetensi kebahasaan, merupakan istilah yang dipopulerkan oleh Chomsky (1965). Dalam hal ini kompetensi mengacu pada pengetahuan gramatika. Pembicara-pendengar yang ideal dalam suatu masyarakat yang homogen mengetahui dan menguasai kaidah-kaidah gramatika bahasanya. Gramatika suatu bahasa berisi suatu deskripsi mengenai kompetensi yang bersifat intrinsik pada diri pembicara-pendengar.

Kompetensi kebahasaan adalah pengetahuan tentang sesuatu yang bersifat abstrak, yang berisi pengetahuan tentang kaidah, parameter atau prinsip-prinsip, serta konfigurasi-konfigurasi sistem bahasa. Kompetensi kebahasaan merupakan pengetahuan gramatikal yang berada dalam struktur mental di belakang bahasa. Kompetensi kebahasaan tidak sama dengan pemakaian bahasa. Kompetensi kebahasaan bukanlah kemampuan untuk menyusun dan memakai kalimat, melainkan pengetahuan tentang kaidah-kaidah atau sistem kaidah. Dalam hal ini kita dapat memahami bahwa mengetahui pengetahuan sistem kaidah belum tentu sama atau jangan disamakan dengan kemampuan menggunakan kaidah bahasa tersebut dalam aktualisasi pemakaian bahasa pada situasi konkret. Masalah bagaimana menggunakan bahasa dalam aktualisasi konkret merupakan masalah performansi.[3]

Di samping kompetensi kebahasaan, Chomsky juga mengemukakan performansi kebahasaan. Dalam kenyataan yang aktual, performansi itu tidak sepenuhnya mencerminkan kompetensi kebahasaan. Dikemukakan oleh Chomsky bahwa dalam pemakaian bahasa secara konkret banyak ditemukan penyimpangan kaidah, kekeliruan, namun semua itu masih dapat dipahami oleh pembicara-pendengar karena mereka mempunyai kompetensi kebahasaan.

Berkaitan dengan kompetensi ini, Chomsky mengemukakan konsep ’keberterimaan’ dan konsep ’kegramatikalan’. Keberterimaan mengacu pada bentuk-bentuk tuturan yang benar-benar alamiah dan dengan cepat dapat dipahami, tidak aneh, tidak asing dan tidak janggal. Sedangkan kegramatikalan, mengacu pada bentuk-betuk tuturan yang apabila dilihat dari kaidah kebahasaan yang bersangkutan tidak menyimpang. Masalah keberterimaan berkaitan dengan performansi kebahasaan, sedangkan kegramatikalan berkaitan dengan kompetensi kebahasaan. Pengertian kedua istilah tersebut tidak boleh dicampuradukkan. Contoh pada kalimat berikut (1) dan (2) merupakan contoh kalimat yang memiliki tingkat kegramatikalan dan keberterimaan yang tinggi, sedangkan kalimat (3) dan (4) memiliki kegramatikalan yang rendah namun keberterimaannya tinggi.

1.      Bapak membaca surat kabar di ruang tamu

2.      Sopyan belajar dengan sungguh-sungguh agar bisa lulus dalam ujian

3.      ….Satu kilo gula, tiga kilo tepung dan setengah kilo mentega bu….  

4.      …Besok pagi jam delapan dari stasiun Turi, dik!

Di samping kompetensi kebahasaan, dalam linguistik juga dikenal istilah kompetensi komunikatif atau القدرة الإتصالية . Konsep kompetensi komunikatif seperti yang pernah penulis kemukakan sekilas di pembahasan sebelumnya merupakan konsep yang pertama kali dikemukakan oleh Dell Hymes dalam makalahnya yang berjudul “on communicative competence“. Kompetensi komunikatif Dell Hymes ini sebagai reaksi terhadap kompetensi kebahasaan Chomsky, yang oleh Dell Hymes dipandang terlalu sempit, hanya menyangkut aspek gramatika. Dell Hymes mengemukakan bahwa penggunaan bahasa meliputi hal-hal yang lebih dari sekedar mengetahui penyusunan kalimat yang benar secara gramatikal. Ada banyak faktor dalam komunikasi yang menentukan aktualisasi pemakaian bahasa secara umum yang disebut konteks.[4]

Kompetensi komunikatif merupakan kemampuan untuk menerapkan kaidah gramatikal suatu bahasa dalam membentuk kalimat-kalimat yang benar dan untuk mengetahui kapan, di mana, dan kepada siapa kalimat-kalimat itu diujarkan.[5] Dengan berbekal kompetensi komunikatif, seseorang dapat menyampaikan dan menginterpretasikan suatu pesan atau menegosiasikan makna secara interpersonal dalam konteks yang spesifik.[6] Krashen juga menegaskan bahwa kompetensi komunikatif lebih menekankan kepada fungsi bahasa dalam komunikasi sesungguhnya dari pada menguasai bentuk dan kaidah kebahasaan. Kaidah-kaidah kebahasaan itu hanya berfungsi untuk memonitor suatu bentuk ujaran.[7]

Menurut Tarigan, pada hakekatnya kompetensi komunikatif meliputi:

a)      Pengetahuan mengenai tata bahasa dan kosakata bahasa yang bersangkutan.

b)      Pengetahuan mengenai kaidah-kaidah berbicara (yaitu mengetahui bagaimana memulai dan mengakhiri percakapan-percakapan, mengetahui topik apa ynag mungkin dibicarakan dalam berbagai peristiwa-bicara, mengetahui bentuk-bentuk sapaaan yang seharusnya dipakai kepada orang lain dalam berbagai sistuasi).

c)      Mengetahui bagaimana cara menggunakan dan memberi respon terhadap berbagai tipe tindak tutur, seperti meminta, memohon, meminta maaf, mengucapkan terima kasih, dan mengundang orang.

d)      Mengetahui bagaimana cara menggunakan bahasa secara tepat dan memuaskan.[8]

Jadi dengan demikian, seseorang yang ingin berbicara dengan orang lain, harus mengenali latar belakang sosial, hubungannya dengan orang lain, dan tipe-tipe bahasa yang dapat dipergunakan bagi kesempatan tertentu. Di samping itu, ia juga harus mampu menafsirkan kalimat-kalimat lisan maupun tulisan di dalam keseluruhan konteks tempatnya dipakai. Contoh: النسيم أصبح ريحا و المطر لن يتأخر (…angin sepoi-sepoi telah menjadi angin ribut, dan hujan tidak akan lama lagi…)[9] ungkapan ini dapat merupakan suatu permintaan, khususnya kepada seseorang dalam hubungan peran yang setara atau lebih rendah untuk segera mencari tempat berlindung dari buruknya cuaca saat mana ungkapan itu dinyatakan, namun bisa juga ungkapan itu merupakan curahan perasaan seseorang yang sedang sedih meratapi cerita cinta atau usahanya yang akan sebentar lagi hancur dan sebagainya.

Secara teoritis, kompetensi komunikatif memiliki paling tidak empat komponen sebagaimana yang dikemukakan oleh Canale dan Swain (1980-an) sebagaimana dikutip Jason Beale:[10] Pertama: الكفاية النحوية/al-kifâyah al-nahwiyyah (kompetensi gramatikal) yaitu penguasaan kaidah kebahasaan, baik verbal maupun non verbal seperti fonology (ilmu bunyi), orthography (penulisan), vocabulary (kosakata), pembentukan kata, dan pembentukan kalimat. Inilah yang dimaksud oleh Chomsky dengan kompetensi kebahasaan yaitu pengetahuan tentang tata bahasa dan memiliki kemampuan yang cukup untuk menggunakannya dalam komunikasi,[11] namun menurut Savignon, penekanannya bukan pada pengetahuan tentang kaidah bahasa tersebut melainkan pada pemakaian kaidah tersebut,[12] dengan demikian, kompetensi komunikatif pelajar diukur dengan kemampuannya memproduk ungkapan yang benar menurut kaidah, bukan kemampuannya menghafal kaidah.

Kedua: الكفاية اللغوية الإجتماعية /al-kifâyah al-lughawiyyah al-ijtimâ`iyyah (kompetensi sosiolinguistik) yaitu penguasaan aturan penggunaan bahasa dalam konteks sosio-kultural. Untuk itu, diperlukan pemahaman terhadap faktor-faktor tertentu, misalnya peran dan status partisipan, tujuan dan fungsi interaksi, aturan dan norma interaksi dan sebagainya. [13] Jadi, ini adalah satu kompetensi antar disiplin ilmu di mana pelajar bisa menggunakan bahasa secara baik dan wajar, pragmatis dan sesuai dengan konteks sosial pemakaian bahasa.

Secara singkat dapat pula dikatakan bahwa kompetensi sosiolinguistik merupakan a) ekspresi dan pemahaman makna-makna sosial yang tepat serta memuaskan yaitu fungsi-fungsi, sikap-sikap dan topik-topik komunikatif dalam konteks-konteks sosiolinguistik yang beraneka ragam. b) ekspresi dan pemahaman bentuk-bentuk gramatikal yang tepat serta memuaskan bagi fungsi-fungsi komunikatif yang beraneka ragam dalam konteks-konteks sosiolinguistik yang berbeda-beda (yang merupakan wadah fungsi-fungsi dan konteks-konteks yang dipilih dan disaring dengan seksama berdasarkan analisis kebutuhan dan minat komunikatif para pembelajar).[14]

Ketiga: كفاية تحليل الخطاب/kifâyat tahlîl al-khithâb (kompetensi wacana) yaitu kemampuan untuk memberikan interpretasi tentang topik paragraf, bab atau buku dengan menggunakan keterpaduan struktur dan kerterkaitan makna atau dengan ungkapan lain kompetensi wacana yakni kemampuan menafsirkan rangkaian kalimat atau ungkapan dalam rangka membangun keutuhan dan makna dan keterpaduan teks sesuai dengan konteksnya. Keempat: الكفاية الإستراتيجية/al-kifâyah al-istirâtîjiyyah (kompetensi strategis) yaitu kemampuan untuk memperjelas efektifitas komunikasi dan mengimbangi kejumudan komunikasi antar sesama, atau dapat dikatakan kompetensi ini merupakan satu fungsi pelengkap dalam komunikasi jika kompetensi kebahasaan tidak cukup. Menurut Huda, kompetensi strategis ialah kemampuan menguasai strategi komunikasi verbal dan non-verbal, untuk keperluan a) mengatasi kemacetan komunikasi yang terjadi pada kondisi tertentu, misalnya keterbatasan kosakata dan gramatika, b) meningkatkan efektifitas komunikasi.[15]

Karena tujuan pengajaran dalam pendekatan komunikatif pada hakekatnya adalah untuk berkomunikasi, maka kemampuan bahasa yang dikembangkan adalah kemampuan berkomunikasi, bukan kemampuan tentang pengetahuan bahasa. Widdowson sebagaimana dikutip Thu‘aimah membedakan kemampuan berbahasa (استخدام اللغة) dan kemampuan tentang bahasa (استعمال اللغة). Kemampuan berbahasa adalah kemampuan yang dimiliki baik oleh pembicara maupun pendengar untuk memahami dan memproduksi bahasa-bahasa ucapan. Sebaliknya kemampuan tentang bahasa ialah kemampuan secara umum mempelajari dan mengenal semua ungkapan-ungkapan bahasa yang benar dan baik walaupun tidak mampu mengucapkan atau menggunakannya.[16]

Jadi, pembelajar hendaknya mampu mengembangkan kemampuan menggunakan bahasa Arab sesuai dengan perkembangan dan tingkat umurnya. Dia harus mampu memahami pesan-pesan yang diucapkan di dalam bahasa Arab dan harus mampu secara spontan mengucapkan atau menggunakan ungkapan-ungkapan untuk menjawab pesan-pesan tersebut dengan tepat dan juga harus mampu menyatakan keinginan, kebutuhan atau hasratnya tanpa harus dirangsang terus oleh guru. Dia harus mampu membuat dan menggunakan ungkapan-ungkapan tersebut dengan memadukan sistem ucapan, tata bahasa dan kosa kata di dalam situasi budaya bahasa tersebut yang digunakan secara normal sebagaimana penutur asli menggunakannya.

Kompetensi komunikatif meliputi pengetahuan penggunaan bahasa dan kemampuan menggunakannya dalam berbagai konteks atau situasi komunikasi. Savignon menyebutkan lima karakteristik kompetensi komunikatif antara lain:

 

1.      Kompetensi komunikatif bersifat dinamis, bergantung pada negosiasi makna antara dua penutur atau lebih yang sama-sama mengetahui kaidah pemakaian bahasa. Dalam pengertian ini kemampuan komunikasi dapat dikatakan bersifat interpersonal.

2.      Kompetensi komunikatif meliputi pemakaian bahasa, baik secara tertulis maupun lisan, juga sistem simbolik yang lain.

3.      Kompetensi komunikatif bersifat kontekstual. Komunikasi selalu terjadi pada variasi situasi tertentu. Keberhasilan komunikasi bergantung pada pengetahuan partisipan terhadap konteks dan pengalaman.

4.      Berkaitan dengan dikotomi kompetensi dan performansi, kompetensi mengacu pada apa yang diketahui, sedangkan performansi mengacu pada apa yang dilakukan. Hanya performansi saja yang dapat diamati. Hanya melalui performansi, kompetensi dapat dikembangkan, dipertahankan dan dievaluasi.

5.      Kompetensi komunikatif bersifat relatif, tidak absolut dan bergantung pada kerja sama atau partisipan. Hal inilah yang menyebabkan adanya tingkat-tingkat kompetensi komunikatif. [17]

Sejumlah karakteristik kompetensi komunikatif tersebut adalah untuk melihat apakah suatu bentuk tuturan bersifat komunikatif atau tidak. Hal ini mencerminkan bahwa kompetesi komunikatif tidak hanya memperhatikan masalah kegramatikalan, melainkan juga kesesuaiannya dengan faktor sosial dan kultural. Karena pada prinsipnya kompetensi komunikatif mencakup dua hal yaitu pengetahuan tentang kebahasaan (kaidah kebahasaan), dan penggunaan bahasa. Kedua hal tersebut dijabarkan menjadi empat unsur kompetensi komunikatif yaitu kompetensi gramatikal, sosiolinguistik, wacana dan strategi sebagaimana yang penulis paparkan sebelumnya.



[1] Noam Chomsky, Aspects of The Theory of Syntax (Cambridge: The M.I.T. Press, 1965), h. 4

[2] Douglas Brown, Principles of Language Learning and Teaching (New York: Prentice Hall, 1987), h. 24.

[3] Suwarna Pringga Widagda, Strategi Penguasaan Berbahasa (Yogyakarta: Adicita Karya Nusa, 2001), h. 50. Menurut Davis dalam Syafii menyatakan bahwa kompetensi kebahasaan meliputi bidang fonologi, semantik dan sintaksis. Jika seorang pembicara atau pendengar mengetahui bagaimana berbicara dan memahami bahasanya, itu berarti ada berbagai pengetahuan yang ia miliki yang menjadikannya mempunyai kompetensi kebahasaan dalam bahasanya. Sementara Canale dan Swain menyatakan kompetensi kebahasaan meliputi leksikon, morfologi fonologi dan semantik. Dan Bachmanpun menambahkan bahwa kosakata dan grafologi perlu juga dimasukkan dalam kompetensi kebahasaan. Lihat Imam Syafi’i, Kompetensi Kebahasaan dan Kompetensi Komunikatif dalam Pengajaran Bahasa (Makalah: Malang: IKIP, 1991), h. 5   

[4] Imam Syafi’i, Kompetensi Kebahasaan dan Kompetensi Komunikatif dalam Pengajaran Bahasa (Makalah: Malang: IKIP, 1991), h. 7

[5] Henry Guntur Tarigan, Pengajaran Pemerolehan Bahasa (Jakarta: Dirjen Dikti, 1988), h. 40-41

[6] Douglas Brown, Principles of Language, h. 199

[7] Stephen D. Krashen, Second Language Acquisition and Second Language Leraning (New York: Prentice Hall, 1988), h. 12

[8] Henry Guntur Tarigan, Pengajaran Kompetensi Bahasa (Bandung: Angkasa, 1990), h. 31-32

[9] Bahige Mulla Huech, Tareq : Teks Video, h. 28

[10] Jason Beale, Is Communicative Language Teaching A Thing Of The Past?, diakses dari http://www.jasonbeale.com/essaypages/clt_essay.html. Tanggal 23 Februari 2007 jam 19.00 WIB.

[11] Noam Chomsky, Aspects Of The Theory Of Syntax, h. 4

[12] Sandra Savignon, Communicative Competence: Theory and Classroom Practice (Massachusetts: Addison Wesley Publishing, 1983), h. 8-9.

[13] Selain mampu memahami konteks kemasyarakatan, juga mampu bertukar informasi antar sesama anggota masyarakat dalam hubungan bermasyarakat. Rusydi Ahmad Thu‘aimah dalam Ta‘lîmi al-Lughah, h. 120.

[14] Henry Guntur Tarigan, Pengajaran Kompetensi Bahasa, (Bandung: Angkasa, 1990), h. 40

[15] Nuril Huda, Language  Learning and Teaching: Issues and Trends (Malang: IKIP Malang, 199), h. 32-33.

[16] Lihat Rusydi Ahmad Thu‘aimah dalam Ta‘lîmi al-Lughah, h. 107.

[17] Sandra Savignon, Communicative Competence: Theory and Classroom Practice, h. 8-9.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: