POLIGAMI DALAM PERSPEKTIF ISLAM

12 09 2008

POLIGAMI DALAM SOROTAN

 

A.     Pendahuluan

Ketika mengutus Muhammad Saw. Sebagai penutup pintu kenabian, Allah mengharamkan zina dan ragam hubungan seksual lain yang sejenis. Syariat islam juga menghapus peraturan serta dapat yang memperlakukan perempuan seperti barang dagangan, hewan, atau budak. Sedangkan poligami tidak diharamkan secara mutlak namun islam tidak membiarkan laki-laki bebas melakukan poligami dengan jumlah istri tak terbatas. Islam juga tidak membiarkan perbuatan-perbuatan zalim yang dilakukan laki-laki. Islam membatasi jumlah istri yang boleh dinikahi sesuai dengan kemaslahatan keturuan, kondisi masyarakat, serta kemampuan maksimal laki-laki dalam melakukan tugasnya yaitu empat. Itupun dengan syarat mempunyai kesanggupan untuk memberi nafkah serta bersikap adil diantara mereka. Syarat ini diberikan untuk mencegah kezaliman laki-laki sebisa mungkin. Syarat tersebut terkadang seseorang memilih monogamy dari pada poligami karena poligami dilakukan kalau memang benar-benar terdesak.

Sebelum membahas poligami dengan berbagai kontroversinya, penulis akan memulai pembahasan dengan mengangkat masalah perkawinan baik menyangkut makna, tujuan dan prinsip-prinsip yang harus ada dalam perkawinan. Kemudian baru beranjak pada pembahasan poligami baik yang menyangkut Makna, fakta sejarah, Landasan Teologis dan Hukum Poligami Dalam Islam serta realitas sosial.    

 

B.     Makna Perkawinan dan Tujuannya

1.      Makna Perkawinan

Perkawinan merupakan suatu ketentuan dari ketentuan-ketentuan Allah di dalam menjadikan dan menjadikan alam ini, perkawinan bersifat umum, menyeluruh, berlaku tanpa kecuali baik bagi manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Ketentuan-ketentuan ini telah Allah tuangkan didalam firman Allah SWT. antara lain :

uqèdur “Ï%©!$# £‰tB uÚö‘F{$# Ÿ@yèy_ur $pkŽÏù zÓśºuru‘ #\»pk÷Xr&ur ( `ÏBur Èe@ä. ÏNºtyJ¨V9$# Ÿ@yèy_ $pkŽÏù Èû÷üy`÷ry— Èû÷üuZøO$# ( ÓÅ´øóムŸ@øŠ©9$# u‘$pk¨]9$# 4 ¨bÎ) ’Îû y7Ï9ºsŒ ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 tbr㍩3xÿtGtƒ ÇÌÈ     

Artinya “Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan[1], Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (Q.S. Ar-Ra’da : 3)

 

Salah satu keutamaan manusia dibanding dengan makhluk Allah yang lainnya adalah pengangkatannya sebagai Khalifah Fil Ardi (Pengelola Bumi) yang diserahi tugas untuk mengelola kehidupan di planet bumi ini. Dalam rangka mensukseskan tugas luhur tersebut manusia dibolehkan bahkan dianjurkan untuk menikah antara lain agar keberlangsungan generasi manusia tetap terjamin sampai hari kiamat.[2] Keberlangsungan yang dimaksud tentunya senantiasa berada dalam bingkai ikatan yang sah, kuat dan suci (ميثاقا غليظا) disertai aturan aturan agama (Syari’at).

Perkawinan atau pernikahan secara etimologi berarti “persetubuhan“ ada pula yang mengartikan “perjanjian” (al ‘aqdu) sedangkan secara terminology pernikahan menurut para fuqaha seperti Al Malibari misalnya yaitu “akad yang mengandung kebolehan persetubuhan dengan kata nikah atau tazwij”[3] atau definisi yang dikemukakan oleh Muhammad Abu Zahrah yaitu “akad yang mengakibatkan hukum halal pergaulan antara lelaki dengan perempuan dan pertolongan serta pembatasan milik, hak dan kewajiban mereka”[4]. Sedangkan menurut Abu Hanifah “aqad yang dikukuhkan untuk memperoleh kenikmatan dari seorang wanita yang dilakukan dengan sengaja” kemudian menurut Imam Hambali “aqad yang didalamnya terdapat lafaz pernikahan secara jelas agar diperbolehkan bercampur”

Jadi dengan memperhatikan sejumlah definisi pernikahan diatas, dapat disimpulkan bahwa penikahan itu adalah “Melakukan suatu aqad atau perjanjian untuk mengikatkan diri antara seorang laki-laki dan wanita untuk menghalalkan hubungan kelamin antara kedua belah pihak dengan dasar sukarela dan keridoan kedua belah pihak untuk mewujudkan kebahagiaan hidup berkeluarga yang diliputi rasa kasih sayang dan ketenteraman dengan cara-cara yang diridhoi Allah.[5]

Pengertian perkawinan (pernikahan) yang telah kami paparkan diatas juga tidak jauh berbeda secara prinsip dengan pengertian pernikahan yang ada di pasal 1 UUP 1974 sebagai berikut”ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan mebentuk keluarga (rumah tangga) yang bahgia dan kekal berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa”[6].

Berangkat dari sejumlah definisi tentang perkawinan tersebut maka dapat dipahami bahwa akad atau transaksi yang dilakukan semestinya melibatkan dua pihak yang setara, sehingga mencapai suatu kata sepakat atau konsensus. Tidak salah jika didefinisikan bahwa perkawinan adalah sebuah akad atau kontrak yang mengikat dua pihak yang setara yaitu laki-laki dan perempuan yang masing-masing telah memenuhi persyarataan berdasarkan hukum yang berlaku atas dasar kerelaan untuk hidup bersama dalam satu keluarga. Jadi perkawinan dalam Islam itu hendaknya menjadi awal (gerbang) menuju kehidupan rumah tangga yang bahagia (mawaddah wa rahmah)tanpa ada yang merasa lebih dari yang lain apalagi sampai ada pelecehan terhadap pasangan hidup terutama yang menimpa pihak perempuan baik istri maupun anak perempuan karena mereka seringkali masih dianggap sebagai orang nomor dua (second human being) di dalam keluarga.

Hak-hak perempuan seringkali terabaikan baik yang menyangkut pendidikan, peran publik, posisi dalam hukum (baik agama maupun pemerintahan) sampai pada posisinya yang seringkali terjebak dalam kondisi yang tidak menguntungkan sebagai obyek laki-laki dalam rumah tangga kalau dalam istilah sekarang perempuan hanya berkutat “didapur, disumur dan dikasur”. Hal ini terjadi karena memang dalam masyarakat kita masuh banyak yang mengakui, kondisi struktur masyarakat patriarki tradisional yang cenderung membedakan peran dan fungsi laki-laki dan perempuan atas dasar kemapuan intelektual dan biologisnya sehingga berdampak langsung terhadap kehidupan suatu rumah tangga dalam masyarakat, tentunya tidak akan dijumpai keseimbangan peran antara suami dan istri, suami cenderung mendikte dan mau menang sendiri sementara perempuan akan merasa tertekan sehingga pada akhirnya kehidupan rumah tangga sakinah (tenteram) seperti yang digambarkan oleh Al Qur’an (Q.S. Ar-Rum, 21) hanyalah sia-sia belaka.

Sejumlah kajian mengenai ayat-ayat yang membahas soal perkawinan menyimpulkan bahwa perkawinan dalam Islam dibangun atas lima prinsip dasar seperti yang dikatakan oleh Prof. Dr. Siti Musdah Mulia, dalam bukunya “Islam Menggugat Poligami” yaitu : Pertama: Prinsip kebebasan dalam memilih jodoh bagi laki-laki dan perempuan sepanjang tidak melanggar ketentuan syari’at; Kedua: prinsip Mawaddah Wa Rahmah (cinta dan kasih sayang); Ketiga: prinsip saling melengkapi dan melindungi; Keempat: Mu’asyarah bil ma’ruf (pergaulan yang sopan dan santun); Kelima: prinsip monogamy (nikah yang hanya dengan 1 istri),[7] prinsip yang kelima ini adalah kebalikan dari prinsip poligami yang menurut sebagian pakar dianggap sebagai prinsip dasar juga dalam perkawinan.

2.      Tujuan Perkawinan

Setelah mengetahui prinsip-prinsip dasar perkawinan dalam Islam, maka kita juga perlu dan harus mengetahui arah dan tujuan perkawinan yang kita lakukan sehingga nantinya tidak tersesat dan bingung dalam mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga, ini perlu karena telah banyak bukti dan fakta yang kita temukan dalam realitas sosial kita sementara ini yang baru saja mengucapkan janji setia sehidup semati dalam ikatan pernikahan yang suci didepan wali dan saksi, kemudian tidak berapa lama jatuh talak terhadap istri, entah karena kesalahan istri ataupun suami tapi yang jelas kondisi ini menunjukkan bahwa banyak pasangan suami istri yang belum memiliki cukup bekal pengetahuan dan pemahaman tentang konsep kehidupan rumah tangga yang digambarkan dalam Al Qur’an serta interpretasi yang keliru terhadap teks-teks keagamaan yang sepertinya melebihkan posisi laki-laki daripada perempuan dalam segala hal yang kemudian diperkuat oleh penafsiran-penafsiran sebagian tokoh agama yang cenderung menjadikan posisi perempuan selalu pasif dan laki-laki selalu aktif (instability function) dan pada akhirnya perceraian menjadi jalan satu-satunya yang ditempuh walaupun hal itu dibenci oleh Allah SWT.

Adapun tujuan perkawinan yang dapat dirumuskan antara lain seperti yang dikatakan oleh Ny. Soemiyati, SH. dalam bukunya “Hukum Perkawinan Islam dan Undang-undang Perkawinan” yaitu “Untuk memenuhi tuntutan hajat manusia, berhubungan antara laki-laki dan perempuan dalam rangka mewujudkan suatu keluarga yang bahagia dengan dasar cinta dan kasih sayang, untuk memperoleh keturunan yang sah dalam masyarakat dengan mengikuti ketentuan-ketentuan yang telah diatur oleh syari’at [8].

Sejalan dengan rumusan tersebut di atas, M. Ali Hasan[9] mengatakan : sedikitnya ada 4 macam yang menjadi tujuan perkawian yaitu :

a.       Menenteramkan Jiwa

Bila sudah terjadi ‘aqad nikah, si wanita merasa jiwanya tenteram karena merasa ada yang melindungi dan ada yang bertanggung jawab dalam rumah tangga. Si suami pun merasa tenteram karena ada pendampingnya untuk mengurus rumah tangga, tempat menumpahkan perasaan suka dan duka serta menjadi teman musyawarah dalam menghadapi berbagai persoalan, Allah berfirman :

ô`ÏBur ÿ¾ÏmÏG»tƒ#uä ÷br& t,n=y{ /ä3s9 ô`ÏiB öNä3Å¡àÿRr& %[`ºurø—r& (#þqãZä3ó¡tFÏj9 $ygøŠs9Î) Ÿ@yèy_ur Nà6uZ÷t/ Zo¨Šuq¨B ºpyJômu‘ur 4 ¨bÎ) ’Îû y7Ï9ºsŒ ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 tbr㍩3xÿtGtƒ ÇËÊÈ     

Artinya “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (Q.S. Ar-rum, 21)

Apabila dalam suatu rumah tangga tidak terwujud rasa kasih sayang, tidak mau berbagi suka dan duka maka berarti tujuan rumah tangga tidak sempurna kalau tidak dapat dikatakan telah gagal sebagai akibatnya bisa saja terjadi suami istri mendambakan kasih sayang dari pihak luar.

b.      Mewujudkan (melestarikan) keturunan 

Biasanya sepasang suami istri tidak ada yang tidak mendambakan anak turunan untuk meneruskan kelangsungan hidup, anak turunan diharapkan dapat mengambil alih tugas, perjuangan dan ide-ide yang pernah tertanam dalam jiwa suami istri, fitrah yang sudah ada dalam diri manusia ini diungkapkan oleh Allah dalam firman-Nya :

ª!$#ur  Ÿ@yèy_ Nä3s9 ô`ÏiB ö/ä3Å¡àÿRr& %[`ºurø—r& Ÿ@yèy_ur Nä3s9 ô`ÏiB Nà6Å_ºurø—r& tûüÏZt/ Zoy‰xÿymur Nä3s%y—u‘ur z`ÏiB ÏM»t6Íh‹©Ü9$# 4 È@ÏÜ»t6ø9$$Î6sùr& tbqãZÏB÷sムÏMyJ÷èÏZÎ/ur «!$# öNèd tbrãàÿõ3tƒ ÇÐËÈ     

Artinya : “Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka Mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah ?” (Q.S. An-Nahl, 72).

 

Berdasarkan ayat di atas, seperti yang telah kami paparkan sebelumnya bahwa Allah menciptakan manusia ini berpasangan supaya berkembang biakmengisi bumi ini dan memakmurkannya atas kehendak Allah, naluri manusia pun menginginkan demikian. Inilah barangkali yang bisa dikatakan tujuan pokok dari sebuah perkawinan karena bagaimanapun manusia normal akan merasakan kegelisahan, apabila perkawinannya tidak menghasilkan turunan, rumah tangga terasa sepi, hidup tidak bergairah karena pada umumnya orang rela bekerja keras adalah untuk kepentingan keluarga dan anak cucunya.

c.       Memenuhi kebutuhan biologis.

Pemenuhan kebutuhan biologis itu harus diatur melalui lembaga perkawinan supaya tidak terjadi penyimpangan , tidak lepas bebas begitu saja sehingga norma-norma adat istiadat dan agama dilanggar. Kecenderungan cinta lawan jenis dana hubungan seksual sudah ada tertanam dalam diri manusia atas kehendak Allah. Kalau tidaj ada kecenderungan dan keinginan untuk itu tentu manusia tidak akan berkembang biak, sedangkan Allah menghendaki demikian sebagaimana firman-Nya :

$pkš‰r¯»tƒ â¨$¨Z9$# (#qà)®?$# ãNä3­/u‘ “Ï%©!$# /ä3s)n=s{ `ÏiB <§øÿ¯R ;oy‰Ïnºur t,n=yzur $pk÷]ÏB $ygy_÷ry— £]t/ur $uKåk÷]ÏB Zw%y`͑ #ZŽÏWx. [ä!$|¡ÎSur 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# “Ï%©!$# tbqä9uä!$|¡s? ¾ÏmÎ/ tP%tnö‘F{$#ur 4 ¨bÎ) ©!$# tb%x. öNä3ø‹n=tæ $Y6ŠÏ%u‘ ÇÊÈ  

Artinya : “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya[10] Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain[11], dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (Q.S. An-Nisa’, 1)

 

Dari ayat tersebut di atas dapat dipahami, bahwa tuntutan pengembangbiakan dan tuntutan biologis telah dapat terpenuhi sekaligus. Namun hendaknya diingat bahwa perintah “bertaqwa” kepada Allah diucapkan 2 kali dalam ayat tersebut supaya tidak terjadi penyimpangan dalam hubungan seksual dan anak turunan juga akan menjadi anak turunan yang baik-baik.

d.      Latihan Memikul Tanggung Jawab

Di dalam ajaran Islam suami adalah sebagai kepala keluarga dan mempunyai kewajiban menafkahi istri dan anak-anaknya[12], sebagaimana firman Allah :

ãA%y`Ìh9$# šcqãBº§qs% ’n?tã Ïä!$|¡ÏiY9$# $yJÎ/ Ÿ@žÒsù ª!$# óOßgŸÒ÷èt/ 4’n?tã <Ù÷èt/ !$yJÎ/ur (#qà)xÿRr& ô`ÏB öNÎgÏ9ºuqøBr& 4 àM»ysÎ=»¢Á9$$sù ìM»tGÏZ»s% ×M»sàÏÿ»ym É=ø‹tóù=Ïj9 $yJÎ/ xáÏÿym ª!$# 4 ÓÉL»©9$#ur tbqèù$sƒrB  Æèdy—qà±èS  ÆèdqÝàÏèsù £`èdrãàf÷d$#ur ’Îû ÆìÅ_$ŸÒyJø9$# £`èdqç/ΎôÑ$#ur ( ÷bÎ*sù öNà6uZ÷èsÛr& Ÿxsù (#qäóö7s? £`ÍköŽn=tã ¸x‹Î6y™ 3 ¨bÎ) ©!$# šc%x. $wŠÎ=tã #ZŽÎ6Ÿ2 ÇÌÍÈ     

Artinya : “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri[13] ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)[14]. wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya[15], Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya[16]. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.” (Q.S. An-Nisa’, 34).

 

Allah menciptakan manusia di dalam kehidupan ini, tidak hanya untuk sekedar makan, minum,, hidup kemudian mati seperti ynag dialami makhluk lainnya. Lebih jauh lagi, manusia diciptakan supaya berfikir, menentukan, mengatur, mengurus segala persoalan, mencari dan meberi manfaat untuk umat.

Sesuai dengan maksud penciptaan manusia dengan segala keistimewaannya berkarya, maka manusia itu tidak pantas bebas dari tanggung jawab. Manusia bertanggung jawab dalam keluarga, masyarakat dan negara. Latihan itu pula dimulai dari ruang lingkup yang terkecil lebih dahulu (keluarga) kemudian baru meningkat kepada yang lebih luas lagi.[17]

3.      Prinsip-Prinsip Dasar Perkawinan

Seperti yang telah kami paparkan sebelumnya bahwa perkawinan dalam Islam itu di bangun diatas 5 prinsip dasar yang mesti ada yang akan kami jelaskan satu persatu sebagai entry point untuk masuk dalam pembahasan poligami yang menjadi tema pokok tulisan kami ini, adapun Prinsip-prinsip dasar perkawinan tersebut antara lain:

a.      Prinsip kebebasan memilih jodoh bagi laki-laki dan perempuan sepanjang tidak melanggar ketentuan syari’at.

Islam menggabungkan antara hak wali dalam menikahkan gadis asuhannya dengan kebebasan perempuan menerima laki-laki yang ia inginkan, Islam melarang para wali memaksa anak serta saudara perempuannya untuk menikah. Kezaliman seperti ini merupakan peristiwa yang sering terjadi pada masa Jahiliyah, mereka acapkali memaksa anak-anak perempuan, keponakanatau perempuan-perempuan yang ada dalam tanggung jawabnya untuk menikah dengan seseorang-bahkan sekalipun orang tersebut tidak mereka sukai. Praktek nikah paksa seperti ini masih sering kita jumpai di masyarakat dewasa ini.

Isalm juga melarang perempuan menikah dengan laki-laki tanpa restu orang tua/wali, sebab hal itu akan menghasilkan hubungan tidak harmonis antara suami dan keluarga sang perempuan. Padahal idealnya, pernikahan adalah sebuah akad yang bertujuan menyambung tali kasih sayang dengan orang yang semula bukan bagian dari keluarga. Jika sang perempuan mempunyai calaon yang cocok, maka tidak ada hak para wali atau orang tua mengekang atau mencegah keinginan sang perempuan untuk menikah dengan laki-laki pilihannya.[18]

Diriwayatkan dari Abi Hurairah r.a. Rasulullah SAW. Bersabda :” Janganlah kalian menikahkan perempuan yang pernah menikah kecuali setelah meminta persetujuannya, dan jangan pula kalian menikahkan perempuan yang perawan tanpa meminta izinnya” para sahabat bertanya ” Rasulullah, apa tanda setuju seorang perempuan? Rasulullah menjawab ” Diamnya perawan saat diminta izin adalah tanda bahwa ia setuju”[19]

Kebebasan memeilih pasangan hidup ini juga berlaku bagi laki-laki selama masih berada dalam koridor syari’at Islam, Islam telah menetapkan peraturan-peraturan yang kokoh dan prinsip-prinsip yang sempurna dalam memilih pasnagn hidup, Rasulullah SAW. Bersabda ketika ditanya tentang sifat wanita yang terbaik

التى تسره اذا نظر , وتطيعه اذا امر ولا تخالفه فى نفسه وماله بما يكره  

“Menyenangkan suami jika memandangnya, menaati suami jika menyuruhnya, tidak menentang dalam dirinya maupun harta suaminya dengan sesuatu yang tidak disenangi suaminya”[20]

            Dalam hadits lain Rosulullah juga menggariskan kriteria-kriteria perempuan yang pantas dan ideal untuk dinikahi oleh pria muslim :

´تنكح المرأة للأربع لمالها ولحسبها ولجمالها ولدينها فاظفر بذات الدين تربت يداك 

“Wanita dinikahi karena 4 perkara yaitu karena kekayaannya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya, pilihlah yang kuat agamanya niscaya engkau akan memperoleh berkah (keberuntungan).[21]

Yang dimaksud dengan keberuntungan disini adalah keberuntungan karena memilih  seorang istri berdasarkan agama, jadi jelas bahwa agamalah yang merupakan criteria utama dalam memilih istri. Agama adalah kumpulan dari seluruh kebaikan serta sendi bagai kebaikan istri dan keluarga, tanpa bermaksud menapikan criteria-criteria selain agama,[22] syarat agama ini tentu harus juga dimiliki oleh calon suami sehingga nantinya mampu mengemban tugas sebagai kepala keluarga yang berjalan dan beriring bersama dengan istri sesuai dengan tuntunan ajaran agama Islam yang luhur, jadi dengan demikian baik calon suami maupun istri memiliki hak yang sama dalam memilih pasangan hidup sesuai dengan syari’at agama.

b.      Prinsip Mawaddah wa Rahmah (Cinta Dan Kasih Sayang)

Prinsip ini antara lain ditemukan pada ayat 21 surat Ar Rum :

ô`ÏBur ÿ¾ÏmÏG»tƒ#uä ÷br& t,n=y{ /ä3s9 ô`ÏiB öNä3Å¡àÿRr& %[`ºurø—r& (#þqãZä3ó¡tFÏj9 $ygøŠs9Î) Ÿ@yèy_ur Nà6uZ÷t/ Zo¨Šuq¨B ºpyJômu‘ur 4 ¨bÎ) ’Îû y7Ï9ºsŒ ;M»tƒUy 5Qöqs)Ïj9 tbr㍩3xÿtGtƒ ÇËÊÈ     

Artinya “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (Q.S. Ar-rum, 21)

Setiap pasangan suami istri pasti mendambakan kehidupan rumah tangga yang sakinah (tenteram), untuk mewujudkan ketenteraman dalam rumah tangga maka salah satu prinsip yang harus ada seperti yang digambarkan oleh ayat tersebut di atas yaitu adanya mawaddah dan rahmah yang mewarnai kehidupan rumah tangga tersebut. Mawaddah itu adalah jenis cinta yang lebih melihat kualitas pribadi pasangan, adapun rahmah adalah jenis cinta yang lembut, siap berkorban dan siap melindungi kepada yang dicintai.[23] Oleh karena itu suami istri sejak akad nikah hendaklah telah dipertautkan oleh ikatan mawaddah dan rahmah sehingga keduanya tidak mudah goyah dalam mengarungi samudra perkawinan.

Namun patut diketahui bahwa mawaddah dan rahmah hanya di miliki oleh kehidupan manusia berbeda dengan kehidupan makhluk lainnya, perkawinan makhluk lain seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan hanya bertujuan untuk menjamin kelangsungan pengembangbiakan mereka jadi penekanannya untuk berkembang biak, sedangkan perkawinan dalam kehidupan manusia tidak untuk alasan kelangsungan generasi/keturunan (baca: pemenuhan kebutuhan bilogis) semata, tetapi lebih kepada nilai dan kualitas hubungan sex yang telah diatur agama melalui akad yang suci dan kuat (ميثاقا غليظا) sehingga apa yang mereka lakukan adalah aktifitas luhur dan sarana yang agung untuk memperoleh keturunan dan melestarikan keberadaan manusia di muka bumi.[24]

c.       Prinsip saling melengkapi dan melindungi

Prinsip ini ditemukan antara lain pada ayat 187 surat al Baqarah :

 £`èd Ó¨$t6Ï9 öNä3©9 öNçFRr&ur Ó¨$t6Ï9 £`ßg©9

Artinya : “Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka.”  

Firman Allah diatas mengisyaratkan bahwa sebagai makhluk, laki maupun perempuan memiliki kelemahan dan keunggulan, tidak ada orang yang sempurna dan hebat dalam semua hal sebaliknya tidak ada pula orang yang serba kekurangan, karena itu dalam kehidupan suami istri, manusia pasti saling membutuhkan dan masing-masing harus dapat berfungsi memenuhi kebutuhan pasangannnya ibarat pakaian,[25] yang menurut Qurays Shihab kehidupan suami istri hendaklah bisa 1) menutup aurat (tubuh); 2) Melindungi diri dari panas dan dingin dan 3) sebagai perhiasan layaknya fungsi pakaian yang dikenakan.[26]

d.      Prinsip Mu’asyarah bil Ma’ruf (memperlakukan istri dengan sopan)

Prinsip ini jelas sekali dikemukakan pada ayat 19 surat an Nisa’ “

£`èdrçŽÅ°$tãur Å$rã÷èyJø9$$Î/ 4 bÎ*sù £`èdqßJçF÷d̍x. #Ó|¤yèsù br& (#qèdtõ3s? $\«ø‹x© Ÿ@yèøgs†ur ª!$# ÏmŠÏù #ZŽöyz #ZŽÏWŸ2 ÇÊÒÈ  

Artinya : “Dan bergaullah dengan mereka secara patut. kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, Padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”

 

Telah banyak tuntunan Al Qur’an dan Hadits agar memperlakukan istri dengan baik dan sopan, karena pernikahan mengandung makna luhur dalam pergaulan suami istri sehingga sedapat mungkin dihindari tindakan kekerasan dan kesewenang-wenangan terhadap istri, Rasulullah saja mencontohkan dalam hal yang kecil seperti memanggil istri beliau siti ‘Aisyah dengan panggilan “al khumaira” karena pipinya yang sedikit kemerah-merahan, hal ini menunjukkan betapa beliau sangat lembut dan sopan dalam pergaulan dengan istri beliau.

e.       Prinsip Monogami

Kalau kita melihat dengan cermat dan seksama, maka asas perkawinan dalam hukum Islam sebenanrnya monogamy (beristri satu), hal ini telah terbukti dengan praktek monogamy rasulullah dengan siti khadijah selama 25 tahun perkawinan beliau tanpa ada kehadiran perempuan lain ditengah-tengah ketenteraman rumah tangga beliau meskipun beliau hidup ditengah masyarakat yang gemar melakukan praktek poligami (beristri banyak), ketentuan monogamy dalam Islam telah ada dalam al Qur’an Ayat 3 surat an Nisa’ ” :

÷bÎ)ur ÷LäêøÿÅz žwr& (#qäÜÅ¡ø)è? ’Îû 4‘uK»tGu‹ø9$# (#qßsÅ3R$$sù $tB z>$sÛ Nä3s9 z`ÏiB Ïä!$|¡ÏiY9$# 4Óo_÷WtB y]»n=èOur yì»t/â‘ur ( ÷bÎ*sù óOçFøÿÅz žwr& (#qä9ω÷ès? ¸oy‰Ïnºuqsù ÷rr& $tB ôMs3n=tB öNä3ãY»yJ÷ƒr& 4 y7Ï9ºsŒ #’oT÷Šr& žwr& (#qä9qãès? ÇÌÈ  

Artinya : ” Dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.[27]

 

Ayat di atas memberi petunjuk bahwa kawin dengan seorang wanita, itulah yang paling dekat dengan kebenaran sehingga terhindar dari berbuat aniaya, karena banyak kenyataannya bahwa polygamy yang diprakatekkan oleh banyak suami dewasa ini membuka peluang kepada kecenderungan untuk tidak mampu berbuat adil terhadap para istrinya, konflik keluarga lebih rentan dan kecenderungan untuk akumulasi sikap negative antar para istri maupun anak-anak mereka muncul dengan mudahnya sehingga kehidupan rumah tangga seperti ini jauh dari kedamaian, ketenteraman dan kebahagian. Jadi kata “فواحدة” (satu orang istri) lebih baik dari pada banyak istri sesuai dengan ayat tersebut. Inilah tema pokok yang akan kami jelaskan pada pembahasan berikutnya ini.

C. Poligami Dalam Sorotan

1.      Makna Poligami

Salah satu bentuk perkawinan yang sering diperbincangkan dalam masyarakat adalah poligami karena mengundang pandangan yang kontoversial. Terlebih lagi dengan munculnya beberapa kasus terakhir terkait praktek poligami yang terjadi sebutlah Aa Gym (seorang Da’i kondang sekaligus tokoh agama) yang menikah lagi dengan janda beranak 3 disamping perkawinannya dengan istri pertamanya yang telah dikaruniai 7 anak, atau sebutlah kasus yang cukup mencoreng kehormatan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia atas perilaku salah seorang anggota DPR-RI yang terlibat perselingkuhan dengan seorang penyanyi dangdut ibu kota disamping istrinya yang sah.

Sikap masyarakat terhadap kedua kasus ini tentu akan beragam karena perbedaan cara pandang dan terkait dengan tingkat intelektual seseorang, ada yang menganggap apa yang dilakukan oleh Aa Gym adalah sesuatu yang cukup beralasan dan bermotif agama yaitu mencoba menjalani sunnah rasul dengan tetap memegang prinsip menghormati dan memelihara kehormatan wanita agar tidak terjerumus ke lembah maksiat, tetapi tidak sedikit yang mengecam praktek poligami itu dengan alasan bahwa poligami apapun alasannya adalah bentuk penzaliman terhadap perempuan dan hak-haknya (istri pertama) dan lebih ekstrim lagi mereka menginginkan aturan kebolehan poligami dalam UU perkawinan No 1 tahun 1974 dihapuskan, tanpa berfikir solusi terbaik terhadap prilaku dan kecenderungan laki-laki yang pada dasarnya tidak bisa hidup dengan satu istri, lalu muncul pertanyaan bagaimana kalau seandainya praktek poligami ini dihapuskan? Tentu hal ini juga akan berdampak negative terhadap tatanan sosial kita, dapat dipastikan akan banyak bermunculan kasus-kasus seperti perselingkuhan, prostitusi, anak-anak tanpa bapak, aborsi, dan lain-lain yang intinya merendahkan dan melecehkan perempuan.

Jadi perlu kiranya dicarikan solusi terbaik untuk permasalahan sosial yang tengah marak kita dengar dan saksikan di media massa baik elektronik maupun cetak, yang terkait dengan perselingkuhan oknum pejabat, poligami, perceraian artis, praktek aborsi yang meraja lela, pembunuhan mantan pacar/ istri dengan motif dendam, dan lain sebagainya. Untuk berbagai permasalahan tersebut penulis hanya mengajak pembaca agar kembali ke aturan-aturan agama (syari’at) Islam tanpa mengedepankan kepentingan, baik pribadi maupun kelompok/golongan. Tetapi kami dalam makalah ini hanya akan membahas tentang poligami yang sementara ini masih sering disalah pahami oleh sebagian orang sebagai sesuatu yang negative (kezaliman) dan cenderung melecehkan perempuan. Dan yang lebih penting dari perbedaan pandangan tentang poligami hendaklah dijadikan sebagai sesuatu yang lumrah dalam wacana ilmiah dan menuai rahmat dari perbedaan itu. Kasus-kasus yang penulis sebutkan sebagian kecil dari banyak kasus yang terjadi di masyarakat, agar apa yang kita anggap baik belum tentu baik menurut Allah dan Rasul-Nya, begitu juga sebaliknya apa yang tadinya kita anggap jelek belum tentu jelek menurut Allah dan Rasul-Nya.

Menanggapi hal tersebut, marilah kita melihat kembali apa makna dari poligami yang telah ada dalam nash Al Qur’an surat An Nisa’ 3 yang telah kami kemukakan sebelumnya, bahwa poligami adalah perkawinan dalam hal mana suami mengawini lebih dari satu istri dalam waktu yang sama, laki-laki yang melakukan bentuk perkawinan seperti itu dikatakan poligam. Selain poligami, dikenal juga poliandri yaitu istri mempunyai beberapa suami dalam waktu yang sama, akan tetapi poliandri tidak banyak diprktekkan. Kebalikan dari poligami adalah monogamy yaitu ikatan perkawinan yang terdiri dari seorang suami dan seorang istri atau istilah lainnya poligini, dalam realitas sociologis masyarakat, monogamy lebih banyak dipraktekkan karena dirasakan paling sesuai dengan tabiat manusia dan merupakan bentuk perkwianan yang paling menjanjikan kedamaian.[28]

Sebenarnya istilah poligami mengandung pengertian poligami dan poliandri, tetapi karena poligini yang banyak terdapat, terutama sekali di Indonesia dan Negara-negara yang memakai hukum Islam maka tanggapan tentang poligini adalah poligami.[29]

2.      Fakta Sejarah Poligami

Para Orientalis menuduh bahwa poligami itu merupakan produk ajaran islam, dengan tujuan menteror dan menghina ajaran Islam, mereka mengemukakan segi-segi negative dari poligami. Kalau kita mengkaji sejarah maka akan terbuka bahwa masalah poligami itu sudah ada sejak lama sebelum Islam datang, bahkan poligami itu merupakan warisan orang-orang yang Yahudi dan Nasrani, sampai pada Martin Luther seorang penganjur besar Protesten, tidak nampak adanay larangan poligami, tuduhan tersebbut dapar dijawab dengan beberapa fakta sebagai berikut :

a.       Westermak berkata : “Poligami dengan sepengetahuan Dewan Gereja itu berjalan sampai abad ke-17 M”.

b.      Pada tahun 1650 M. Majelis Tinggi Prancis mengeluarkan edaran tentang diperbolehkannya seorang laki-laki mengumpulkan dua orang istri. Surat edaran itu dikelurakan karena berkurangnya kaum laki-laki akibat perang 30 tahun terus menerus.

c.       Agama Yahudi memperbolehkan poligami dengan jumlah yang tidak terbatas. Kenyataannya Nabi Ya’kub, Nabi Daud, dan Nabi Sulaiman mempunyai banyak istri, Nabi Ibrahim juga mempunyai dua orang Istri yakni Hajr dan Sarah.

d.      Penduduk asli Australia, Amerika, Cina, Jerman dan Sisilia terkenal sebagai bangsa yang melakukan poligami sebelum datangnya agama Masehi, Poligami yang mereka lakukan tanpa adanya batas dan syarat-syarat keadilanterhadap beberapa istrinya.

e.       Ahli piker Inggris Herbert Spencer di adalam bukunya “Ilmu Kemasyarakatan” menjelaskna bahwa sebelum datangnya Islam, wanitab itu diperjualbelikan ataupun digadaikan dan dipinjamkan. Hal tersebut dilakukan sesuai dengan peraturan khusus yang dikeluarkan oleh gereja dan berjalan sampai pertengahan abad 11 M.[30]

f.        Pada tahun 1567, parlemen skotlandia mengeluarkan undang-undang yang menyatakan bahwa perempuan tidak mempunyai hak kepemilikan barang. Yang lebih mengherankan lagi adalah undang-undang yang dikeluarkan Parlemen Inggris di masa Raja Henri VIII. Undang-undang tersebut melarang perempuan membaca kitab Injil. Hal ini tentu sangat kontras dengan dengan sikap para sahabat yang mempercayai Hafsah r.a. untuk memelihara mushaf Al Qur’an yang kelak disalin,diperbanyak, dan disebarluaskan pada masa Utsman r.a.[31]

Pengertian ini jelas, bahawa poligami sudah menjadi kebudayaan pada masa sebelum Islam datang, melihat kenyataan yang jelas-jelas merendahkan martabat perempuan itu maka melalaui Nabi Muhammad SAW. Sebagai Rasul-Nya membenahi dan mengadakan penataan terhadap adapt istiadat yang benar-benar tidak mendatangkan kemaslahatan dan meneruskan adapt kebiaasaan yang mempunyai nilai-nilai untuk menjunjung tinggi martabat manusia. Dalam hal ini termasuk masalah Poligami yang tidak terbatas. Islam membolehkan poligami dengan syarat adil hal ini demi menjaga hak dan martabat manusia.[32]

3.      Landasan Teologis dan Hukum Poligami Dalam Islam

a.      Tinjauan Historis ayat poligami

Poligami merupakan salah satu tema penting yang mendapat perhatian khusus dari Allah SWT. Sehingga tidak mengherankan kalau Dia meletakkannya pada awal surat An Nisa’ dalam Al Qur’an, seperti yang kita liahat, poligami terdapat pada ayat ketiga dan merupakan satu-satunya ayat dalam al Qur’an yang membicarakan masalah ini, akan tetapi para mufassir dan para Fuqaha seringkali mengabaikan redaksi umum ayat dan mengabaikan keterkaitan yang erat yang ada diantara masalah poligami dengan para janda yang memiliki anak-anak yatim.

Di sini kita berhadapan dengan masalah anak-anak yatim yang telah kehilangan ayahnya, dimana Allah menghendaki dan berlaku adil terhadap mereka, serta menjaga dan memelihara harta mereka dan menyerahkannya kembali kepada mereka ketika mereka telah menginjak dewasa. Dalam kondisi ini, yakni kekhawatiran tidak terwujudnya keadilan pada anak-anak yatim sesuai dengan yang dimaksud sebagai mana firman Allah ” dan Jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap anak-anak yatim…”, maka ayat di atas memperbolehkan poligami, yakni dengan menikahi ibu-ibu mereka yang menjanda (Allah berfirman) “maka kawinilah perempuan-perempuan yang kamu senangi”. Khitab (perintah) dalam ayat tersebut ditujukan kepada orang-orang yang telah menikah dengan seorang wanita dan memiliki anak; karena bukanlah termasuk poligami bagi lelaki bujangan yang mengawini janda yang memiliki anak yatim, dengan dasar bahwa ayat tersebut diawali dengan dua dan diakhiri dengan empat (dua, tiga atau empat).

Sesungguhnya Allah tidak sekedar memperbolehkan poligami, akan tetapi menganjurkan poligami dengan 2 syarat yang harus dipenuhi : Pertama : Bahwa istri kedua, ketiga dan keempat adalah para janda yang memiliki anak yatim; Kedua: harus terdapat rasa khawatir tidak dapat berbuat adil kepada anak-anak yatim.sehingga perintah poligami akan menjadi gugur ketika tidak terdapat dua syarat di atas. Adapun kedua syarat yang telah kami kemukakan adalah berdasarkan pada ” kaidah struktur bahasa” dalam firman-Nya ”

÷bÎ)ur ÷LäêøÿÅz žwr& (#qäÜÅ¡ø)è? ’Îû 4‘uK»tGu‹ø9$# (#qßsÅ3R$$sù $tB z>$sÛ Nä3s9 z`ÏiB Ïä!$|¡ÏiY9$# 4Óo_÷WtB y]»n=èOur yì»t/â‘ur (

Artinya : “Dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat.”

 

Anjuran  poligami dalam ayat ini seringkali disalah pahami sehingga melahirkan antusiasme yang berlebihan dalam hal mengawini para janda pada masa itu padahal tidak mampu berlaku adil terhadap para istrinya yang lain, jika dikhawatirkan tidak mampu berlaku adil maka cukuplah dengan satu istri saja karena hal itu lebih dekat untuk tidak berlaku aniaya[33], sebagaimana lanjutan ayat tersebut ”

÷bÎ*sù óOçFøÿÅz žwr& (#qä9ω÷ès? ¸oy‰Ïnºuqsù ÷rr& $tB ôMs3n=tB öNä3ãY»yJ÷ƒr& 4 y7Ï9ºsŒ #’oT÷Šr& žwr& (#qä9qãès? ÇÌÈ  

Artinya : “Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil[34] Maka (kawinilah) seorang saja[35], atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”

Hal ini juga didukung oleh keterangan Istri Nabi, Aisyah r.a. Imam Bukhari, Muslim, Abu Daud, serta Turmuzi dan lain-lain meriwayatkan bahwa urwah bin Zubair bertannya kepada istri Nabi Aisyah r.a. tentang ayt ini beliau menjawab bahwa ini berkaitan dengan anak yatim yang berada dalam pemeliharaan seorang wali, dimana hartanya bergabung dengan harta wali dan sang wali senang akan kecantikan dan harta sang yatim, maka ia hendak mengawininya tanpa mahar yang sesuai, kemudian Aisyah ditanya tentang perempuan maka turunlah ayat firman-Nya :Dan mereka minta fatwa kepadamu tentang Para wanita. Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka, dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Al Quran] (juga memfatwakan) tentang Para wanita yatim yang kamu tidak memberikan kepada mereka apa[36] yang ditetapkan untuk mereka, sedang kamu ingin mengawini mereka[37] dan tentang anak-anak yang masih dipandang lemah. dan (Allah menyuruh kamu) supaya kamu mengurus anak-anak yatim secara adil. dan kebajikan apa saja yang kamu kerjakan, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahuinya.Aisyah kemudian melanjutkan keterangan bahwa firman-Nya “sedang kamu enggan mengewini mereka” itu adalah keengganan para wali untuk mengawini anak yatim yang sedikit harta dan kecantikannya, maka sebaliknya dalam an Nisa’ ayat 3 ini melarang mengawini anak-anak yatim yang mereka inginkan karena harta dan kecantikannya tetapi enggan berlaku adil dan terhadap mereka.[38]

Ayat ini juga turun untuk membatasi jumlah istri yang boleh untuk di poligami yaitu 4 orang, karena perlu diketahui bahwa sebelum ayat poligami ini turun, banyak sahabat yang mempunyai istri lebih dari empat orang, sesudah pembatasan paling banyak poligami itu empat, maka Rasulullah memerintahkan kepada sahabat-sahabat yang mempunyai istri lebih dari empat untuk menceraikan istri-istrinya seperti disebutkan dalam hadits yang artinya “sesungguhnya Nabi Muhammad SAW. Berkata kepada Ghilan bin Umayyah Al Tsqafi yang waktu masuk Islam mempunyai sepuluh istri, Pilihlah empat diantara mereka dan ceraikanlah yang lainnya” (HR. Nasa’I dan Daruquthny)

Dalam hadits lain disebutkan pula tentang pengakuan seorrang sahabat yang bernama Qais Bin Harits yang artinya ” Saya masuk Islam bersama-sama dengan delapan istri saya, lalu hal itu saya ceritakan kepada Nabi Muhammad SAW maka beliau bersabda : “Pilihlah empat orang dari mereka”(HR. Abu Daud)[39]   

b.      Hukum Poligami dalam Islam

Berdasarkan pemahaman terhadap ayat dan hadits yang membahas tentang poligami itu, maka timbul pertanyaan ” Asas perkawinan dalam Islam Poligamikah atau monogamy? Dalam masalah ini ada dua pendapat yaitu : 1) Bahwa asas perkawinan dalam Islam itu monogami; 2) Bahwa asas perkawinan dalam Islam itu Poligami.

Untuk menjawab kontroversi seputar asas perkawinan dalam Islam marilah kita merujuk terhadap sejumlah pendapat beberapa pakar antara lain :   

1)      Menurut Mahmud Syaltut, Mantan Syekh Al Azhar, Hukum Poligami adalah Mubah, Poligami dibolehkan selama tidak dikhawatirkan terjadinya penganiayaan terhadap para istri, jika terdapat kekhawatiran terhadap kemungkinan terjadinya penganiayaan itu, dianjurkan agar mencukupkan beristri satu saja. Jadi menurut beliau kebolehan poligami terkait dengan terjaminnya keadilan dan ketiadaan kekhawatiran akan terjadinya penganiayaan[40] yaitu penganiayaan terhadap istri.

2)      Zamakhsari dalam Kitabnya “Al Kasyaf” mengatakan, bahwa poligami menurut Syari’at Islam adalah Rukhsah (Kelonggaran ketika darurat).sama halnya dengan rukhsah bagi musafir dan orang sakit yang dibolehkan buka puasa Ramadhan ketika dalam perjalanan. Darurat yang dimaksudkan adalah berkaitan dengan tabiat laki-laki dari segi kecenderungannya untuk bergaul lebih dari seorang istri. Kecenderungan yang pada diri laki-laki itulah seandainya syari’at Islam tidak memberikan kelonggaran berpoligami, niscaya akan membawa kepada perzinahan, oleh karena itu poligami diperbolehkan dalam Islam.[41]

3)      Muhammad Abduh adalah tokoh Al Azhar yang mengingkari praktek poligami di Mesir yang banyak menimbulkan dampakn negative . menurutnya mustahil mengarahkan umat ke arah yang lebih baik disaat mereka mempraktekkan poligamidengan cara-cara yang potensial menimbulkan bahaya. Padahal bahaya harus dicegah sesuai kaidah “Jangan melakukan pekerjaan yang membahayakan diri dan orang lain” dan mencegah bahaya lebih utama dibandingkan mencari kebaikan”[42]

4)      Sementara menurut M. Rasyid Ridha : Ada tiga hal penting dalam masalah poligami ini yaitu :

a)      Islam tidak pernah mewajibkan poligami kepada kaum muslimin dan tidak menganjurkan laki-laki untuk mempraktekkannya. Dalam ayat yang membolehkan poligami ditegaskan bahwa sedikit sekali orang ynag melakukan poligami terhindar dari kezaliman yang diharamkan. Hikmah yang terkandung disini adalah anjuran untuk berfikir matang bagi orang yang hendak melakukan poligami. Mempertimbangkan kembali niatnya, mampukah ia bersikap adil diantara istri-istrinya?

b)      Islam tidak secara mutlak mengharamkan poligami, kendati juga tidak terlalu longgar membolehkannya. Sebab watak dan kebiasaan laki-laki diberbagai belahan dunia sama, mereka tidak puas memiliki satu istri terlebih lagi kalau suami menginginkan keturunan,sedangkan istrinya mandul, tua atau mengidap penyakit yang membuatnya tak mampu melahirkan. Disamping itu disejumlah tempat jumlah perempuan lebih banyak dibandingkan dengan junlah laki-laki, teruatam saat terjadi perang. Ribuan perempuan kehilangan suami yang bertugas melindungi dan menafkahi mereka. Sementara disis lain banyak laki-laki kaya yang mampu menanggung beban nafkah lebih dari seorang istri.

c)      Dengan kedua alasan di atas, Islam menerapkan bahwa hukum poligami adalah mubah. Meski demikian mubah disini tidak bersifat mutlak ada batasan jumlah istri yang diperbolehkan. Dengan berpegang kepada syarat-syarat tersebut poligami diharapkan mampu menjadi salah satu solusi permasalahan masyarakat.[43]

Menurut Qurays Shihab ayat 3 Surat An Nisa’ tersebut sebenarnya tidak memuat suatu peraturan poligami, karena poligami telah dikenal dan dilaksanakan oleh syari’at agama dan adat istadat sebelum ini, ayat ini juga tidak mewajibkan poligami atau menganjurkannya, dia hanya berbicara tentang bolehnya poligami, itupun merupakan pintu daruratia hanya dilalui saat amat diperlukan dengan syarat yang berat yaitu adil. Jika demikian halnya maka pembahasan tentang poligami dalam al Qur’an hendaknya tidak ditinjau dari segi ideal atau baik buruknya, tetapi harus dilihat dari sudut pandang pengarturan hukum dalam berbagai kondisi yang mungkin terjadi.[44]

Adalah wajar bagi suatu perundang-undangan apalagi agama yang bersifat universal dan berlaku untuk setiap waktu dan tempat, untuk mempersiapkan ketetapan hukum yang boleh jadi terjadi pada suatu ketika walaupun kejadian itu baru merupakan kemungkinan. Bukannkah kenyataan menunjukkan bahwa bukankah rata-rata usia wanita lebih panjang dari laki-laki sedang potensi untuk membuahi laki-laki lebih lama dari pada potensi wanita. Wanita mengalami haid, dan monopouse yang tidak dialami laki-laki, bukankah peperangan telah banyak menelan laki-laki dari pada perempuan sehingga perempuan meningkat secara kwantitas?bukankah penyakit parah merupakan suatu kemungkinan yang tidak aneh dan dapat terjadi dimana-mana ? adakah jalan keluar yang diusulkan bagisuami dalam mengahadapi kenyataan demikian? Bagaimanakah seharusnya ia menyalurkan hasrat biologisnya atau memperoleh dambaan keturunan? Nah poligami ketika itu adalah jalan keluar yang paling tepat. Namun sekali lagi perlu diingat bahwa ini bukan anjuran apalgi kewajiban, ayat ini hanyamemberi wadah bagi yang menginginkannya, ketika menghadapi kondisi atau kasus seperti diatas. Tentu saja masih banyak kondisi atau kasus selain yang disebutkan diatas, yang juga merupakan alasan logis untuk tidak menutup rapat atau mengunci mati poligami yang dibenarkan oleh ayat tersebut dengan yang tidak ringan.

Menarik juga di cermati apa yang dikatakan oleh Dr. M. Shahrur yaitu masalah poligami dipandang sebagai pewrintah Allah yang ditetapkan dengan persyratan-persyaratan yang ketat (sebagaimana diatas) sebagai jalan keluar bagi persoalan kemasyarakatanyang mungkin terjadi dan mungkin tidak. Kita harus melaksanakan perintah tersebut tatkala telah menjadi problem dan sebaliknya kita seharusnya meninggalkannya ketika tidak terjadi problem.[45]   

Dengan demikian menurut analisa penulis dengan merujuk kepada penafsiran beberapa pakar diatas bahwa bentuk perkawinan dalam Islam itu adalah monogamy tetapi tidak menutup rapat-rapat pintu poligami karena beberapa alasan  sebagaimana tersebut di atas seperti istri yang mandul, tua dan atau berpenyakit yang tak kunjung sembuh sementara suami menginginkan turunan; ataupun karena jumlah perempuan yang lebih banyak dari laki-laki akibat perang yang berkepanjangan sehingga banyak janda yang kehilangan tempat bergantung untuk dinafkahi; jadi Islam memboleh poligami jika terdapat kondisi-kondisi sosial seperti itu tetapi dengan syarat mampu berbuat adil.

Mengenai masalah adil ini, beberapa pihak menjadikannya sebagai alasan untuk melarang poligami karena sebagian besar pria tidak akan mampu berbuat adil terhadap para istrinya dengan merujuk pada ayat 129 surat An Nisa :

`s9ur (#þqãè‹ÏÜtFó¡n@ br& (#qä9ω÷ès? tû÷üt/ Ïä!$|¡ÏiY9$# öqs9ur öNçFô¹tym ( Ÿxsù (#qè=ŠÏJs? ¨@à2 È@øŠyJø9$# $ydrâ‘x‹tGsù Ïps)¯=yèßJø9$$x. 4 bÎ)ur (#qßsÎ=óÁè? (#qà)­Gs?ur  cÎ*sù ©!$# tb%x. #Y‘qàÿxî $VJŠÏm§‘ ÇÊËÒÈ    

Artinya : “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat Berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. dan jika kamu Mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS. An Nisa’ 129)

 

Pendapat mereka tentang maksud keadilan dalam poligami disini keliru karena tidak ada orang yang mampu berbuat adil dalam segala hal terhadap para istri, pun itu Rasullullah karena beliau juga tidak sanggup menguasai kecenderungan hatinya yang lebih mencinyai Aisyah dari pada istri-istri beliau yang lain, dengan sabda seraya berdoa setelah selesai menggilir istri-istri beliau :

عن عائشة رضى الله عنها قالت : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يقسم ويعدل ويقول : اللهم هذا قسمى فيما أملك فلا تلمني فيما تملك ولا أملك (رواه الخمسة الا أخمد)    Artinya : “Dari Aisyah ra. Ia berkata : Rasulullah Saw. Menggilir (istri-istrinya) ia pun adil dan berdoa, “Ya Allah, inilah cara aku menggilir dalam hal yang aku menguasainya maka kiranya engkau tidak mencelaku dalam hal yang engkau berkuasa sedangkan aku tidak” (HR. Imam yang lima kecuali Ahmad).

Dari keterangan ayat dan hadits tersebut dapat disimpulkan bahwa keadilan yang dimaksud dalam poligami adalah memperlakukan yang sama para istri dalam masalah-masalah yang bersifat fisik dan materi seperti melakukan giliran, memberi makan, pakaian, dan perumahan, dan bukan dalam masalah immateri seperti cinta dan kasih sayang.[46]

c.       Poligami dan Realitas Sosial

Kemudian yang perlu menjadi perhatian kita selanjutnya adalah munculnya sebuah pertanyaan “Apakah kita akan tetap mengatakan bahwa asas perkawinan monogamy adalah yang paling relevan ketika banyak para pelaku monogamy tertangkap basah memiliki PIL (Perempuan Idam Lain)?”

Untuk menjawabnya tentu perlu melihat kondisi real yang ada disekitar kita apakah benar kenyataan seperti yang ditanyakan itu ada dalam masyarakat kita, jika itu memang benar maka hal yang perlu kita lakukan adalah melaihat kembali konsep poligami yang ditawarkan Islam bahwa dalam kondisi-kondisi tertentu selain yang telah disebutkan rasyid ridha ataupun qurys shihab pada pembahasan sebelumnya seperti istri yang mandul, sakit parah tak kunjung sembuh dan atau hasrar laki-laki yang hipersex dan atau perbandingan jumlah laki dan perempuan, maka ini  menurut penulis merupakan akibat dari sikap alergi kita terhadap poligami terutama sikap para pemerhati dan pejuang kesetaraan jender yang senantiasa memahami poligami dari sudut pandang perempuan yang mendapat perlakukan tidak adil dari suaminya sehingga tidak mendapatkan hak-haknya sebagai perempuan sekaligus istri, tetapi tidak melihat kondisi suaminya yang kemungkinan hipersex atau menginginkan keturunan karena istrinya mandul/sakit parah atau si istri sudah tidak bergairah dalam kehidupan sexnya, lalu apakah kita akan tetap mengatakan para suami tidak boleh berpoligami?

Kasus yang muncul akhir-akhir ini seperti yang penulis kemukakan sebelumnya adalah merupakan akumulasi emosi dari seorang suami yang tidak tersalurkan keinginannya saat bermonogami dengan istrinya, maka perlu kiranya ada keterbukaan dan diskusi dengan penuh keakraban dan kepala dingin tentang segala keluhan baik yang berasal suami maupun istri sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak dinginkan, tetapi jalan diskusi dan keterbukaan tidak bias maka hendaklah segera bercerai dengan cara yang baik, karena rumah tangga yang tidak ada ketenteraman di dalamnya akan menyiksa masing-masing pasangan baik suami maupun istri.

Jika ketidaknyamanan masing-masing psangan dipertahankan karena berbagai sebab diatas maka tidak heran akan kita jumpai dampak negative seperti prostitusi, perselingkuhan, aborsi, dll. Maka solusi yang terbaik dalam hal ini adalah poligami atau cerai dengan cara yang baik seperti firman Allah :

ß,»n=©Ü9$# Èb$s?§sD ( 88$|¡øBÎ*sù >$rá÷èoÿÏ3 ÷rr& 7xƒÎŽô£s? 9`»|¡ômÎ*Î/ 3

Artinya : “Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.”

C.     Penutup

Dari uraian diatas dapat diambil paling tidak empat kesimpulan :

1.      Ayat tentang poligami diturunkan pada akhir tahun kedelapan hijriyah untuk membatasi jumlah istri yang dibolehkan untuk dipoligami yaitu 4 orang dimana pada saat itu para sahabat banyak yang telah memiliki istri lebih dari 4 ada yang 8 ada juga yang 10 istri, maka oleh karena itu rasulullah memerintahkan para sahabat untuk memilih empat dari istri-istri mereka dan mneceraikan yang lain.

2.      Poligami dibolehkan bagi laki-laki yang merasa mampu untuk berbuat adil tetapi jika dikhawatirkan untuk tidak berlaku adil terhadap istri-istrinya maka lebih baik satu istri saja (monogamy)

3.      Ketentuan tentang kebolehan poligami selalu disertai dengan kondisi masyarakat yang melingkupinya seperti istri yang mandul, sakit parah ataupun hipersex laki-laki yang dikhawatirkan tersalurkan dengan jalan yang tidak benar (perzinahan) dan kondisi-kondisi lain yang kemungkinan muncul sesuai dengan perkembangan social maasyarakat sehingga akhirnya poligami harus menjadi jalan keluar dengan syarat ketat yaitu mampu berlaku adil   

4.      Poligami adalah jalan darurat tak ubahnya seperti pintu darurat yang ada di sebuah pesawat, yang setiap orang tidak pernah bberniat untuk menggunakannya kalau tidak pada saat-saat yang sangat mendesak dan darurat. Tetapi pintu itu bukan terkunci rapat atau terkunci mati sehingga tidak ada satu penumpangpun  yang boleh melewatinya hanya saja pintu itu tidak diperkenankan digunakan kalauu tidak dengan alasan pesawat dalam keadaan tidak stabil dan akan mengalami kecelakaan maka pada saat itulah pintu tersebut boleh dan harus dibuka.  

 

 


DAFTAR BACAAN

 

 

Ahmad Azhar Basyir, Hukum Perkawinan Islam, Bagian Penerbit Fak. Hukum UII, Yogyakarta, 1997

Ahmad Muhammad Jamal, Muftarayah ‘Ala Al Islam, Beirut, Dar Al Fikr, tt

Asy-Syaukani, Nail al-Authar, juz 26, hal. 234

DR. Mufir Az-Zahrani, Poligami dari berbagai persepsi, (terj) M. Suten Ritonga, Gema Insani Press, 1996

Drs. Sidi Ghazalba, Menghadapi soal-soal perkawinan, Jakarta Antara, 1975

H. Abdul Qadir Djaelani, Keluarga Sakinah, PT. Bina Ilmu, Surabaya, 1995

Lampiran 2, Undang-undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.

M. Ali Hasan, Masail Fiqhiyah Al Haditsah; pada masalah-masalah kontemporer hukum islam, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, cet.5, 2003

M. Rasyid Ridho, Perempuan Sebagai Kekasih ; Hakikat, Martabat Dan Partisipasinya Di Ruang Public, (Terj) Ahmad Rivai, Usman Abd. Syukur Abd. Razak, Hikmah (Klp. Mizan) Jakarta,

Muhammad Abu Zahrah, Al Ahwalusy Syahsiyyah, Dar Al Fikr Al Arabi, kairo, 1957

Muhammad Al Bahy, Al Islam wa Tijah AL Mar’ah Al Mu’ashirah, Mesir, Maktabah Wahbah, 1978

Muhammad Syata’ ad-Dimyati, I’antut Thalibin, Juz III, Daru Ihya il Kutubil Arabiyah, tt,

Ny. Soemiyati, Hukum perkawinan Islam dan Undang-undang Perkawinan, Libertim Yogyakarta, Cet.2, 1986

Prof. Dr. Huzaimah T. Yanggo, Masail Fiqhiyyah; Kajian Hukum Islam Kontemporer, Angkasa Bandung, 2005

Prof. Dr. Mahmud Syaltut, Islam ‘Aqidah wa Syari’ah, Mesir, Daru Al Qalam, 1996 Hal. 269

Prof. Dr. Said Agil Husin Al Munawar, dkk., Agenda Generasi Intelektual; Ikhtiar Membangun Masyarakat Madani, Penamadani, Jakarta, 2003

Prof.Dr. Qurays Shihab, Tafsir Al Misbah; Pesan, Kesan Dan Keserasian Al Qur’an, Lentera Hati Jakarta, 2000

Siti Musdah Mulia, Islam Menggugat Poligami, PT. Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2004



[1] Yang dimaksud berpasang-pasangan, ialah jantan dan betina, pahit dan manis, putih dan hitam, besar kecil dan sebagainya.

[2] Siti Musdah Mulia, Islam Menggugat Poligami, PT. Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2004, hal. 74

[3] Muhammad Syata’ ad-Dimyati, I’antut Thalibin, Juz III, Daru Ihya il Kutubil Arabiyah, tt, hal. 256

[4] Muhammad Abu Zahrah, Al Ahwalusy Syahsiyyah, Dar Al Fikr Al Arabi, kairo, 1957, hal. 19

[5] Ahmad Azhar Basyir, Hukum Perkawinan Islam, Bagian Penerbit Fak. Hukum UII, Yogyakarta, 1997, hal. 10.

[6] Lampiran 2, Undang-undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.

[7] Siti Musdah Mulia, Op Cit, hal. 15-16

[8] Ny. Soemiyati, Hukum perkawinan Islam dan Undang-undang Perkawinan, Libertim Yogyakarta, Cet.2, 1986, hal. 12

[9] M. Ali Hasan, Masail Fiqhiyah Al Haditsah; pada masalah-masalah kontemporer hukum islam, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, cet.5, 2003, hal 2-7 

[10] Maksud dari padanya menurut jumhur mufassirin ialah dari bagian tubuh (tulang rusuk) Adam a.s. berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim. di samping itu ada pula yang menafsirkan dari padanya ialah dari unsur yang serupa Yakni tanah yang dari padanya Adam a.s. diciptakan.

[11] Menurut kebiasaan orang Arab, apabila mereka menanyakan sesuatu atau memintanya kepada orang lain mereka mengucapkan nama Allah seperti :As aluka billah artinya saya bertanya atau meminta kepadamu dengan nama Allah.

[12] Ny. Soemiyati, Op.Cit, hal. 18

[13] Maksudnya: tidak Berlaku curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya.

[14] Maksudnya: Allah telah mewajibkan kepada suami untuk mempergauli isterinya dengan baik.

[15] Nusyuz: Yaitu meninggalkan kewajiban bersuami isteri. nusyuz dari pihak isteri seperti meninggalkan rumah tanpa izin suaminya.

[16] Maksudnya: untuk memberi peljaran kepada isteri yang dikhawatirkan pembangkangannya haruslah mula-mula diberi nasehat, bila nasehat tidak bermanfaat barulah dipisahkan dari tempat tidur mereka, bila tidak bermanfaat juga barulah dibolehkan memukul mereka dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas. bila cara pertama telah ada manfaatnya janganlah dijalankan cara yang lain dan seterusnya.

[17]M. Ali Hasan, Ibid, hal. 2-9

[18] M. Rasyid Ridho, Perempuan sebagai Kekasih ; Hakikat, Martabat dan partisipasinya di ruang public, (Terj) Ahmad Rivai, Usman Abd. Syukur Abd. Razak, Hikmah (Klp. Mizan) Jakarta, Hal. 47-48

[19] Hadits ini diriwayatkan oleh Al Bukhari, Muslim, abu Dawud, an Nasai, dari abu hurairah r.a. kemudian juga diriwayatkan oleh at Tirmizi, dan Ibnu Majah, lihat Kanzul Amal Vol. 19 Hadits No. 44657

[20] Shahih Bukhari, Jus 5 hal. 1958

[21] Asy-Syaukani, Nail al-Authar, juz 26, hal. 234

[22] DR. Mufir Az-Zahrani, Poligami dari berbagai persepsi, (terj) M. Suten Ritonga, Gema Insani Press, 1996

[23] Prof. Dr. Said Agil Husin Al Munawar, dkk., Agenda generasi Intelektual; Ikhtiar membangun masyarakat Madani, Penamadani, Jakarta, 2003, hal 63.

[24] M. Rasyid Ridho, Op Cit, hal 50-52

[25] Siti Musdah Mulia, Op Cit, hal 14-15

[26] Prof. Dr. Said Agil Husin Al Munawar, dkk., Op cit. hal 63-64

[27] M. Ali Hasan, Op Cit, hal 22

[28] Siti Musdah Mulia, Op Cit, hal. 43-44

[29] Drs. Sidi Ghazalba, Menghadapi soal-soal perkawinan, Jakarta Antara, 1975, hal. 25

[30] Ahmad Muhammad Jamal, Muftarayah ‘Ala Al Islam, Beirut, Dar Al Fikr, tt, hal 107-108

[31] M. Rasyid Ridha, Op Cit. hal. 95-96

[32] Prof. Dr. Huzaimah T. Yanggo, Masail Fiqhiyyah; Kajian Hukum Islam Kontemporer, Angkasa Bandung, 2005, hal. 148-149

[33] Dr. Muhammad Shahrur, Metodologi Fiqih Islam Kontemporer, (Terj) Sahiron Syamsudin, dan Burhanudin, Elsaq Press, Yogyakarta, 2004, hal. 425-429

[34] Berlaku adil ialah perlakuan yang adil dalam meladeni isteri seperti pakaian, tempat, giliran dan lain-lain yang bersifat lahiriyah.

[35] Islam memperbolehkan poligami dengan syarat-syarat tertentu. sebelum turun ayat ini poligami sudah ada, dan pernah pula dijalankan oleh Para Nabi sebelum Nabi Muhammad s.a.w. ayat ini membatasi poligami sampai empat orang saja.

[36] Maksudnya Ialah: pusaka dan maskawin

[37] Menurut adat Arab Jahiliyah seorang Wali berkuasa atas wanita yatim yang dalam asuhannya dan berkuasa akan hartanya. jika wanita yatim itu cantik dikawini dan diambil hartanya. jika wanita itu buruk rupanya, dihalanginya kawin dengan laki-laki yang lain supaya Dia tetap dapat menguasai hartanya. kebiasaan di atas dilarang melakukannya oleh ayat ini.

[38] Prof.Dr. Qurays Shihab, Tafsir Al Misbah; pesan, kesan dan keserasian Al Qur’an, Lentera Hati Jakarta, 2000, hal. 324

[39] Prof. Dr. Huzaimah T. Yanggo, Op Cit, hal 150-151

[40] Prof. Dr. Mahmud Syaltut, Islam ‘Aqidah wa Syari’ah, Mesir, Daru Al Qalam, 1996 Hal. 269

[41] Muhammad Al Bahy, Al Islam wa Tijah AL Mar’ah Al Mu’ashirah, Mesir, Maktabah Wahbah, 1978, hal. 42.

[42] M. Rasyid Ridha, Op cit, hal.101

[43] Ibid, hal 99-100

[44] Ibid, hal 324

[45] Dr. Muhammad Shahrur, Op Cit. hal 432.

[46] H. Abdul Qadir Djaelani, Keluarga Sakinah, PT. Bina Ilmu, Surabaya, 1995, hal 178


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: