THE PRINCIPLES OF COMMUNICATIVE APPROACH

12 09 2008

Dalam pendekatan komunikatif terdapat beberapa prinsip yang mendasarinya, tidak kurang dari tiga prinsip pokok yang ada di dalamnya akan dijelaskan satu per satu dengan mengacu kepada apa yang dikemukakan oleh Finochiaro dan Brumfit (1983) dalam buku “Approaches and Methodes In Language Teaching : A Description and Analysis” yang ditulis oleh Jack C. Richard dan Theodore S. Rodgers. (1992) ketika mengkomparasi antara pembelajaran bahasa komunikatif dengan metode audiolingual[1]. Sejatinya ada 22 ciri atau prinsip pendekatan komunikatif, namun penulis hanya memilih tiga prinsip setelah terlebih dahulu melalui proses analisis terhadap 22 prinsip tersebut dengan mempertimbangkan aspek kesesuaian, keterpakaian dan efektifitas prinsip-prinsip tersebut proses analisis terhadap obyek kajian penulis yakni bahan ajar Tareq.

Ketiga prinsip yang penulis maksud tersebut adalah kebermaknaan dalam setiap aktifitas berbahasa; kontektualisasi pembelajaran bahasa (Arab) dan pembelajaran yang berpusat pada pembelajar. berikut ini penjelasannya masing-masing:

 

a)      Kebermaknaan dalam Setiap Aktifitas Berbahasa 

Kebermaknaan artinya penyajian dan pembelajaran sejumlah bentuk bahasa yang dikaitkan dengan situasi dan konteks berbahasa.[2] Bila dikaitkan dengan buku ajar, maka penyusunan materi buku ajar yang berpendekatan komunikatif disusun berdasarkan fungsi-fungsi komunikatif (seperti meminta maaf, menggambarkan, mengundang, dan berjanji) yang mampu mendorong pembelajar untuk mengetahui dan menggunakannya, dan pembelajaran bentuk-bentuk tata bahasa tertentu dimungkinkan untuk menunjang fungsi-fungsi komunikatif tersebut.[3] Jadi, tata bahasa tidak lebih hanya sebagai alat yang digunakan untuk dapat berkomunikasi dalam konteks berbahasa yang benar dan bermakna sesuai dengan fungsi-fungsi bahasa yang dipelajari.    

Setiap bahasa di dunia digunakan menurut sistem bahasa itu sendiri, yaitu dengan pola atau susunan yang mempunyai makna bagi penggunanya. Ucapan kata yang digunakan dalam pembicaraan selalu disusun dengan cara-cara tertentu atau dirancang untuk menyatakan arti yang sama bagi semua pemakai bahasa tersebut. Namun demikian, kebermaknaan suatu ujaran atau pembicaraan tidak tergantung pada arti kata-perkata, tetapi tergantung pada seluruh persepsi pendengar atau pembaca pada ucapan, intonasi, tata bahasa dan makna dari suatu situasi atau budaya. Dengan kata lain, kebermakanaan suatu ujaran terjadi dari kombinasi sistem ucapan, tata bahasa, kosakata dan budaya suatu bahasa yang tercermin di dalamnya. [4]

Berikut beberapa indikator yang menunjukkan kapan dan bagaimana suatu aktifitas berbahasa dikatakan bermakna, antara lain:  

1)      Adanya kegiatan yang menunjukan komunikasi yang sebenarnya (realistis), yang mendorong pembelajar belajar bahasa,[5]contoh: kalau seorang guru meminta para pelajar untuk menirukan kalimat-kalimat rangsangan, dan para pelajar memberi respons, maka aktifitas ini bukan komunikasi. Komunikasi yang sebenarnya (realistis) ialah apabila ada tanya jawab karena satu pihak tidak mengetahui jawabannya. Bandingkan dua percakapan berikut ini:

     Guru    :  اين السبورة ؟/aina al-sabbûrah?(Di mana papan tulis?)

      (sudah terang tampak oleh guru dan para pelajar)

Pelajar : السبورة امام الفصل/al-sabbûrah amâm al-fashl (papan tulis ada di

depan kelas)

     Guru    :  اين عمر ؟/aina Umar? (di mana Umar?)

      (guru tidak melihat Umar di ruang kelas)

Pelajar  : عمر لا يحضر فى الفصل، هو مريض يا أستاذ !/Umar la yahdhur fi

al-fashl, huwa marîdh ya ustâdz! (Umar tidak ada di kelas, dia sedang sakit ya ustadz!)  (guru tidak mengetahui jawabannya)

Kalau seseorang bertanya tentang sesuatu tetapi ia sudah mengetahui jawabannya (seperti contoh 1), maka ini bukan dinamakan komunikasi, sebab tidak ada ‘kekosongan informasi’ atau Hubbard menyebutnya dengan ‘information gapdalam bukunya A Training Course For TEFL sebagaimana yang dikutip oleh Nababan, dan sebaliknya kalau kita bertanya tentang sesuatu karena kita tidak atau belum mengetahui jawabannya, maka ini dinamakan ada ‘information gap’. [6] Jadi salah satu ciri pendekatan komunikatif itu ialah bahwa harus ada ‘kekosongan informasi’ dalam aktifitas komunikasi yang berlangsung antara pembicara dan pendengar.

2)      Adanya aktifitas-aktifitas bahasa yang dilakukan bertujuan untuk mengerjakan tugas-tugas yang bermakna yang dapat mendorong pembelajar untuk belajar. Kegiatan-kegiatan berbahasa yang dilakukan bersifat nyata dan penuh tujuan,[7] contoh: tugas-tugas untuk mengganti bentuk kata kerja yang satu ke bentuk kata kerja yang lain dikatakan tidak begitu bermakna, misalnya:

 يكتب خالد رسالة البحث الآن                 كتب خالد رسالة البحث أمس

Yaktub khâlid risâlat al-bahts al-ân           Kataba khâlid risâlat al-bahts al-ams

(Khalid sedang menulis tesis sekarang)          (Khalid telah menulis tesis kemarin)

Tetapi, tugas-tugas sebagai berikut sangat bermakna, yakni contoh ungkapan seorang guru ke salah seorang pembelajar di kelas dengan menggunakan bahasa target secara langsung):

1)       امسح السبورة ! / imsah al-sabbûrah ! (hapuslah papan tulis itu!)

2)      اذهب الى مكتب البريد واشتر لي الطوابع ! /idzhab ila maktab al-barîd wasytari li al-thawâbi‘! (pergilah ke kantor pos dan belikan saya beberapa perangko!)

Aktifitas yang dilakukan tentunya akan menjadikan pembelajar dapat belajar sambil berbuat, karena pembelajar akan merasakan dan mengalami langsung pembelajaran yang dijalani dengan penuh makna dan sesuai dengan dunia nyata yang dihadapi sesungguhnya, bukan diajarkan struktur bahasa yang terlepas dari makna, fungsi dan konteksnya.

3)      Adanya pembelajaran bahasa yang mengajarkan formula-formula sosial dan dialog yang diperlukan orang untuk berkomunikasi, seperti memberi hormat, memberi pujian, dan mengungkapkan perasaan sedih, marah, kecewa, gembira,[8] kagum, setuju, ataupun menjawab ungkapan terima kasih dan sebagainya, yang mana formula-formula tersebut tidak hanya dengan satu bentuk namun beragam, contoh: untuk menjawab pertanyaan كيف حالك ؟/kaifa hâluk? (bagaimana kabarmu?), bisa dengan sejumlah pola jawaban antara lain: بخير/bikhair , الحمدلله / alhamdulillah, لا بأس /la ba’s, (ketiganya berarti baik-baik saja), أفضل منك/afdhal mink (lebih baik),لست علي مايرام/lastu ala mâ yurâm (keadaanku kurang baik),[9] atau untuk mengungkapkan rasa kagum ataupun senang bisa dengan pola : ما أجمل هذه المناظر/mâ ajmal hâdzihi al-manâzhir (alangkah indahnya pemandangan ini), يالها من جوهرة ثمينة/ya lahâ min jauharah tsamînah (alangkah indahnya berlian ini), كم أنت طويل/kam anta thawîl (betapa tingginya kamu), dan كم أنا سعيد بالعودة الي البيت/kam ana sa’îd bi al-’audah ila al-bayt (betapa senangnya aku pulang ke rumah), atau untuk mengungkapkan kesetujuan bisa menggunakan pola: فعلا/ fi’lan (memang begitu), أنت علي حق/anta ala haqqin, أنت علي صواب/anta ’ala shawâb (keduanya berarti: anda benar).[10] Beragam pola dan fungsi bahasa yang digunakan dalam aktifitas komunikasi inilah yang dikatakan sebagai kebermaknaan dalam pendekatan komunikatif.

4)      Adanya pemberian tugas kepada pembelajar untuk bermain peran (القيام بالأدوار) dengan dialog-dialog yang sederhana, yang merupakan perwujudan aktifitas interaksi sosial[11] di kalangan para pembelajar. Masing-masing pembelajar bisa berperan sebagai siapa saja sesuai dengan kemampuannya. Berikut contoh dialog antara Rusydî dan Nabîl yang bisa diperankan oleh para pembelajar sambil mempelajari pola-pola ungkapan sesuai fungsi-fungsi komunikasi dalam interaksi sosial pembelajar, contohnya dialog berikut dengan judul “تعارف“:

Tabel 1.2. Contoh dialog untuk bermain peran.

 

: السلام عليكم

رشدي

: وعليكم السلام

نبيل

: اسمي رشدي ، وانت ما اسمك؟

رشدي

: أنا نبيل ، أهلا يا رشدي

نبيل

: أنا سعيد بمعرفتك

رشدي

: فرصة سعيدة ، من أين أنت؟

نبيل

: أنا من جاكرتا، ومن أين أنت؟

رشدي

: أنا من مالانج

نبيل

: ماذا تعمل من فضلك؟

رشدي

: أعمل مدرسا و أنت، ما مهنتك؟

نبيل

: أنا صحافي، شكرا والي اللقاء.

رشدي

: الي اللقاء

نبيل

Sumber: Ahmad Fuad Effendy dkk, al-Lughah al-Arabiyyah: Bahasa Arab: Bahasa Komunikasi Internasional (untuk SMA dan MA), (Malang: Misykat ), Cet. II tahun 2005.

 

5)      Adanya tugas-tugas yang berorientasi kepada masyarakat, yaitu aktifitas pembelajar dalam berkomunikasi dengan para penutur asli, seperti mencari informasi apa saja di kedutaan-kedutaan Arab, organisasi-organisasi yang beranggotakan orang-orang Arab, atau kalau hal ini tidak memungkinkan, aktifitas pembelajar bisa dengan alternatif lain yakni aktifitas di luar kelas sebagai pemandu turis-turis asing, penerjemah, studi banding ke sekolah-sekolah yang menerapkan penggunaan bahasa Arab sebagai bahasa wajib di sekolah atau asramanya dan sebagainya.

6)      Adanya aktifitas pembelajaran berbasis masalah, yaitu tugas-tugas untuk memecahkan problem-problem,[12] misalnya sebelum melakukan perjalanan atau ketika berada dalam cuaca yang tidak bersahabat di tengah hutan, guru memberikan kebebasan pembelajar untuk mengungkapkan dengan bahasanya sendiri tentang pentingnya membawa jaket atau mantel dan sebagainya, atau juga tugas untuk menceritakan kembali proses perjalanan mendaki gunung Rinjani dengan bahasa Arab yang disusun oleh pembelajar itu sendiri kemudian dipresentasikan di depan kelas dan sebagainya.    

7)      Adanya pemberian latihan komunikasi oleh guru kepada pembelajar,[13] yakni melatih pembelajar berbicara dengan pemberian contoh kalimat terlebih dahulu, kemudian meminta pembelajar untuk saling bertanya tentang keadaan sebenarnya dari mereka masing-masing. Latihan ini bisa dalam bentuk individual di mana guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada pembelajar umpamanya: ماسم أبيك؟/mâsmu abîk? (siapa nama bapakmu), ماسم أمك؟/masmu ummik? (siapa nama ibumu), هل لك أخ؟/hal laka akh? (apakah kamu memiliki saudara), كم أخا لك؟/kam akhan laka? (berapa saudaramu), كم أخت لك؟/kam ukht laka? (berapa saudarimu), كم عمر أخيك؟/kam umr akhîk? (berapa umur saudaramu) dan sebagainya. Latihan-latihan ini selanjutnya diterapkan berpasangan dan dalam kelompok-kelompok kecil, kemudian masing-masing pembelajar melaporkan hasil percakapannya kepada seluruh pembelajar dengan redaksi bahasanya masing-masing. Latihan ini tidak hanya mengajarkan pola-pola namun tidak terduganya respon yang muncul dari percakapan antar pembelajar menjadikan aktifitas komunikasi tersebut menjadi realistis dan bermakna.

8)      Adanya aktifitas berbahasa berupa debat, diskusi, forum, panel dengan menggunakan bahasa Arab dan sebagainya dengan topik-topik sederhana yang telah ditentukan oleh guru, atau juga simulasi percakapan melalui telepon yang diperagakan oleh para pembelajar guna melatih keterampilan berbicara dengan topik-topik yang telah ditentukan sebelumnya.[14] Pertama-tama guru membagi pembelajar ke dalam beberapa kelompok atau sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas jumlah pembelajar di kelas belajar, kemudian masing-masing kelompok ada yang bertindak sebagai kelompok pendukung (مؤيد) dan ada kelompok penentang (معارض) terhadap topik yang diperdebatkan, sedangkan guru langsung bertindak sebagai juri. Adapun contoh topik-topik yang bisa dijadikan bahan debat antara lain pada tabel berikut ini:

Tabel 2.2. Contoh bahan diskusi atau debat

 

Bahan Diskusi atau Debat

 تعليم مادة الحديث أصعب من تعليم مادة الفقه

1

مدرس اللغة العربية الأضيل أفضل من مدرس اللغة العربية المحلي

2

 تعلم العربية داخل البلاد أفضل من تعلم العربية خارج البلاد

3

مطالعة الدروس في الصباح أفضل من مطالعة الدروس في المساء

4

الزواج المبكر أفضل من الزاج المتأخر

5

Sumber: Bahan debat pada kuliah pembinaan bagi mahasiswa Pascasarjana non Reguler Jurusan Pendidikan Bahasa Arab angkatan 2006 UIN Syarif Hidayatulah, dalam rentang bulan Maret-Mei 2006-2007.  

Sedangkan contoh materi yang bisa dijadikan simulasi percakapan telepon bagi para pembelajar seperti pada tabel berikut ini, yakni percakapan yang dilakukan oleh tiga orang yaitu Nûr, Ishâm dan Tareq:

Tabel 3.2. Bahan simulasi percakapan telepon

 

Bahan Simulasi Percakapan Telepon

!ألو :

نور

صباح الخير يانور :

عصام

عصام !كيف حالك؟ :

نور

بخير. الحمد لله،وأنت؟ :

عصام

الحمد لله. أين أنت؟ :

نور

أنا في المدينة المنورة، في الفندوق :

عصام

ممتاز!…هاهو طارق. :

نور

بابا! :

طارق

كيف الحال يا طارق؟ :

عصام

أنا بخير. هل المدينة المنورة هي مدينة الرسول؟  :

طارق

نعم. أنت تلميذ جيد يا طارق. :

عصام

شكرا يا بابا… :     

طارق

Sumber: Bahige Mulla Huech dan Team, Tareq: Skrip Video dan Audio Bahasa Arab Berikut Petunjuk Jawabannya, (Spanyol: Didaco, SA. 2003), h. 2

Dalam materi diskusi (debat) maupun percakapan telepon di atas, nampak bahwa kebermaknaan dalam pembelajaran bahasa komunikatif bisa dilakukan dengan latihan memperagakan, namun tidak terbatas pada pola-pola yang dihafalkan saja, tetapi untuk menemukan fungsi-fungsi bahasa seperti bagaimana bertanya dan menjawab pertanyaan dengan benar tentang “mengucapkan salam, menanyakan kabar, tempat, keadaan, atau ungkapan penghargaan kepada orang lain dan sebagainya“ yang sesuai dengan konteks kebahasaan yang sesungguhnya yang bisa berguna nantinya jika terjadi pada percakapan yang sesungguhnya.

Seorang guru dalam menyusun materi pelajaran tidak hanya sistematis dan praktis bagi pembentukan suatu kebiasaan dengan latihan-latihan, tetapi juga penggunaan bahasa dengan penuh kebermaknaan dalam aktifitas berkomunikasi sebagaimana bahasa yang digunakan oleh penutur asli (الناطق الأصلي),[15] namun perlu diingat bahwa pendekatan komunikatif tidak mengajarkan tuturan bahasa persis seperti penutur asli mengucapkan, namun aktifitas komunikasi yang dijalankan jika sudah bisa dipahami bersama baik pembicara maupun pendengar dengan konteks situasi yang mengitarinya, maka hal itu juga merupakan makna ’kebermaknaan’. Jadi, dalam pendekatan komunikatif mempelajari kebermaknaan suatu ujaran atau tulisan lebih diutamakan dari pada mempelajari struktur-struktur bahasa yang tidak selalu mengandung kebermaknaan.

 

b)      Kontekstualisasi Pembelajaran Bahasa Arab

Kata kontekstual berasal dari bahasa Inggris yang alam bahasa Latinnya terdiri dari kata con = with dan textum =woven. Contextual berarti mengikuti konteks atau dalam konteks. Kata context berarti situasi dan kejadian.[16] Kontekstual merupakan konsep pembelajaran yang membantu guru untuk menghubungkan materi pelajaran dengan situasi dunia nyata dan mendorong pembelajar untuk menciptakan hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat.[17]

Pembelajaran kontekstual bermula dari pandangan ahli pendidikan klasik John Dewey yang pada tahun 1916 mengajukan kurikulum dan metodologi pengajaran yang berhubungan dengan pengalaman dan minat pembelajar. Filosofi pembelajaran kontekstual berasal dari paham progresivisme John Dewey. Intinya pembelajar akan belajar dengan baik apabila apa yang mereka pelajari berhubungan dengan apa yang telah mereka ketahui, serta proses belajar akan produktif jika pembelajar terlibat aktif dalam proses belajar di sekolah.[18] Dalam hal ini, pembelajaran bahasa yang kontekstual bercirikan pelibatan pembelajar secara aktif dan penyajian materi ajar yang sesuai dengan kehidupan sehari-hari pembelajar, sehingga diharapkan pembelajar dapat mengkonstruk sendiri pengetahuan dan keterampilan bahasanya secara mandiri.

Dalam kaitannya dengan pendekatan komunikatif, posisi kata dan kalimat atau ungkapan yang digunakan tidak terlepas dari konteks kebahasaan yang mengitarinya, entah terkait dengan konteks situasi maupun budaya di mana bahasa tersebut digunakan, karena menurut Hymes, bahasa adalah lebih dari sekedar mempersoalkan kegramatikalan, yang justru lebih penting adalah pertimbangan kecocokan penggunaan suatu tuturan pada konteks sosiokulturalnya.[19]

Konteks turut menentukan arti suatu kata, sehingga kontekstualisasi sangat diperlukan untuk menentukan dan memperjelas arti suatu kata atau kalimat. Konteks ialah keadaan atau situasi di mana suatu peristiwa terjadi. Lebih jelas lagi konteks ialah kata atau kalimat lain yang ada sebelum atau sesudah suatu kata atau kalimat, yang berfungsi membantu memperjelas arti suatu kata atau kalimat tersebut.[20] Senada dengan hal tersebut, ada yang berpendapat bahwa konteks dalam ujaran adalah bentuk-bentuk kalimat atau kata dalam ungkapan atau pembicaraan yang saling berkaitan, diawali atau diakhiri oleh kata-kata lain dan bisa membantu memberikan arti tersebut dengan jelas.[21]

Semua pemakaian bahasa mempunyai konteks. Konteks yang terdiri dari lingkungan langsung di mana teks tersebut benar-benar berfungsi disebut sebagai konteks situasi. Sementara konteks yang terdiri dari latar belakang kelembagaan dan ideologis yang memberi nilai pada teks dan mendayakan penafsirannya disebut konteks budaya.[22] Jadi, suatu kata atau kalimat dapat memperjelas makna kata atau kalimat lainnya jika kata atau kalimat tersebut digunakan dalam situasi tertentu atau menerangkan suatu situasi karena situasi tersebut dapat menentukan arti suatu bentuk kata atau kalimat tersebut.

Dalam kajian tentang makna kata, arti kata akan sangat terikat oleh konteks yang melingkupinya, menurut Wittgenstein yang dikutip oleh Matsna menegaskan bahwa makna suatu kata dipengaruhi oleh empat konteks yaitu: a) Kebahasaan, b) Emosional, c) Situasi dan kondisi, dan d) Sosio-kultural.[23]

Konteks kebahasaan berkaitan dengan struktur kata dalam kalimat yang dapat menentukan makna yang berbeda, seperti taqdîm (posisi didahulukan) dan ta’khîr (posisi diakhirkan), contoh: “أحمد أتم قراءة الكتاب” /Ahmad atamma qirâ’at al-kitâb (Ahmad telah selesai membaca kitab) berbeda dengan “قراءة الكتاب أتمها أحمد”/qirâat al-kitâb atammaha Ahmad (Membaca kitab telah diselesaikan oleh Ahmad). Contoh yang lain seperti kata حبل / habl dalam al-Qur’an 1) QS. Ali Imran ayat 103 “ وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا“ / wa‘tashimû bihablillahi jamî‘a walâ tafarraqû. 2) QS: Qaf ayat 6: وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ / wanahnu aqrabu ilaihi min habli al-warîd. 3) QS. al-Masad فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ / fî jîdihâ hablun min masad. Contoh 1 berarti perjanjian, contoh 2 berarti tali leher (tenggorokan) sedangkan contoh 3 berarti tali dari sabut.[24]

Konteks emosional dapat menentukan makna bentuk kata dan strukturnya dari segi kuat dan lemahnya muatan emosional, seperti dua kata yang berarti “membunuh”, yaitu اغتال dan قتل, yang pertama digunakan dalam pengertian membunuh orang yang mempunya kedudukan sosial yang tinggi dan dengan motif politis, sedangkan yang kedua berarti membunuh secara membabi buta dan ditujukan kepada orang yang tidak memiliki kedudukan sosial yang tinggi.

Konteks situasi ialah situasi eksternal yang membuat suatu kata berubah maknanya karena perubahan situasi yang mengitarinya. Contoh: kata ذَهَبَ memiliki arti yang beragam sesuai dengan konteks penggunaannya. ذهب خالد إلى جاكرتا (Khalid pergi ke Jakarta; konteks situasinya yakni ada kata جاكرتا yang mengikat kata  ذهب harus diartikan ‘pergi’); berbeda denganذهب الامام الشافعى إلى أن لمس المرأة مبطل الوضوء (Imam Syafi’i berpendapat bahwa bersentuhan dengan wanita bisa membatalkan wudhu; konteksnya yakni adanya kalimat أن لمس المرأة مبطل الوضوء yang mengikat kata ذهب mesti diartikan ‘berpendapat’).

Adapun konteks sosio-kultural ialah nilai-nilai sosial dan kultural yang mengitari kata yang menjadikannya mempunyai makna yang berbeda dari makna leksikalnya (kamus). Makna yang demikian dapat dijumpai dalam pribahasa: “بلغ السيل الزبا” maknanya adalah “Nasi telah menjadi bubur”, bukan “air bah telah mencapai tempat tinggi”. Selain itu, peribahasa “قبل الرماء تملأ الكنائن /qabla al-rimâ’i tumla’u al-kanâ’in (sebelum memanah, penuhi dulu tempat anak panahmu), di Indonesia, pribahasa ini sama maknanya atau diartikan dengan pribahasa “sedia payung sebelum hujan”. Latar belakang sosial budaya orang Arab dahulu adalah sering mengadakan perang, maka mereka mengatakan pribahasa seperti itu. Sedangakn bangsa kita sering mengalami musim hujan, maka kita menggunakan pribahasa itu.[25] Jadi, pengetahuan tentang konteks sosio-kultural pemilik bahasa yang dipelajari sangat penting, karena dengan pengetahuan tersebut diharapkan dapat lebih cepat memahami pengertian dari ungkapan-ungkapan, istilah-istilah dan benda-benda yang khas bagi bahasa Arab serta mampu menggunakan ungkapan-ungkapan tersebut pada situasi dan waktu yang tepat.   

Dalam analisis komunikatif, kontekslah yang menjadi pijakan utama, yang termasuk dalam kategori konteks antara lain ihwal siapa yang mengatakan, kepada siapa dikatakan, tempat dan waktu diujarkan, kemudian anggapan-anggapan mengenai yang terlibat di dalam tindakan mengutarakan kalimat tersebut. Dalam hal ini, ada dua hal yang ditangani analisis komunikatif yaitu 1) suatu satuan lingual atau kalimat dapat dipakai untuk mengungkapkan sejumlah fungsi dalam komunikasi; 2) suatu fungsi komunikatif tertentu dapat diungkapkan dengan sejumlah satuan lingual.[26]

Contoh 1): satuan lingual الساعة السابعة إلا الربع (kalimat deklaratif) dapat digunakan untuk mengungkapkan sejumlah fungsi di dalam komunikasi. Salah satunya, kalimat itu dapat berupa jawaban (yang informatif) terhadap pertanyaan كم الساعة الآن؟”. Selain itu, dengan struktur yang sama juga bisa menunjukkan fungsi komunikatif yang lain contoh jika kalimat itu, diucapkan oleh seorang ibu yang mengelola rumah pondokan mahasiswi dan diarahkan ke mahasiswa yang sedang bertamu menemuai mahasiswi yang mondok di tempat tersebut, maka kalimat itu dapat diartikan sebagai perintah pengusiran secara tidak langsung. Jadi, fungsi komunikatif tidak terbatas pada deklaratif dan informatif saja tetapi juga bisa digunakan untuk menyatakan perintah (imperatif).

Sedangkan contoh ihwal 2) yakni suatu fungsi komunikatif tertentu dapat diuraikan dengan berbagai cara, sekurang-kurangnya ada empat macam satuan lingual yang dapat digunakan untuk menyatakan perintah “إقفال الباب” antara lain:

1.      أقفل الباب !  / Aqfil al-bâb ! (Tutuplah pintu itu!)

2.      هل تفضلت باءقفال الباب ؟ /hal tafadhdhalta bi iqfâl al-bâb?(Maukah anda menutup pintu itu?)

3.      مارأيك لو تجنبنا التيار البارد؟ /mâ ra’yuk law tajannabnâ al-tayyâr al-bârid (Apa pendapat anda jikalau kita terhindar dari hawa yang dingin?)

4.      الجو بارد جدا في هذه الغرفة. / al-jawwu bârid jiddan fî hâzihi al-gurfah (Udara sangat dingin di ruangan ini).[27]

Jadi, fungsi komunikatif dapat diungkapkan dengan konstruksi imperatif (1), konstruksi introgatif (2 , 3), dan konstruksi deklaratif (4), tapi tentunya dengan memperhatikan dukungan konteks yang mengitarinya sehingga saling pengertian antara pembicara dan pendengar dapat terwujud. Pengertian dalam berkomunikasi, akan jelas jika ungkapan-ungkapan di dalamnya saling mendukung memperjelas apa yang menjadi tujuan dalam berkomunikasi (kontekstualisasi). Tujuan dalam berkomunikasi, akan lebih jelas lagi jika bahasa yang digunakan sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh bahasa tersebut (situalisasi).

 

c)      Pembelajaran yang Berpusat pada Pembelajar

Breen dan Candlin yang dikutip oleh Richards dan Rodgers mengemukakan, guru paling tidak memiliki dua peran penting dalam pembelajaran bahasa dengan pendekatan komunikatif yaitu a) Memfasilitasi proses komunikasi antara seluruh peserta yang ada di kelas, dan antara seluruh peserta dengan sejumlah aktifitas dan teks. b) Bertindak sebagai peserta independen di dalam kelompok belajar-mengajar. atau peran yang diasumsikan untuk guru yaitu analis kebutuhan, konsultan dan manajer dalam kelompok belajar-mengajar. [28]

Demikian juga dengan pembelajar, ia memiliki peranan yang cukup signifikan dalam pembelajaran bahasa Arab berpendekatan komunikatif, karena pembelajar merupakan poros pembelajaran pada pendekatan ini. Fungsi-fungsi bahasa komunikatif yang dipilih oleh seorang guru dan materi yang dipersiapkan hendaknya muncul dari aspirasi dan kebutuhan pembelajar dan diwujudkan melalui tujuan-tujuan komunikatif. Partisipasi pembelajar dalam percakapan-percakapan komunikatif di dalam kelas hendaknya bermakna dan kontekstual karena akan digunakan dalam lingkungan masyarakat umum.[29]

Pendekatan komunikatif menyajikan pembelajaran yang berpusat pada pembelajar, yaitu cara berfikir tentang proses belajar-mengajar yang menekankan pada tanggung jawab pembelajar itu sendiri terhadap sejumlah aktifitas pembelajaran seperti perencanaan, interaksi antara guru dan sesama pembelajar, penelitian dan penilaian.[30] Pembelajar menjadi sosok yang konstruktifistik terhadap pengetahuannya sendiri berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya dan bukan pengetahuan yang diberikan utuh oleh guru dengan verbalisme yang berlebihan. Pembelajar bukanlah bank (meminjam istilah Paolo Freire)[31] yang hanya menunggu dan menerima begitu saja setoran berupa pelajaran-pelajaran tanpa melalui analisis kebutuhan pembelajar terlebih dahulu.

Menjadi sebuah tanggung jawab bagi guru untuk menganalisis kebutuhan pembelajarnya dalam pembelajaran bahasa. Hal ini bisa dilakukan secara informal dan pribadi yaitu satu persatu bersama para pembelajarnya ataupun formal dengan sejumlah tes yang berisi item-item pertanyaan bagi pembelajar. Analisis ini diarahkan untuk mengetahui persepsi pembelajar tentang gaya belajarnya, pengetahuan yang dimilikinya, dan tujuan belajarnya. Dari itu, guru diharapkan membuat perencanaan pembelajaran baik secara kelompok atau individu yang bisa memberikan respon terhadap analisis kebutuhan pembelajar. Setelah itu, dapat disusun materi-materi pembelajaran bahasa Arab yang seperti apa dan bagaimana mengajarkannya kepada pembelajar agar sesuai dengan kebutuhan berbahasa pembelajar.

Dalam penyusunan bahan atau materi pelajaran dalam pendekatan audiolingual lebih berorientasi kepada semata-mata prinsip kompleksitas ahli bahasa yaitu menyajikan butir-butir tata bahasa atas dasar kesulitannya, diurut mana yang lebih sederhana, yang mana yang lebih lazim dan yang lebih mudah untuk dipelajari. Hal ini sesuai dengan teor belajar behaviorisme yang mengedepankan suatu perilaku akan menjadi kebiasaan apabila diulang-ulang dan dimulai dengan tahap yang paling sederhana lalu ke yang sukar.[32] Sedangkan dalam pendekatan komunikatif, pengurutan dalam penyajian materi atau bahan pelajaran didasarkan pada pertimbangan isi, fungsi dan minat pembelajar yang tersaji melalui analisis kebutuhan pembelajar. Jadi, untuk menentukan bahan mana yang akan diajarkan kepada pembelajar dalam penyusunan bahan pelajaran, tentu didasarkan kepada pertimbangan akan kemampuan komunikatif yang bagaimanakah yang diperlukan oleh pembelajar. Yang dilakukan adalah kemudian menentukan tujuan akhir atau tujuan sementara yang ingin dicapai oleh pembelajar, dan bukan menentukan bahan pelajaran ke dalam urutan: dasar-madya-lanjut. [33]

Pengurutan ini didasarkan pada teori belajar kognitif yakni mengedepankan keaktifan pembelajar dalam proses pembelajaran. Lingkungan bukanlah penentu awal dan akhir positif dan negatifnya hasil pembelajaran. Ketika seseorang menerima setimulus dari lingkungannya, dia melakukan pemilihan sesuai dengan minat dan keperluannya, menginterpretasikannya, menghubungkannya dengan pegalalamannya terdahulu, baru kemudian memilih alternatif respon yang paling sesuai.[34] Jadi, pengurutan materi ajar jelas bukan berdasarkan konsep dari mudah ke sulit, tapi disesuaikan dengan kebutuhan pembelajar, yakni fungsi komunikasi apa yang diinginkan untuk dikuasai oleh pembelajar, maka itu yang diajarkan.

Adapun fungsi-fungsi bahasa yang perlu diketahui oleh pembelajar antara lain seperti yang dikemukakan oleh Halliday yang dikutip oleh Tarigan yaitu a) fungsi instrumental; menyatakan keperluan atau pelayanan. Contoh: “Saya mau….”, “Beri saya……” b) Fungsi regulasi; menyatakan perintah atau permintaaan untuk mengawasi perilaku atau tindak-tanduk orang lain. Contoh: kerjakan itu! Mari kita pergi. c) Fungsi interaksional; bahasa digunakan untuk berinteraksi, untuk bergaul: menyapa, memanggil Nama, memberi reaksi atau responsi terhadap orang lain. Contoh: “Saya dan kamu…..”, “Lihat sini….”, “Ini buat kamu….”, d) fungsi personal; bahasa digunakan untuk mengekspresikan kekhasan, keunikan dan kesadaran diri sendiri seperti perasaan pribadi, minat, kebencian, keluhan, rasa heran dan gembira, contoh: “Saya akan pergi….”, “saya sangat…”, e) fungsi heuristik; bahasa yang digunakan untuk bertanya dan menjawab pertanyaan. Contoh: “Katakan kepada saya mengapa…?”, “Apa ini?”, “Siapa itu?” f) fungsi imajinatif; bahasa yang digunakan seseorang untuk menciptakan lingkungan sendiri, membuat cerita, beramain. g) Fungsi informatif; bahasa yang digunakan untuk memberikan informasi yang belum diketahui oleh orang lain. Contoh: “Ada yang akan saya ceritakan kepadamu”. “Saya punya….baru.”[35]          

Dengan mengetahui fungsi-fungsi bahasa, guru tentunya akan lebih memahami fungsi-fungsi bahasa seperti apa yang akan diajarkan kepada pembelajarnya, hal ini kemudian akan berimbas kepada penyusunan dan prosedur penyajian materi pembelajaran bahasa kepada pembelajar. Dalam pendekatan komunikatif, materi ajar disajikan dengan prosedur yang beragam, salah satunya bisa dengan pola yang ditawarkan oleh Finochiaro dan Brumfit yaitu Dialog pendek disajikan dengan didahului penjelasan tentang fungsi-fungsi ungkapan dalam dialog itu dan situasi di mana dialog itu mungkin terjadi. Setelah itu latihan mengucapkan kalimat-kalimat pokok secara perorangan, kelompok atau klasikal.

Langkah berikutnya yakni pertanyaan diajukan tentang isi dan situasi dalam dialog itu, dilanjutkan pertanyaan serupa tetapi langsung mengenai situasi masing-masing pembelajar. Di sini kegiatan komunikatif yang sebenarnya telah dimulai. Lalu kelas membahas ungkapan-ungkapan komunikatif dialog tersebut dan pembelajar diharapkan dapat menarik sendiri kesimpulan tentang aturan tata bahasa yang termuat dalam dialog. Setelah itu, guru memfasilitasi dan meluruskan apabila terjadi kesalahan dan penyimpulan kemudian pembelajar melakukan kegiatan menfasirkan dan menyatakan suatu maksud sebagai bagian dari latihan komunikasi yang lebih bebas dan sepenuhnya tidak berstruktur. Kemudian langkah terakhir yaitu guru melakukan evaluasi dengan mengambil sampel dari penampilan pembelajar dalam kegiatan komunikasi bebas.[36]

Demikian penjelasan mengenai tiga prinsip pendekatan komunikatif yang terdiri dari kebermaknaan dalam setiap aktifitas berbahasa, kontektualisasi dalam pembelajaran bahasa (Arab) dan pembelajaran yang berpusat pada pembelajar. Ketiganya digunakan sebagai parameter untuk menganalisis sejumlah materi bahan ajar Tareq dan menyimpulkan sejauhmana bahan ajar ini mengadopsi pendekatan komunikatif di dalam pembelajarannya.



[1] Jack C. Richards dan Rodgers S. Theodore, Approach and Methodes, h. 67-68

[2] Lihat Jack C Richards dan Theodore S Rodgers, Approaches and Methods, h. 72. Lihat juga Ahmad Fuad Effendy, Metodologi Pengajaran,  h. 55.

[3] Jenice Yalden, The Communicative Syllabus: Evolution, Design & Implementation, (Oxford: Pergamon Press, 1985), h. 33

[4] Mary Finochiaro dan Michael Bonomo, The Foreign Language Learner: A Guide for Teachers (New York: Regents Publishing Company, Inc. 1973), h. 3

[5] Lihat Rusydî Ahmad Thu‘aimah dalam Ta‘lîm al-Lughah Lighair al-Nâthiqîna Biha, h. 122. Lihat juga  Sri Utari Subyakto Nababan, Metodologi Pengajaran, h. 70-71.

[6] Sri Utari Subyakto Nababan, Metodologi Pengajaran, h. 70. lihat juga Rusydi Ahmad Thu‘aimah dalam Ta‘lîm al-Lughah, h. 122.

[7] Lihat Abdul Chaer dan Leoni Agustina, Sosiolinguistik: Perkenalan Awal, (Jakarta, Rineka Cipta, 2004) cet. II. 14-15. Lihat juga Sri Utari Subyakto Nababan, Metodologi Pengajaran, h. 70-71.  

[8] Sri Utari Subyakto Nababan, Metodologi Pengajaran, h. 178

[9] Rusydi Ahmad Thu‘aimah dalam Ta‘lîm al-Lughah, h. 123

[10] Bahige Mulla Huech dan Team, Tareq : Skrip Video dan Audio Bahasa Arab Berikut Petunjuk Jawabannya, (Spanyol: Didaco. S.A, 2003), h. 14

[11] Lihat Jack C Richards dan Theodore S Rodgers, Approaches and Methods, h. 76  

[12] Sri Utari Subyakto Nababan, Metodologi Pengajaran, h. 177-178

[13] Lihat Ahmad Fuad Effendy, Metodologi Pengajaran,  h. 96

[14] Lihat Jack C Richards dan Theodore S Rodgers, Approaches and Methods, h. 76. Lihat juga Sri Utari Subyakto Nababan, Metodologi Pengajaran, h. 180.

[15] Mary Finochiaro dan Michael Bonomo, The Foreign Language Learner, h. 24

[16] Diakses dari http://www.tutorcom.my/lada/tourism/edu-kontekstual/hlm. tanggal 20 juli 2008 jam 19.30 wib

[17] Alan Blanchard, Contextual Teaching and Learning. http://www.horizonshelpr.org. Diakses pada tanggal 15 Juli 2008 jam 13.00 wib.   

[18] Nurhadi, dkk. Kontekstual dan penerapannya dalam KBK, (Malang: UM Press, 2003), h. 8.

[19] Lihat Bambang Kaswanti Purwo, Pragmatik dan Pengajaran Bahasa, h. 49

[20] Hornby, A.S., Oxford Advanced Learner’s Dictionary Of Current English (Oxford: Oxford University Press, 1980), h. 184.

[21] Mary Finochiaro dan Michael Bonomo, The Foreign Language Learner, h. 24. Lihat juga S.C. Dik dan J.G. Kooij, “Ilmu Bahasa Umum, (terj.), (Jakarta: RUL, 1994), h. 24.

[22] M.A.K. Halliday dan Ruqaiya Hasan, Bahasa, Konteks dan Teks: Aspek-Aspek Bahasa dalam Pandangan Semiotik Sosial, penerjemah Asruddin Barori Tau, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1992), 62-63. Bandingkan dengan Mary Finochiaro dan Michael Bonomo., The Foreign Language Learner, h. 282, menyatakan bahwa konteks situasi adalah hubungan antara unsur-unsur, peristiwa atau benda-benda yang ada disekitarnya dengan bahasa yang digunakan untuk memaparkan unsur-unsur, peristiwa atau benda-benda tersebut.

[23] Moh. Matsna. HS, Orientasi Semantik al-Zamakhsyari: Kajian Makna Ayat-Ayat Kalam  (Jakarta: Anglo Media, 2006) h. 21-22

[24] Nadiyah Tsâbit,  Diakses dari http://www.alwhyyn.net tanggal 21 Juli 2008 jam 14.00 WIB.

[25] Chatibul Umam, ”Problematika Pengajaran Bahasa Arab”, Jurnal al-Turats, No. 8, 1999, h. 11-12

[26] Bambang Kaswanti Purwo, Pragmatik dan Pengajaran Bahasa, h. 14-15.

[27] Hasan Mardhî Hasan, al-Lughah wa al-Tafkîr, (Beirut: Dâr al-Fikr, 1994), h. 88

[28] Lihat Jack C. Richards dan Rodgers S. Theodore, Approaches and Methods, h. 77.

[29] Abd al-Azîz ibn Ibrâhîm al-`Ushailî, Asâsiyyât al-Ta’lîm al-Lughah al-‘Arabiyyah li al-Nâthiqîn bilughât Ukhra,  (Makkah al-Mukarramah: Jâmi’ah Umm al-Qurâ, 2006), h. 363

[30] Cannon R. Guide to Support the Implementation of The Learning and Teaching Plan Year 2000, (ACUE: The University of Adelaide, 2000).

[31] Lihat Greg Dimitriadis dan George Kamberelis, Theory for Education, (New York: Routledge Taylor & Francis Group, 2006), h. 122

[32] Jack C. Richards dan Rodgers S. Theodore, Approaches and Methods, h. 51

[33] Lihat Bambang Kaswanti Purwo, Pragmatik dan Pengajaran Bahasa, h. 59

[34] Ahmad Faud Effendy, Metodologi Pengajaran Bahasa Arab, h. 11

[35] Lihat Henry Guntur Tarigan, Pembelajaran Kompetensi Komunikatif, h. 69-70

[36] M. Finochiaro dan C. Brumfit, the Functional-Notional Approach: from Theory to Parctice. (New York: Oxford University Press, 1983), h. 107-108.


Actions

Information

2 responses

15 09 2008
move14

siapapun yang buka blog ini, terus tidak ngasi komentar, maka saya nyatakan bahwa ini adalah kali pertama dan terakhir membuka blok saya. terima kasih

15 09 2008
move14

siapapun yang buka blog ini, terus tidak ngasi komentar, maka saya nyatakan bahwa ini adalah kali pertama dan terakhir membuka blog saya. terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: